BANDUNG, infobdg.com – Keprihatinan akan masa depan kaum milenial yang dewasa ini semakin rawan, merupakan salah satu alasan Gubernur Jawa Barat, Kang Emil, dalam membuat program Jabar Masagi. Jabar Masagi telah resmi diluncurkan pada Rabu (5/12) malam, di Gedung Negara, Kejaksaan, Cirebon. Program tersebut masih merupakan bagian dari 100 hari kerja Emil-UU dalam bidang pendidikan karakter.

Kata “masagi” sendiri merupakan filosofi Sunda yang singkat-padat, tetapi memiliki makna yang mendalam. ”Jelema Masagi” diartikan sebagai orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan.

Kang Emil mengatakan, krisis-krisis yang terjadi terutama pada kaum milenial yang dipandang menghawatirkan harus di respon oleh sebuah gagasan besar, gagasan tersebut tertuang dalam konsep Jabar Masagi. Melalui Jabar Masagi, pihaknya akan menguatkan pondasi generasi milenial di Jawa Barat.

Selain itu, program Jabar Masagi akan menyiapkan manusia-manusia unggul yang memiliki empai nilai, yakni religius (iman), cerdas (ilmu), berkarakter (akhlak), fisik, dan mentalnya (sehat). Emil menjelaskan, selain berkarakter, secara fisik dan mental mayarakat Jawa Barat juga harus sehat.

“Akhirnya malam ini kita bersepakat, manusia unggul Jawa Barat itu punya 4 nilai, yaitu iman, maka anak-anak kita harus religius, kemudian ilmu, anak-anak kita harus cerdas agar bisa bersaing, harus punya akhlak ya, punya karakter, dan anak-anak kita harus secara penampilan fisiknya harus sehat,” papar Emil saat ditemui usai launching Jabar Masagi, Rabu (5/12) malam di Cirebon.

Untuk mencapainya, Emil menambahkan, Jabar Masagi menerjemahkan nilai-nilai budaya yang bisa berdampak pada akhlak sosial yang mengandung kearifan lokal. Seluruh program praktik, baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat yang mampu menumbuhkan generasi muda di Jawa Barat sebagai manusia berbudaya yang memiliki kemampuan untuk bisa belajar merasakan (surti/rasa), belajar memahami (harti/karsa), belajar melakukan (bukti), dan belajar hidup bersama (bakti/dumadi nyata).

“Ada SURTI, belajar merasakan, ada HARTI, belajar mengetahui dan memahami, kemudian ada BUKTI, memparktekan prilakunya secara positif, dan ada BAKTI, mengabdikan kepada masyarakat nilai-nilai tadi dalam kegiatan-kegiatan yang positif menjadi pemimpin di masyarakatnya,” tambahnya.

Menurut Emil, program Jabar Masagi ini merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur. Penerapan nilai-nilai dalam program ini akan terasa tatkala para generasi milenial berinteraksi dengan masyarakat.

“Ini investasi jangka panjang, jadi memang tidak bisa diukur, poinnya adalah semua anak Jawa Barat akan dilatih keempat nilai tadi dalam kesehariannya diluar kurikulum kira-kira begitu,” jelas Emil.

Untuk sementara, kewenangan Jabar Masagi masih pada tingkat SMA-SMK se-Jawa Barat. Namun kedepannya, Emil berharap, program ini bisa meng-cover seluruh tingkat pendidikan dari mulai SD, SMP, sampai SMA. Dengan begitu, generasi hari ini dapat memimpin masa depan dan menciptakan manusia-manusia unggul lahir batin.

Komentar

Total Komentar