- Advertisement -

BGST Carita Wargi Bandung: Sosok Yang Selalu Ku Ingat

Berita Lainnya

CARITA, infobdg.com – Sebuah kenangan adalah memori yang selalu tersimpan di dalam pikiran, baik itu kenangan menyenangkan atau menyeramkan. Aku termasuk orang yang mempunyai kenangan yang cukup menyeramkan yang terbawa sedari kecil dan sampai saat ini masih selalu teringat.

Aku tumbuh dewasa dan tinggal di salah satu desa di daerah Kabupaten Bandung. Dulu, aku tinggal bersama Aki dan Nini karena orang tuaku menitipkan aku bersama Aki dan Nini supaya bisa belajar hidup sederhana di Desa. Seperti suasana Desa pada umumnya, di daerahku masih banyak kebun-kebun dan sungai yang berdekatan dengan pemukiman. Salah satu kebun yang selalu kudatangi adalah kebun Aki yang selalu dijadikan tempat bermain bersama teman-teman di sana karena terdapat lahan yang luas yang bisa dijadikan lapangan sepak bola.

Kebun itu pun berdekatan dengan sebuah sungai karena letaknya yang ada di daerah bawah pemukiman, kebetulan pemukiman di sana berada di daerah dataran tinggi, kami warga sana menyebut daerah kebun itu dengan nama “lebak”. Aku tinggal di sana cukup lama, sejak aku kelas 3 SD aku tinggal bersama Aki dan Nini. Bukan hanya karena orang tuaku menitipkanku, tapi aku pun sangat senang tinggal bersama Aki dan Nini. Mereka sangat sayang kepada semua cucunya, termasuk aku, itulah yang menyebabkan aku tidak keberatan dititipkan oleh orang tuaku. Aku bersekolah di sana, belajar mengaji, memukan teman, dan belaja banyak hal di sana. Sampai pada akhirnya aku pun kembali tinggal bersama orang tuaku karena suatu kejadian yang tidak bisa aku lupakan.

3 tahun aku tinggal bersama Aki dan Nini tidak pernah ada kejadian buruk menimpaku, aku hampir menyelesaikan sekolah dasarku. Tadinya aku akan melanjutkan SMP di daerah sana, tapi aku urungkan. Itu karena ada hal traumatis yang aku alami.

Menjelang akhir masa sekolahku, aku mengalami hal mistis yang membuatku sangat takut. Rutinitasku di sana selain sekolah adalah mengaji. Kejadian menyeramkan itu terjadi saat aku pulang ngaji bersama teman-teman. Padahal selama itu aku tidak pernah takut dengan hal begitu dan tidak pernah mengalami hal buruk, tapi suatu ketika aku pulang mengaji bersama temanku. Saat hujan rintik-rintik kami hanya pulang berdua karena keadaan hujan jadi tidak banyak anak yang mengaji. Saat itu sudah jam 9 malam, kita berdua jalan pulang bersamaan karena rumah kita cukup dekat, kita mengobrol dan bercanda seperti biasa yang kita lakukan. Di bawah naungan payung yang sama, kita tertawa dan bercanda. Jalanan dari tempat mengaji melewati beberapa sawah, kebun, rumah warga dan ada beberapa pohon bambu. Namun, kejadian tidak menyenangkan itu dimulai saat temanku berkata sompral, dia berkata kalau di sawah dan bambu itu selalu ada penampakan. Aku yang bukan penakut saat itu hanya ketawa dan malah ikut sompral. Aku bilang “Ah mun aya jurig mah urang baledog weh” yang dalam bahasa Indonesia kalau ada setan kita timpuk aja.

Temanku pun ikut tertawa dan berkata “Emang wani? ah paling oge ngabecir” yang berarti paling juga aku kabur kalo ada. Tidak lama setelah obrolan itu, temanku menunjuk 1 titik di sebelah pohon bambu yang telah kita lewati, dia berbalik arah dan menunjuk kalau di situ ada pocong yang berdiri, aku yang waktu itu sok berani bilang “mana? hayu sampeurkeun” sampai akhirnya kita berbalik arah dan menghampiri ke arah kebun bambu yang kita sudah lewati. Tidak lama kita melangkah, tiba-tiba kita berdua bersamaan bilang “naha aya nu nyelap anjir” yang artinya kenapa ada yang nyempil di sela-sela pohon. Kita berdua saat itu melihat itu, aku yang tidak merasa apapun bilang “ah paling itu mah karung” saat itu kita terus menghampiri karena penasarn, semakin dekat kita dengan tempat itu sosoknya semakin jelas terlihat tidak samar seperti dari kejauhan. Namun, saat sudah semakin dekat, sosok itu kemudian menghilan dan berubah menjadi asap. Sekejap kita langsung teriak “astaghfirullah… astaghfirullah..” sambil berlari kembali ke jalan pulang. Kami pun berlalri ketakutan di sepanjang jalan pulang dengan rintikan hujan gerimis.

Kita sampai melupakan payung yang kita bawa, sendal sudah tidak tau hilang kemana, peci kami yang tertinggal pun kami lupakan karena ketakutan. Sampai pada akhirnya, kami sampai rumah. Lalu, di rumah aku ditanya Aki “Ujang kenapa?” aku pun bercerita bahwa aku melihat sosok pocong di jalan, Aki pun malah tertawa karena dia bilang aku mengarang cerita. Lalu Nini menyuruhku mengganti baju dan beberesih karena pakaianku yang penuh lumpur dikarenakan berlari terbirit-birit.

Aku lalu tidur, seperti biasanya aku tidur di kamar sendirian. Biasanya aku bisa cepat tidur, tapi saat itu karena aku masih tegang dan perasaan bercampur aku tidak bisa memejamkan mataku. Zaman itu, belum ada handphone atau gadget, hiburanku satu-satunya adalah menonton tv. Karena aku tidak bisa tidur, aku kembali ke ruangan tengah untuk menonton tv, niatku menonton acara Smack Down yang selalu tayang setiap jam 10 malam. Teringat, saat itu malam Jumat. Aku mencoba memindahkan channel tv karena aku tidak mau menonton iklan. Sampai akhirnya, tidak tau kenapa aku berhenti di acara tv horor. Kalau kalian adalah anak yang lahir di 90’an pasti tau acara KISMIS (kisah-kisah misteri) yang tayang di RCTI. Saat itu akupun tidak tau kenapa aku menontonnya. Entah kebetulan atau apa, saat itu ceritanya sedang menanyangkan penampakan pocong, sontak dari situ aku teringat kembali kejadian yang baru saja menimpaku. Tiba-tiba badanku terasa panas, kepala pusing, dan aku sangat panik ketakutan. Aku langsung berlari ke kamar Aki dan membangunkannya. Aku takut, terbayang kejadian itu. Dari situ Aki menasihatiku untuk jangan begadang dan jangan nonton acara horor kalau aku penakut. Aki menemaniku tidur dan membacakan doa ke wajahku. Aku pun tidur besama Aki di kamarku.

Tidak lama aku bisa tertidur tiba-tiba di dalam mimpiku, aku melihat sosok dengan wajah yang hitam, lubang matanya yang bolong dan bola matanya yang meleh, lalu hidung yang ditutup kapas. Akupun terbangun dan menangis, Aki pun bangun dan langsung membacakan doa. Karena suara tangisanku, Nini pun datang ke kamar untuk menenangkanku. Aku yang takut dan menangis tiba-tiba muntah. Dengan segala doa yang dipanjatkan oleh Aki, lalu aku bisa sedikit tenang dan terasa dikepalaku bayangan dalam mimpi itu perlahan hilang.

Sampai akhirnya pagi datang, aku terbangun. Aku tidak mau sekolah, aku tidak berani sendirian, bahkan untuk mandi aku harus di temani oleh Aki yang harus berdiri di luar kamar mandi. Aku sangat trauma, sangat ketakutan. Hampir 1 minggu aku tidak mau kemana-mana, bahkan untuk main aku pun tidak mau. Akhirnya Uwa datang, Uwa adalah kakak dari Bapak yang katanya bisa mengerti akan hal mistis seperti itu. Aku pun didoakan Uwa untuk menetralisir badanku yang penuh ketakutan. Dan benar saja, ternyata sosok yang ada di pohon bambu itu mengikutiku sampai saat itu. Uwa bilang sosok itu mengikutiku karena “dia” merasa senang denganku yang saat itu menghampirnya. Aku heran padahal saat itu bukan cuma aku yang menghampirinya, ada temanku juga yang ikut denganku. Tapi ternyata itu terjadi karena aku yang pertama bilang “hayu sampeurkeun” jadi aku yang ditandai oleh sosok itu. Tapi setelah Uwa membantuku dengan doa, sosok itupun pergi. Aku yang seminggu takut untuk melakukan apapun akhirnya kembali bisa berkatifitas dan perlahan perasaan takut itu pudar. Meskipun bayangan sosok itu masih terbesit di pikiran, aku mencoba untuk tidak takut karena Uwa selalu berpesan bahwa kita harus selalu berdoa dan menjaga sholat. Dan yang paling penting kita harus yakin ketika berdoa agar makhluk seperti itu tidka mengganggu, Uwa selalu meyakinkan bahwa tiada kekuatan yang paling besar selain kekuatan Allah SWT.

Semenjak kejadian itu, orang tuaku pun akhirnya mengajakku untuk tinggal saja di rumah dan bersekolah di Kota Bandung agar bisa terpantau oleh mereka. Meskipun aku masih ingin tinggal bersama Aki dan Nini karena aku begitu menyayanginya, tapi aku harus kembali bersama Ayah dan Ibu. Salah satu alasannya adalah aku masih cukup trauma dengan satu-satunya kejadian menyeramkan itu. Aku pun akhirnya tinggal dan bersekolah bersama Ayah dan Ibu.

Aku hanya ingin berpesan kepada kamu yang membaca ini, jangan sekali-sekali sompral atau berkata yang tidak baik, selain itu selalu berdoalah apapun kepercayaan kalian dengan segenap keyakinan kalian kepada Tuhan. Dan di umurku yang sudah 33 tahun ini, aku ingin mengirim doa untuk Aki dan Nini yang sudah berpulang. Terima kasih karena telah merawatku saat aku kecil. Semoga Aki dan Nini diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.

Story by: R.R

714,036FollowersFollow
2,569,482FollowersFollow
43,650SubscribersSubscribe
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img