Kisah Cinta Dua Sedjoli Paruh Baya yang Tidak Bisa Menikah

By on March 13, 2013 | views: 127
maretpin

maret1

Infobdg & Kampus Peduli

Nikahan Massal Gratis Kaum Dhuafa

MARET MERIT

Kisah Cinta Dua Sedjoli Paruh Baya yang tak Bisa Menikah

Jalanan masih diramaikan oleh hiruk-pikuk kendaraan yang menebas remang cahaya. Di pinggiran jalan, banyak ibu, bapak dan remaja-remaja menggendong karung dan berjalan sambil mengambil barang rongsokan yang menjadi devisa utama kehidupan mereka. Sementara itu, anak-anak kecil asyik bermain di gerobak sampah. Senyum dan tawa riangnya tak henti membuat kami bertasbih menyebut asma-Nya. Atas karunia-Nya, masih ada tawa meski malam mewujud kelam.

Di tengah hiruk-pikuk jalanan malam itu, akhirnya kami menemukan sosok yang kami cari; Bu popoh dan Pak Adeng (bukan nama sebenarnya), salah satu pasangan yang akan dinikahkan pada kegiatan Maret Merit session 2. Kami ingat pertemuan pertama dengan Bu Popoh, beliau begitu bahagia mendengar kabar akan diadakannya pernikahan massal. Beliau sangat bersemangat hingga berlari-lari menyeberangi jalan untuk mengambil KTP saat kami menanyakan kartu identitasnya. Malam itu, Bu Popoh mengalirkan semangat baru untuk kami di tengah pencarian kami yang tanpa hasil. Kami pun menyusul Bu Popoh ke tempat beliau biasa tinggal di jalanan Pasar Baru dan dikenalkan pada Pak Adeng.

Pak Adeng dulunya adalah seorang karyawan swasta di sebuah pabrik hingga suatu hari beliau terkena PHK dan hidupnya mulai tak menentu arah karena persaingan semakin ketat sedang usianya kian menua. Beliau pernah menikah sebelumnya dan bercerai dengan istri yang pertama hingga akhirnya bertemu dengan Bu Popoh. Bu Popoh sendiri pernah mengarungi biduk rumah tangga, namun tak seharmonis yang beliau impikan hingga akhirnya beliau pun menemui titik perceraian.

Pertemuan mereka berawal dari kehidupan jalanan. Keduanya adalah pemulung yang mengumpulkan rongsokan dan dijual lagi ke bandar. Bagi mereka, meskipun penghasilannya tak menentu dan terkadang hasil pengumpulan rongsokannya dibeli dengan harga rendah oleh bandar, pekerjaan seperti itu lebih baik dibanding menjadi pengemis. Malam itu, Bu Popoh menceritakan betapa Pak Adeng sudah sangat berjasa bagi kehidupannya. Pak Adeng adalah sosok yang tidak menuntut banyak hal, sebaliknya beliau hadir menjadi pelindung keluarga. Tapi di tengah kebahagiaan itu, Bu Popoh dan Pak Adeng merasa malu. Malu pada masyarakat karena statusnya yang sudah bersama padahal mereka bukan pasangan suami istri. Tapi ya sudahlah, masyarakat bisa dibohongi cukup dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah menikah. Tapi lebih dari itu, Bu Popoh dan Pak Adeng malu terhadap Allah.. Siapa manusia yang mampu membohongi pandangan Allah? Tak ada.. Hingga rasa malu terbentur dengan berbagai keterbatasan sehingga semakin menjauhkannya dengan agama. „Buat shalat aja saya malu,,karena merasa kotor sudah berbuat begini..“ , begitu ungkap beliau.

Cinta itu ibarat bunga yang jika tercerabut dari akar agama, maka hadirnya yang indah perlahan tak lagi bersemi, layu, mati dan membusuk dalam gelimang dosa. Tapi bukan dosa yang sengaja mereka cari, semata hanyalah keterbatasan diri. Kesulitan dalam biaya, rumitnya mengurus administrasi di KUA dan dan status sosial yang mempersulit mereka untuk maju. Tapi cinta di antara mereka membuat mereka tetap membangun komitmen untuk tetap bersama, ada untuk saling melindungi.

Dan Allah Sang Maha Rencana sangat memahami kondisi hamba-Nya. Lewat firman-Nya Allah menyeru :”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian dan orang-orang yang layak menikah dari sahaya kalian yang laki-laki dan perempuan. Jika keadaan mereka faqir, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui“ (An Nur: 32). Dalam ayat itu tersirat bahwa ada salah satu fungsi sosial dari orang muslim untuk menikahkan mereka yang layak untuk menikah. Sudah selayaknya orang-orang seperti Bu Popoh dan Pak Adeng untuk dinikahkan, dibantu untuk menaikkan derajatnya, bukan hanya di depan manusia tapi di hadapan Allah yang Maha Pencipta. Hingga, jika cinta itu ibarat bunga, maka biarlah ia tumbuh dan mengakar dalam tanah keridhaan-Nya..

For information and donation
Farida: 087827924959
Twitter: @kampuspeduli
FB: Kampus Peduli

Rekening Donasi
BNI 6248243664
Mandiri 1300010894791
BCA 7771155344
Semua rekening a.n Mochammad Iqbal

konfirmasi transfer ke Dean (SMS > MaretMerit_nominal_email > kirim ke 085692111381)

Aktivitas Infobdg & Kampus Peduli lainnya, bisa dilihat disini:

Yulia, Bocah 9 Tahun dalam Pasungan » Yulia
Donasi untuk Nenek Tunawisma yang Terlantar » Bi Irah
Hani, Gadis 7 Tahun dengan Berbagai Masalah Kesehatan » Hani

————————————

Fully supported by Infobdg

 

Glenn Sabath

For Event Media Partner & Advertising: contact@infobdg.com

Komentar

Komentar

INFOBDG.COM