BANDUNG, infobdg.com — Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) melalui Kelompok Kerja Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular meluncurkan Deklarasi InaPrevent 2025 sebagai respons terhadap meningkatnya kasus penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia. Deklarasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat upaya pencegahan dan rehabilitasi kardiovaskular secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Ketua Umum PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), menegaskan bahwa penyakit kardiovaskular adalah pembunuh senyap (silent killer) yang dapat dicegah sejak dini. Ia menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh mulai dari promosi gaya hidup sehat, deteksi dini, hingga program rehabilitasi setelah serangan jantung.
“Upaya pencegahan tidak bisa berhenti di ruang praktik. Edukasi, kolaborasi dengan komunitas, dan keberpihakan dalam kebijakan kesehatan adalah kunci. Kami ingin menjadikan prevensi sebagai budaya dan rehabilitasi sebagai hak bagi semua penyintas kardiovaskular di Indonesia,” ujarnya.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 2019, sekitar 17,9 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular, mewakili 32 persen dari total kematian global. Di kawasan Asia Tenggara, lebih dari 8,1 juta kematian tercatat dalam tahun yang sama.
Di Indonesia sendiri, data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan terdapat lebih dari 650 ribu kematian akibat penyakit ini, termasuk stroke dan penyakit jantung koroner. Selain itu, menurut data BPJS Kesehatan tahun 2022, pengeluaran untuk layanan terkait penyakit jantung dan pembuluh darah mencapai Rp10,9 triliun, hampir setengah dari total biaya pelayanan kesehatan.
Ketua Pokja Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular PERKI, dr. Abdul Halim Raynaldo, SpJP(K), menyebut penyakit ini tidak hanya menjadi masalah medis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Ia menegaskan perlunya strategi nasional yang komprehensif untuk mencegah beban yang lebih besar di masa depan.
“Tanpa perubahan paradigma dan komitmen bersama, kita akan terus menghadapi dampak ekonomi dan sosial yang berat. Deklarasi InaPrevent 2025 adalah langkah strategis menuju transformasi kesehatan jantung di Indonesia,” katanya.
Deklarasi InaPrevent 2025 mengusung semangat “Jantung Sehat, Indonesia Kuat”, dan mengajak semua pihak tenaga medis, pembuat kebijakan, institusi pendidikan, komunitas, hingga sektor swasta untuk terlibat dalam gerakan nasional ini.
Deklarasi ini berisi sepuluh pernyataan sikap dan aksi yang mencakup berbagai aspek, mulai dari pencegahan sejak masa kanak-kanak hingga perluasan akses rehabilitasi jantung di seluruh Indonesia.
Ketua Pelaksana The 8th InaPrevent 2025, dr. Badai Bhatara Tiksnadi, SpJP(K), menyampaikan bahwa peluncuran deklarasi ini juga diiringi dengan simposium dan pelatihan bagi dokter umum, spesialis, dan paramedis.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani penyakit kardiovaskular secara aplikatif dan berbasis ilmu terbaru.
“Kami juga mengundang para ahli dari dalam dan luar negeri untuk memastikan kebutuhan keilmuan para dokter di Indonesia terpenuhi,” katanya.
Deklarasi ini tidak berhenti pada penyataan prinsip, tetapi juga akan ditindaklanjuti dengan langkah konkret seperti kampanye edukasi nasional, integrasi program di fasilitas layanan kesehatan, pelatihan tenaga medis, serta kemitraan dengan komunitas olahraga dan sektor swasta.
Menurut dr. Halim, tujuannya adalah menjadikan prevensi sebagai budaya, bukan sekadar intervensi medis.
“Kami ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat sejak dini, bukan menunggu sakit baru bertindak,” ujarnya.
PERKI menyerukan dukungan dari seluruh pemangku kebijakan, termasuk pemerintah pusat dan daerah, untuk memberikan payung regulasi, alokasi anggaran, serta pelibatan lintas sektor demi menyukseskan implementasi deklarasi ini.
Kepada masyarakat, PERKI mengimbau untuk menjalani pola hidup sehat, menjauhi rokok dan makanan tinggi lemak trans, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Jantung sehat bukan milik kelompok tertentu. Ini adalah hak semua warga negara. Kita harus memastikan bahwa dari Sabang sampai Merauke, setiap orang punya kesempatan untuk hidup lebih lama dan lebih sehat,” pungkas dr. Ade.***