BANDUNG, infobdg.com – Balai Besar Tekstil mengadakan acara Business Gathering dan Diseminasi Hasil Litbang 2018, pada Senin (26/11) kemarin.

Acara yang berlangsung di Amartapura Ballroom El Royale Hotel, Bandung, ini membahas tentang dukungan litbang tekstil yang berwawasan lingkungan serta peningkatan wawasan strategi industri hijau yang dapat diadopsi industri TPT (Tekstil dan Produksi Tekstil).

Advertisement

Pembahasan ini menyikapi rekomendasi kebijakan Kementrian Perindustrian RI tentang pengelolaan limbah industri dalam rangka menindaklanjuti terbitnya Perpres No. 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum. Ada sekitar 444 industri TPT terletak di sepanjang DAS Citarum, maka dari itu perlu dilakukan pengawasan dan pembinaan pemangku kepentingan.

Beberapa sektor sedang digenjot oleh pemerintah untuk masuk dalam RIPIN (Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional), tak terkecuali sektor Industri TPT ini yang merupakan Industri Andalan Nasional. Sektor ini juga merupakan salah satu prioritas dalam peta “Making Indonesia 4.0”.

10 prioritas nasional pada UU No. 3 tahun 2014 tentang perindustrian mencangkup pada prinsip industri hijau dan standar berkelanjutan. Gagasan 5 prinsip circular economy yang digunakan Litbang untuk menjaga industri hijau yaitu: reduce, reuse, recycle, recovery, dan rethink.

Prinsip tersebut juga diadopsi untuk menjadi karya tulis ilmiah oleh beberapa Perguruan Tinggi serta Kementerian, dan hasilnya ditampilkan dalam acara ini. Poltek STTT membuat karya ilmiah berjudul, “Efisiensi energi air menggunakan teknologi plasma serta teknologi print kain digital, pemanfaatan limbah bulu ayam sebagai isolator panas.” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuat perancangan sistem ekologi pedesaan.
Unpad membuat analisis daya dukung lingkungan perkotaan sebagai upaya minimalisasi dampak industri terhadap lingkungan. Serta BBT yang membuat program Resource Efficient and Cleaner Production yang menawarkan konsep pemikiran integrasi untuk perbaikan berkelanjutan.

Tidak hanya karya ilmiah, riset juga dilakukan untuk penciptaan produk yang bermutu tinggi dan memiliki fungsi peningkatan kualitas hidup penggunanya baik dari segi kesehatan dan aktivitas personal seperti komposit pembalut luka nanogelatin, tekstil tahan api, tekstil anti UV, tekstil antiseptik, tekstil dengan fitur kontrol temperatur. Balai Besar Tekstil juga turut mengangkat potensi serat-serat alam baru dan terbarukan sebagai upaya subtitusi bahan baku tekstil, diantaranya serat bidur (Calontropis giganthea).

Kolaborasi yang diberi nama triple helix antara Balai Besar Tekstil, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Institute Seni dan Budaya Indonesia, bekerjasama dalam riset di bidang functional textile dan green textile. Ini membuka kesempatan untuk munculnya inovasi solutif permasalahan yang sedang dihadapi, termasuk bersama-sama mempersiapkan konsep circular economy untuk masa depan industri TPT yang berwawasan lingkungan.

Pada acara ini juga perwakilan dari Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian RI, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia turut hadir sebagai narasumber.

Previous articleTempat Baru Nikmati Gelato di Scoop & Skoops
Next articleJuara! Persib U-19 Raih Trofi Liga 1 2018