Dinkes Bandung Luncurkan Si Geulis, Tata Kelola Obat Kini Berbasis Data

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung meluncurkan Sistem Integrasi, Digitalisasi, Perencanaan, Pengelolaan dan Pengawasan Obat atau Si Geulis, Kamis, (8/10).

Aplikasi tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan obat sekaligus mempercepat proses pencatatan, pemantauan hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Peluncuran Si Geulis digelar di Aula Bawah Dinkes Kota Bandung. Sistem ini dikembangkan untuk menjawab sejumlah persoalan dalam tata kelola obat, seperti data yang masih tersebar, proses rekapitulasi yang memerlukan waktu, serta pemanfaatan data yang belum maksimal sebagai dasar perencanaan.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung sekaligus Project Leader Si Geulis, Detty Kurnia mengatakan, aplikasi tersebut diharapkan tidak sekadar menggantikan pencatatan manual dengan sistem digital.

“Si Geulis diharapkan tidak hanya mengubah pencatatan manual menjadi digital, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja. Dari data yang tersebar menjadi terintegrasi, dari reaktif menjadi preventif, dari asumsi menjadi berbasis data, dan dari bekerja secara parsial menjadi kolaboratif,” kata Detty.

Si Geulis mencakup sejumlah tahapan dalam pengelolaan obat, mulai dari perencanaan kebutuhan, pemantauan stok dan transaksi, pengendalian obat kedaluwarsa, hingga pengawasan obat yang memerlukan penanganan khusus, termasuk psikotropika.

Aplikasi tersebut juga dilengkapi dashboard untuk membantu monitoring dan evaluasi serta menjadi bahan pendukung dalam menentukan kebijakan.

Detty menjelaskan, pengembangan Si Geulis dilakukan melalui beberapa tahapan. Prosesnya dimulai dari pemetaan kebutuhan data dan proses bisnis, penyusunan program, pengembangan serta uji coba sistem, penyempurnaan aplikasi, sosialisasi, hingga pendampingan kepada pengguna.

Pengembangannya turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Puskesmas, pengelola obat, unsur teknologi informasi, mitra apotek, pedagang besar farmasi (PBF), perguruan tinggi, organisasi profesi hingga pemangku kepentingan lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Kota Bandung, Ira Dewi Jani yang hadir mewakili Kepala Dinkes Kota Bandung mengatakan, pengelolaan obat menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, pengelolaan obat memiliki tantangan yang cukup kompleks, termasuk dalam memperkirakan kebutuhan, menjaga ketersediaan stok, melakukan pencatatan dan pelaporan, mengantisipasi obat kedaluwarsa serta mengawasi obat-obatan tertentu.

Karena itu, pemanfaatan teknologi dinilai diperlukan untuk memperkuat sistem pengelolaan obat di Kota Bandung.

“Si Geulis bisa menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data dan proses pengelolaan obat sehingga informasi dapat diperoleh secara lebih cepat, akurat, dan mudah dikelola,” ujar Ira.

Melalui sistem tersebut, data stok, kondisi penyakit, hingga informasi epidemiologi dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebutuhan obat. Dengan begitu, perencanaan diharapkan lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.

Sistem terintegrasi ini juga diharapkan dapat membantu mendeteksi persoalan lebih awal, seperti ketidaksesuaian stok, potensi obat kedaluwarsa, keterlambatan pelaporan maupun masalah lain yang membutuhkan tindak lanjut.

Ira menegaskan, keberhasilan Si Geulis tidak hanya bergantung pada teknologi. Kesiapan sumber daya manusia, kualitas data, kepatuhan pengguna, komitmen pimpinan serta kolaborasi antarinstansi menjadi faktor yang turut menentukan efektivitas penerapannya.

“Harapan kami Si Geulis dapat menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung, yaitu budaya kerja yang berbasis data terintegrasi, kolaboratif, adaptif terhadap teknologi serta berorientasi kepada hasil dan pelayanan masyarakat,” kata Ira.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat