Banjir Terburuk Sejak 2010

By on April 9, 2013 | views: 93
Kawasan Banjir

BALEENDAH (GM) - Banjir yang kini melanda wilayah Bandung Selatan seperti Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Majalaya, Katapang, dan Kutawaringin jauh lebih buruk dibandingkan kejadian serupa tahun 2010. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung memperkirakan, banjir merendam 30.000 rumah dan menyebabkan sekitar 7.000 jiwa terpaksa mengungsi.

Banjir tidak hanya merendam permukiman penduduk, tapi juga memutuskan Jalan Raya Banjaran, Jalan Raya Dayeuhkolot, dan Jalan Raya Bojongsoang. Akses jalan masuk ke Dayeuhkolot nyaris lumpuh karena banjir sudah menyergap di Jalan Raya Dayeuhkolot, begitu pun akses dari Baleendah lumpuh karena terendam banjir setinggi hampir 50 cm.

Tempat pengungsian yang selalu digunakan untuk mengungsi seperti GOR Andini dan Mapolsek Dayeuhkolot, kali ini ikut terendam banjir. Di GOR Andini ketinggian air setinggi lutut orang dewasa. Para pengungsi sebagian ditempatkan di masjid, gereja, kantor kecamatan, dan sebagian kecil memilih mengungsi di truk milik Zipur 3 Dayeuhkolot.

Kepala BPBD Kabupaten Bandung Marlan membenarkan, banjir yang terjadi Sabtu malam hingga Senin siang, lebih parah dibandingkan tahun 2010. Genangan banjir yang biasanya hanya sampai Desa Bojongsoang, dan Bojongsari, sekarang sampai ke Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang.

“Banjir tahun ini lebih parah dibandingkan tahun 2010 yang ketika itu juga merendam ribuan rumah. Namun masih di bawah 2008 yang ketika itu sampai memutuskan Jln. Bojongsoang-Buahbatu. Mengenai besaran kerugian masih dalam perhitungan kami,” kata Marlan di Dayeuhkolot, Senin (8/4).

Diungkapkannya, siklus banjir besar yang melanda wilayah Bandung Selatan rata-rata terjadi dua tahunan. Dalam kurun waktu delapan tahun terakhir BPBD mencatat banjir besar terjadi tahun 2006, 2008, 2010, 2012, dan sekarang 2013.

Dahsyatnya banjir membuat Pemkab Bandung memperpanjang masa tanggap darurat yang harusnya berakhir 6 April, menjadi sampai 13 April. Kebutuhan anggaran untuk masa tanggap darurat sebesar Rp 291 juta.

Masa tanggap darurat lalu diberlakukan sejak 27 Maret sampai 6 April. Selama masa tanggap darurat itu anggaran dari pos dana tak terduga APBD Kabupaten Bandung yang habis dipergunakan sebesar Rp 411 juta.

Untuk mengevakuasi warga korban banjir sebanyak 10 perahu karet milik BPBD, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bandung, PMI, Tagana, Lanud Sulaiman, Kodim 0609, Polres Bandung, dan kecamatan. Perahu karet yang tersisa di BPBD Kabupaten Bandung tinggal tiga buah sementara yang dua bocor sehingga tidak dapat dipergunakan.

Sementara itu, untuk mengurai kemacetan akibat banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot, Polres Bandung mengerahkan 273 anggota satlantas. Genangan air menyebabkan antrean kendaraan baik yang menuju Kota Bandung maupun arah sebaliknya, Kecamatan Banjaran, Soreang, Pangalengan, dan sekitarnya.

Genangan banjir juga menyergap Jln. Andir yang menjadi jalur alternatif dari Baleendah menuju Katapang, Margahayu, dan Soreang. Tinggi air yang mencapai 1 meter menyebabkan jalur tersebut sempat lumpuh.

Kapolres Bandung, AKBP Kemas Ahmad Yamin melalui Kasatlantas AKP Lukman Syarif mengatakan, untuk mengurai kemacetan akibat banjir di Jalan Raya Banjaran dan Jln. Andir arus lalu lintas dialihkan ke sejumlah ruas jalan.

Meluas

Marlan mengatakan, hingga kini pihaknya terus melakukan upaya evakuasi warga yang jadi korban banjir. Ketinggian air bervariasi sekitar 60 sentimeter hingga lebih dari dua meter di beberapa lokasi. Namun yang paling parah, di kawasan Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot yang melanda beberapa desa. Hingga kini, korban banjir mencapai 8.000 jiwa yang harus mengungsi ke lokasi aman.

“Data tersebut masih sementara, karena petugas BPBD dan relawan masih melakukan evakuasi warga korban banjir,” katanya.

Banjir juga membuat ribuan warga mengungsi ke lokasi lebih aman. Di Kecamatan Dayeuhkolot, pengungsi mencapai 3.976 jiwa. Pengungsi tersebar di 20 titik pengungsian, di antaranya kantor Kecamatan Dayeuhkolot, Kantor Desa Citeureup, kantor PLN Rayon Dayeuhkolot, Masjid As-Shofia, dan Gereja Dayeuhkolot.

“Jumlah pengungsi semakin bertambah. Kemungkinan akan terus bertambah, karena ada dari warga di luar Dayeuhkolot mengungsi di sini,” ujar Kepala Seksi Sosial dan Budaya Kecamatan Baleendah, Sri Krisnawati.

Dikatakannya, bertambahnya warga pengungsi di Kecamatan Dayeuhkolot, diperparah dengan terputusnya hampir semua akses ke Dayeuhkolot. Akibatnya, Kecamatan Dayeuhkolot terisolasi. Bantuan pun terpaksa harus diangkut menggunakan perahu karet. Untuk mengantisipasi kebutuhan makanan pengungsi dan korban banjir, akan didirikan dapur umum khusus pengungsi di Kecamatan Dayeuhkolot.

“Sore ini akan didirikan dapur umum, karena kondisinya terisolasi. Bantuan pun terhambat masuk ke Dayeuhkolot, karena akses terputus semua,” katanya.

Di Kecamatan Bojongsoang, secara keseluruhan data yang masuk jumlah warga yang terkena banjir di Desa Bojongsoang mencapai 3.502 jiwa dan Desa Tegalluar 200 jiwa, Desa Bojongsari 1.833 jiwa, totalnya mencapai 5.535 jiwa. Banjir ini, kata Camat Bojongsoang, Yiyin Sodikin merendam Desa Bojongsoang yakni di RW 01, 02, 03, 04, 09, 10, 11, dan RW 19.

“Kalau ditotalkan, banjir ini merendam sekitar 1.000 rumah milik 958 kepala keluarga atau 3.502 jiwa, 134 balita, 67 ibu hamil, dan 114 lansia, serta merendam 228 sekolah, dan tiga tempat ibadah. Itu data dari Desa Bojongsoang, sedangkan dari Desa Bojongsari hingga kini belum menyampaikan laporannya,” ujar Yiyin.

Sementara data sementara dari posko bencana banjir di rusunawa Baleendah, jumlah pengungsi mencapai 2.500 orang. Mereka berasal dari Kp. Cieunteung, Kp. Andir, Kp. Babakan Leuwi Bandung, Gudang Tango, Parunghalang dan Desa Citeureup.

Di Kecamatan Baleendah, ketinggian air 60 cm hingga 2,5 meter, sedangkan jumlah pengungsi di rusunawa dan sekolah bina negara mencapai 1.009 KK atau 3.405 jiwa, lansia 217 jiwa, balita 230 jiwa dan ibu hamil 15 jiwa.

UKM lumpuh

Bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Bandung, membuat aktivitas produksi ratusan pelaku usaha kecil menengah (UKM) di wilayah itu menjadi lumpuh. Disinyalir kerugian yang diderita para pelaku UKM mencapai puluhan miliar rupiah.

Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang Kemitraan dan UMKM, Iwan Gunawan mengatakan, bencana banjir membuat perputaran ekonomi di wilayah tersebut menjadi lumpuh, baik yang bergerak di sektor tekstil, kuliner, kerajinan tangan maupun lainnya. Seperti di Dayeuhkolot, Baleendah, Rancaekek, dan Majalaya.

“Banyak UKM yang lumpuh dengan bencana ini, bahkan jumlahnya pun lebih dari ratusan UKM. Dengan bencana ini mereka tidak lagi bisa berproduksi dan menjalankan usahanya,” jelas Iwan kepada “GM”, Senin (8/4).

Bencana banjir juga membuat perekonomian ritel menjadi terhambat. Seperti diungkapkan Sekertaris Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat, Henri Hendarta. Dikatakannya, akibat banjir tersebut ada sekitar 50 minimarket yang terkena dampaknya.

Selain itu, lanjut Henri, bencana tersebut pun membuat distribusi barang ke minimarket menjadi terhambat. Pasalnya akses jalan pun banyak yang terputus terendam banjir.

sumber: Galamedia

cipzie

Part-time Photographer, Half-Soul in Graphic Design, Digital Media Enthusiast, Social Media Speaker.

Latest posts by cipzie (see all)

Komentar

Komentar