Barongsai Cibadak Siap Beraksi pada Imlek

By on January 21, 2012 | views: 644

SETIAP kali perayaan tahun baru Imlek, selalu diramaikan dengan kesenian tradisional asal Tionghoa, yakni seni barongsai, liong, maupun potehi (wayang cina). Namun dari sekian kesenian tradisional Tionghoa ini, hanya potehi yang kurang terdengar geliatnya di masyarakat Indonesia. Mungkin karena belum diketahui kapan munculnya di Indonesia, sehingga potehi kurang dikenal di Indonesia.

Berbeda dengan potehi, seni barongsai dan liong lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kesenian barongsai dan liong seperti tidak bisa dipisahkan, setiap kali barongsai mentas pasti seni liong pun mentas. Keberadaan seni barongsai dan liong ini cukup menarik perhatian masyarakat pribumi. Bahkan banyak dari masyarakat Indonesia yang mau terlibat dan memainkan kedua kesenian tradisional Cina ini berbaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa. Mereka bahu-membahu mengangkat dan menghidupkan seni barongsai dan liong di Indonesia, setelah puluhan tahun tiarap akibat kebijakan pemerintah Indonesia, saat itu.

Adalah Erik Mintardja seorang keturunan Tionghoa asal Bandung yang juga pengurus Vihara Dharma Ramsi Kota Bandung. Sejak 10 tahun lalu, Erik membina para pemuda dan anak-anak di sekitar Vihara Dharma Ramsi di Jln. Luna, Cibadak Bandung untuk berlatih dan bermain barongsai dan liong. Ketertarikan Erik mengajak anak-anak dan pemuda di sekitar Jln. Luna Bandung ini, karena mereka kurang pendidikan dan berasal dari kalangan masyarakat kurang mampu dan banyak hidup dijalanan.

“Sebelum mengajak mereka, saya meminta izin kepada pengurus vihara. Ternyata pihak vihara mengizinkan saya untuk mengajak anak-anak dan pemuda di sekitar vihara berlatih seni barongsai dan liong,” ujar Erik yang ditemui di Vihara Dharma Ramsi, Rabu lalu.

Oleh Erik, anak-anak dan para pemuda ini diajarkan cara memainkan barongsai, liong maupun memainkan tambur (dau ku), kou lo (gambreng) dan sebagainya setiap seminggu tiga kali. Apa yang dilakukan Erik ini ternyata berdampak positif, sebagian besar anak-anak dan para pemuda di sekitar vihara kini sudah mampu bermain seni barongsai dan liong. Mereka berbaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa dalam berlatih maupun dalam setiap kali pementasan. Kelompok seni barongsai dan liong Vihara Dharma Ramsi ini, selalu mendapat undangan mentas setiap kali perayaan tahun baru imlek di sejumlah wilayah di Indonesia. Apalagi pada puncak perayaan tahun baru imlek atau yang dicegut Cap Go Meh yang jatuh setelah 15 hari setelah perayaan tahun baru Imlek.

“Kami akan melakukan kirab budaya Cap Go Meh tahun ini di Kota Bandung pada 11 Februari 2012 mendatang. Dalam kirab budaya ini, akan terlihat perbauran seni tradisional Indonesia dengan seni tradisional Tionghoa. Kami sudah melakukannya, pada tahun lalu dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat Bandung dan sekitarnya,” paparnya.

Kirab budaya

Erik pun menyebutkan, kirab budaya Cap Go Meh yang mementaskan aneka kesenian tradisional Tionghoa, seperti barongsai dan liong menjadi hal yang ditunggu oleh masyarakat. Selain unik, para pemainnya tidak didominasi oleh kaum masyarakat keturunan Tionghoa saja. “Bahkan grup kesenian di Vihara Dharma Ramsi, sebagian besar pemain seni barongsai dan liong adalah kaum pribumi (masyarakat lokal). Yang keturunan Tionghoa, hanya menjadi pelatih dan menejer saja. Ini membuktikan tidak ada perbedaan diantara kami,” ujarnya.

Perbauran antara masyarakat pribumi dan masyarakat keturunan Tionghoa ini hanya bisa dilakukan melalui budaya, salah satunya oleh seni barongsai dan liong. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad ke-17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.

Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai. Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI.

Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai, liong dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.

Seni barongsai menggambarkan suatu mahluk yang meyerupai singai sebagai prsembahan manusia pada dewa. Dimana manusia tidak punya kuasa dan hanya bisa berserah pada Yang Mahakuasa. Sedangkan liong menggambarkan makhluk perkasa, memperlihatkan semangat jiwa yang besar dalam bangsa ini.

Sedangkan untuk seni tradisional potehi (wayang cina), sekalipun kurang dikenal, namun keberadaannya di Indonesia lumayan cukup lama. Namun sayang, dalang wayang cina ini di Indonesia jumlahnya kurang dari 20 orang. Dari 20 orang dalang atau suhe ini, hanya beberapa orang yang asli keturunan Tionghoa. “Kebanyakan dalang wayang cina atau suhe adalah orang pribumi,” ujarnya.

Cerita yang dimainkan pun biasanya mengenai sejarah kerajaan dan kesatria yang ada di daratan Tiongkok, khususnya daerah Hokian. Adalah Sukar Mujianto yang sejak kecil terus mengembangkan potehi.

Lelaki asli Surabaya ini, sejak kecil meang senang memainkan wayang cina dengan berbagai cerita setiap kali perayaan tahun baru Imlek. Tahun ini, Mujianto akan mentas di Atrium Bandung Super Mall, Sabtu hingga Senin. “Ini merupakan kali pertama manggung di mal di Kota Bandung. Mudah-mudahan bisa menarik perhatian masyarakat Bandung,” ujarnya.

sumber

cipzie

Part-time Photographer, Half-Soul in Graphic Design, Digital Media Enthusiast, Social Media Speaker.

Komentar

Komentar

INFOBDG.COM