Saatnya Makan dan Jajan di Kawasan Kuliner Burangrang

By on March 15, 2013 | views: 1,414
San-Fransisco-the-front

BANDUNG, infobdg.com – MEMASUKI Jalan Burangrang, Kota Bandung, pemandangan berbeda dari jalan-jalan lain yang ada di Kota Bandung langsung terlihat. Di sisi kanan dan kiri jalan ini terdapat kios-kios berjejer dan juga kafe-kafe serta resto-resto. Kawasan ini memang merupakan kawasan kuliner.

“Sekarang ini trennya sedang kuliner. Kebetulan di Jalan Burangrang itu banyak sekali pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan makanan. Kami ingin PKL-PKL itu tertata. Kemudian kami mengajukan ini ke pemerintah kota,” kata Camat Lengkong,  Lusi Susilayani saat ditemui pada Kamis (6/12) siang.

Kawasan kuliner Burangrang ini diresmikan Wali Kota Bandung Dada Rosada 7 Juni 2008. Selama lebih dari empat tahun ini kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Bandung. Lokasinya yang strategis dan dilalui angkutan kota (Elang-Cicadas dan St Hall-Gedebade) membuat kawasan ini mudah dijangkau.

Sebanyak 60 kios PKL dan puluhan pelaku usaha kuliner lainnya seperti kafe dan resto berdiri di sepanjang jalan ini. Dengan berbagai ketentuan yang ada, mereka bisa berdagang tanpa mengganggu aktivitas lainnya.

“Kami tidak mengganggu aktivitas pejalan kaki karena kios kami berlokasi di belakang trotoar. Tidak boleh mengambil areal trotoar,” kata Wahyu, koordinator PKL Kawasan Kuliner Burangrang saat ditemui di kiosnya, Jumat (7/12) siang.

Berbagai jenis kuliner ditawarkan di sini. Mulai dari camilan hingga makanan berat ada. “Ada martabak, gorengan, seafood, pecel lele, sop kaki, nasi timbel, dan masih banyak yang lainnya. Hampir 70 persen masuk kategori makanan berat,” tutur Wahyu.

Sejak pagi hingga malam hari, kawasan ini terus ramai. Ada pedagang yang berjualan pagi hingga sore, ada juga yang berdagang dari sore hingga tengah malam bahkan hingga dini hari. “Dari yang ingin sarapan hingga yang kelaparan tengah malam bisa cari makan di sini,” tambahnya.

Pedagang-pedagang itu kebanyakan memang sudah lama berjualan di sini sebelum adanya penataan. Menurut Wahyu ada yang sudah berjualan nasi timbel selama 11 tahun, ada juga seorang rekannya yang sudah sejak 25 tahun lalu berjualan di kawasan ini. Banyak yang memang sudah lama, banyak juga yang masih baru.

“Khusus untuk yang baru, kami mengimbau untuk tidak berjualan menu makanan yang sama dengan yang sudah ada. Agar variasi makanan  jadi banyak. Tidak itu-itu saja,” tambahnya.

Dengan omzet rata-rata mencapai Rp 30 juta sehari dan bertambah 30 persen pada akhir pekan dan hari libur, tidak aneh rasanya jika banyak daerah yang melihat ini sebagai sebuah potensi dan ingin membuat yang seperti ini di daerahnya.

Setelah dikenal dengan kulinernya, di Jalan Burangrang ini juga mulai tumbuh keramaian.  Beberapa butik sudah terlihat buka di antara tempat-tempat makan yang ada. “Masih akan ada lagi yang buka nanti. Tidak hanya itu. Salon dan spa juga ada,” tambah Lusi. (*)

san frans-horz1
Beberapa Tempat Makan di Jalan Burangrang

Sate Maranggi 77 Ceu Dewi, Ketan Susu 77, Gorengan  & Bajigur Bandrek 77, Nasi Rames Pak Anas, Pujasera & Martabak San Francisco, Batagor Riri, Batagor Athong, Batagor Burangrang, Baso Tahu Saboga, Baso Tahu Putri, Cafe Ngopi Doeloe, Bakso Malang Enggal, Sate Padang Pariaman Mansyur, Warung Jadul, Roti Bakar Si Kumis, Bakso Jai, Bubur Ayam Pelana, Sop Tiga Saudara, Kebab Lovers, Kebab Baba Rafi, Kue Balok, Warung Java, Es Kelapa, Pempek Sari Sanjaya, Pempek Apy Plaju,Serabi Kinca dan Oncom, Seafood , Soto Ceu Yat, Roti Bakar Dwi Lingga, Nasi Goreng Jabrig, Kue Balok Sarang Janda, Pisang Goreng Simanalagi, Restoran Sedep Malem, Bakpao BPI, Open Cafe, Gochi Resto, Kupat Tahu Pak Haji, Gudeg Yogya Ojolali Masakan Mbok Yem, Nasi Pecel Madiun Cak Tembong, Bebek Goreng Jago, Dilia, Asli Kapau, Mr Puencheng.

 

sumber: http://jabar.tribunnews.com

Glenn Sabath

For Event Media Partner & Advertising: contact@infobdg.com

Komentar

Komentar

INFOBDG.COM