Selidiki Dugaan Keracunan 88 Seoul, Pemkot Bandung Temukan Risiko Kontaminasi di Area Dapur

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung masih menyelidiki dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan restoran 88 Seoul. Pemeriksaan dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi sanitasi serta penerapan standar keamanan pangan di restoran tersebut.

“Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan, di antaranya tempat penyimpanan, tempat jarak antara penyimpanan bahan makanan basah, bahan makanan kering, alat-alat bersih, alat-alat kotor, bahan pembersih kimia sampai bahan-bahan kotor,” kata Farhan di Hotel Grandia Kota Bandung, Rabu (7/10).

Dari pemeriksaan awal, petugas menemukan sejumlah bagian yang masih perlu diperbaiki. Salah satunya menyangkut alur dapur dan area pencucian peralatan makan yang dinilai berpotensi menjadi titik kontaminasi.

Menurut Farhan, area pencucian perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi bahan makanan terkontaminasi sabun maupun peralatan yang digunakan untuk mencuci.

Persoalan lainnya ditemukan pada penyimpanan bahan makanan. Pengelolaan bahan makanan beku dinilai belum menunjukkan penerapan sistem first in first out (FIFO) secara jelas. Sementara itu, tempat penyimpanan makanan dingin belum dilengkapi alat pengukur suhu.

“Untuk bahan keringnya, khususnya penyimpanan minyak jelantah, tidak dalam kondisi tertutup. Penyimpanan bahan kimianya agar disediakan kontainer tertutup,” ujarnya.

Pada proses pengolahan makanan, petugas atau penjamah makanan juga disebut belum menggunakan masker. Restoran belum memiliki bank sampel makanan, sedangkan kemasan makanan belum mencantumkan informasi masa kedaluwarsa.

Meski ditemukan sejumlah catatan, Farhan menyebut beberapa aspek restoran sudah dinilai baik. Di antaranya kondisi general cleaning serta tempat sampah yang telah menggunakan sistem pedal kaki.

Pemkot Bandung kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diambil dari restoran tersebut. Hasil laboratorium akan menjadi salah satu dasar untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi yang berkaitan dengan dugaan keracunan.

Farhan menjelaskan, pemeriksaan tidak dapat dilakukan secara instan karena sampel harus melalui proses kultur untuk mengetahui kemungkinan kontaminasi.

“Karena kita ambil sampel makanan, itu segala macam dites di lab. Dites di lab itu untuk mengetahui sesuatu terkontaminasi atau enggak, mesti ada kultur,” jelasnya.

Karena proses kultur membutuhkan waktu, Pemkot Bandung belum dapat menyimpulkan penyebab dugaan keracunan tersebut.

Termasuk mengenai informasi yang menyebut terdapat ratusan orang menjadi korban. Farhan mengatakan angka tersebut masih harus diverifikasi karena data yang diterima Dinkes masih dalam proses pendataan dan pencocokan.

“Klaim atau tuduhan yang mengatakan bahwa sampai ratusan orang mengalami korban keracunan itu sedang kita selidiki,” katanya.

Dinkes juga akan menelusuri kondisi warga yang dilaporkan mengalami keluhan dengan melibatkan rumah sakit. Pendataan mencakup identitas pasien, keluhan kesehatan hingga dokter yang memberikan diagnosis.

Farhan menegaskan setiap laporan harus memiliki dasar yang jelas dan dapat diverifikasi.

“Kalau saya bilang, ‘Saya keracunan makan di restoran A karena kata si dokter B’, maka sayanya mesti diidentifikasi, restoran A-nya diidentifikasi, dokter B-nya yang memberikan diagnosis harus diidentifikasi dan memberikan pertanggungjawaban medisnya,” jelas Farhan.

Selanjutnya, Dinkes Kota Bandung akan menyusun analisis hipotesis kasus dugaan keracunan makanan serta laporan perkembangan kasus untuk diteruskan kepada Dinkes Provinsi Jawa Barat.

Pemkot Bandung juga membuka kemungkinan mengambil tindakan terhadap operasional restoran apabila hasil investigasi menemukan pelanggaran yang dinilai membahayakan konsumen.

“Bisa, bisa aja. Tergantung dari temuan akhir, pada akhirnya kan sekarang lagi menunggu disimpulkan,” ungkap Farhan.

Untuk saat ini, 88 Seoul masih menjadi objek penyelidikan. Farhan menyebut pihak manajemen restoran juga dapat mengambil keputusan sendiri untuk menghentikan sementara operasional selama proses pemeriksaan.

“Kalau memang manajemen memutuskan untuk, ‘Udah kita tutup aja daripada disorot terus’, ya itu mah keputusan manajemen,” ujarnya.

Farhan menegaskan, investigasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menangani dugaan kasus di 88 Seoul. Pemeriksaan juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Bandung memastikan keamanan wisata kuliner di Kota Bandung.

“Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa wisata kuliner di Kota Bandung aman dan terawasi dengan baik,” tuturnya.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat