Masalah Sampah & Kemacetan yang Meningkat, Seiring Dengan Bertumbuhnya Pariwisata Bandung

By on January 31, 2013 | views: 179
Pasupati - Copy

BANDUNG, infobdg.com – Wisatawan dari luar Bandung mengakui bahwa Kota Kembang memiliki keragaman atraksi wisata. Predikat inipun diakui warga Bandung, sembari menelan pil pahit berupa kemacetan dan sampah sebagai imbasnya.

Dulu, Parijs van Java adalah tempat bagi banyak orang membuat janji dan bertemu, lalu berjalan-jalan dan belanja. Selain sebagai kota fesyen dan gaya hidup, kota ini juga menjadi pusat kegiatan politik, intelektual, kesenian, budaya, dan rekreasi.

Kini, gambarannya masih sama. Kota Bandung terus berkembang senapas dengan identitas yang berhasil dicapainya seabad lalu. Namun, dulu tak ada macet dan tak ada sampah yang menggunung.

Poling independen lewat telepon yang dihelat MNC Media Research pada 10-12 Januari 2013 terhadap 307 responden usia 17-45 tahun ke atas menanyakan “Apakah problem terbesar yang dihadapi Kota Bandung saat ini?” Jawaban responden, yang merupakan warga Bandung, secara berturut-turut, adalah kemacetan (34,5 persen), sampah (31,3 persen), banjir (13,7 persen), infrastruktur jalan (12,1 persen), dan ekonomi (2 persen).

Memang, berdasarkan data Ditlantas Polda Jabar 2012, tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Bandung tergolong terparah dan tersulit dikendalikan. Jumlah kendaraan tumbuh tak terkendali, infrastruktur jalan juga tak memadai secara kuantitas maupun kualitas. Belum lagi pertambahan penduduk yang pesat.

Sebenarnya, kota ini sudah terengah-engah hanya demi menampung aktivitas warganya sendiri, jangankan menampung wisatawan di pekan-pekan liburan. Data BPS 2011 menyebutkan, sekira 30.533.812 kendaraan keluar-masuk Kota Bandung melalui gerbang tol yang membawa lebih dari 4 juta wisatawan. Tak heran bila poling MNC Media Research menempatkan kemacetan sebagai problem terbesar yang dihadapi Kota Bandung, seperti keterangannya yang diterima Okezone, Kamis (31/1/2013).

Bukannya tanpa upaya. Dinas perhubungan darat bekerjasama dengan polisi lalu lintas telah memberlakukan ruas jalur satu arah, rencana pembangunan kereta gantung, operasi zebra pakuan, rencana membangun jalan tol dalam kota baru, dan sebagainya. Namun, upaya ini dianggap tidak dapat membuahkan hasil yang cukup signifikan untuk mengurai kemacetan Kota Bandung.

Bahkan, program 4 in 1 yang baru diujicobakan pekan tak luput dari komentar-komentar pesimis dari masyarakat Kota Bandung. Mereka menganggap kebijakan ini bukan untuk menyelesaikan masalah kemacetan, tapi hanya memindahkan dan memperparah titik-titik kemacetan lainnya di sekitar area 4 in 1.

Sampah tak kalah menjadi masalah pelik. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup berbanding lurus dengan volume sampah. Pesatnya pertumbuhan penduduk dan wisatawan tentu membawa dampak langsung pada membeludaknya volume sampah Kota Kembang.

Berdasarkan data Bapedalda (Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah), Kota Bandung setiap harinya menghasilkan sampah sebanyak 8.418 m3 dan hanya bisa terlayani sekira 65 persen sedangkan sisanya tidak dapat diolah. Sampah terbanyak berasal dari pemukiman, daerah komersil, industri, dan perkantoran.

Sumber: travel.okezone.com

Glenn Sabath

For Event Media Partner & Advertising: contact@infobdg.com

Komentar

Komentar

INFOBDG.COM