Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Selamatkan Seni Tradisi dari Kepunahan

By on January 30, 2013 | views: 173

IMG_2135BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disparbud Jabar) saat ini bukan hanya melakukan upaya pelestarian seni tradisi, tetapi juga melakukan penyelamatan dari kepunahan. Selain melaksanakan program revitalisasi diikuti pewarisan serta rekonstruksi, juga mendaftarkan sejumlah kekayaan seni budaya ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

Hal tersebut disampaikan Kepala Disparbud Jabar, Drs. Nunung Sobari, M.M., mewakili Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan yang berhalangan hadir saat membukaan Festival Jaipongan Jugala Raya (FJJR) 2013, Selasa (29/1/2013) bertempat di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, Jalan Buah Batu Bandung. “Selain senjata Kujang dan alat musik Kendang Sunda, kita (Pemprov Jabar) juga akan mendaftarkan seni Ibing Jaipongan karya Kang Gugum Gumbira Tirasonjaya ke Dirjen HaKI dalam waktu dekat,” ujar Nunung Sobari.

Seperti halnya kesenian angklung dan wayang golek yang sudah didaftarkan dan bahkan mendapat pengakuan daru badan dunia UNESCO, menurut Nunung, seni Ibing Jaipong juga sudah sangat memasyarakat dan diakui baik di dalam maupun luar negeri sebagai kesenian asli Jawa Barat.

jaipong

Penyelenggaraan festival (FJJR 2013) yang baru diselenggarakan untuk pertamakali oleh Jugala dan STSI Bandung serta Disparbu Jabar, menurut Nunung, merupakan kegiatan yang searah dengan program dan kebijakan dari Pemprov Jabar. “Selain pasanggiri (festival) Jaipongan, Pemrov Jabar juga akan menggelar 12 pasanggiri yang diselenggarakan oleh komunitas maupun paguyuban seniman dan budayawan, di antaranya pasanggiri tembang Sunda Anggana Sekar dan Rampak Sekar, seni Reog dan Calung, Keroncong, Drama Basa Sunda dan lainnya,” ujar Nunung, yang berharap ke 12 pasanggiri tersebut mampu memotivasi para pelaku seni budaya tradisi.

Terhadap penyelenggaraan FJJR 2013, Gugum Gumbira Tirasonjaya tidak mampu menahan rasa harunya. “Mudah-mudahan pasanggiri yang didedikasikan untuk istri saya tercinta (Alm. Euis Komariah) bukan hanya diselenggarakan untuk pertamakali dan terakhirkali, tapi akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun, meskipun tidak lagi oleh saya mungki oleh murid-murid saya kelak,” ujar Gugum dengan sudara terbata-bata, saat memberikan sambutan.

Penyelenggaraan FJJR 2013 menurut Gugum merupakan upaya pelurusan terhadap kesenian ibing Jaipong kekinian yang banyak ragamnya. Selain itu FJJR 2013 diharapkan mampu memberi motivasi bagi koreografer tari (Jaipongan) untuk lebih memahami dan memperkuat daya cipta seni trai melalui akar tradisi.

Meski baru pertamakali diselenggarakan dan hanya dibatasi untuk wilayah Priangan, tidak kurang dari 2000 orang lebih calon peserta yang mendaftar FJJR 2013. “Tapi kami pihak penyelenggara menginginkan penyelenggaraan memiliki bobot dan nilai, serta aturan yang jelas, karenanya kami melakukan audisi dan workshop hinggan terjaring lebih dari 200 peserta,” ujar Gugum.
Penyelenggaraan FJJR 2013 yang dimulai Selasa (29/1) dan akan berakhir Sabtu (2/2) mendatang diikuti peserta 32 sanggar dari wilayah Priangan. Peserta terdiri dari 80 orang peserta tunggal anak, 74 orang peserta umum, 16 kelompok rampak anak dan 25 kelompok rampak umum.

Selain memperebutkan tropi, para pemenang FJJR 2013 akan mendapatkan hadiah utama berupa satu unit sepeda motor. Sementara pemenang lainnya akan selain mendapatkan tropi, juga sejumlah alat elektronik, serta piagam dan sertifikat.
Pembukaan FJJR 2013 dibuka dengan tarian Sekar Taji, salah satu tari Jaipongan karya Gugum Gumbira yang pernah ditarikan Alm. Tati Saleh, Ceu Yeti Mamat dan sejumlah penari kenamaan dengan tembangnya “Lindeuk Japati” yang dilantunkan juru tembang Alm. Euis Komariah. Selain itu juga dimeriahkan penampilan penyanyi Rita Tila melantunkan tembang “Oray Welang” dengan gaya khasnya sambil menari Jaipongan. (A-87/A-147)***

pikiran-rakyat.com

Komentar

Komentar

INFOBDG.COM