BANDUNG, infobdg.com – Memasuki tahun 2020, wabah penyakit demam berdarah (DBD) di Jawa Barat semakin merajalela.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Berli Hamdani, dalam acara JAPRI (Jabar Punya Informasi), pada Sabtu (14/3), di Gedung Sate, Kota Bandung.

Berli mengatakan, hingga saat ini sudah 16 orang meninggal akibat DBD di Jawa Barat.

“Jawa Barat kan provinsi yang besar dan banyak penduduknya, pasti banyak tempat-tempat yang bisa jadi sarang nyamuk sehingga penyakit demam berdarah ini belum bisa dihilangkan di Jabar,” ungkap Berli.

Dari 27 kota/kabupaten di Jawa Barat, Berli mengklasifikasikan setiap daerah yang rawan DBD dalam tiga zona tingkatan, yakni zona Merah, Kuning, dan Hijau.

“Merah berarti kasusnya banyak, kuning sedang, dan hijau sedikit atau masih aman,” terang dia.

Berikut merupakan tingkatan zona rawan DBD di Jawa Barat:

Merah: Kota Depok, Kota/Kabupaten Bogor, Kota/Kabupaten Sukabumi, Kota Bandung, Kabupaten Cirebon, dan Kota Ciamis.
Kuning: Kota/Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Kuningan, Banjar.
Hijau: Kota Cirebon, Pangandaran.

Kota Bandung sendiri masuk ke dalam zona merah rawan DBD tahun 2020. Hingga saat ini, sudah 2 orang meninggal akibat DBD di Kota Bandung. Sementara angka kematian tertinggi akibat DBD, yakni 3 orang, ada di Kabupaten Ciamis.

Berli mengatakan, pihaknya telah menyiapkan gerakan strategis untuk memberantas penyakit DBD di Jawa Barat, yakni melalui 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik).

“Ini memprihatinkan, harus kita atasi bersama-sama. Kita harus memberantas nyamuk mulai dari sekeliling rumah kita, maka nama gerakannya 1 Rumah 1 Jumantik,” kata Berli.

Jumantik (Juru Pemantau Jentik) akan berperan dalam memutus rantai penularan, yang bersumber dari nyamuk pembawa virus dengue.