BANDUNG, infobdg.com – Menuju hari kanker sedunia pada 4 Februari mendatang, institusi kesehatan perawatan kanker komprehensif dari Singapura, Parkway Cancer Centre (PCC), mengedukasi masyarakat Kota Bandung tentang kanker melalui diskusi teleconference bersama ahli Onkologi Medis, dr. Zee Ying Kiat. Diskusi bertema “Tangani Kanker Kolorektal Sejak Dini” ini berlangsung pada Kamis (30/1), di 23Paskal, Bandung.

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum (bagian akhir dari usus besar). Berdasarkan survey yang dilakukan PCC, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui jenis kanker kolorektal, padahal, pada tahun 2018 kanker ini termasuk ke dalam jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia. Menurut dr. Zee, kanker jenis ini sering disepelekan karena gejalanya yang tersamar dengan penyakit umum.

“Gejala kanker kolorektal seringkali dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh, karena dirasa sama dengan penyakit lain yang lebih umum,” terang dr. Zee.

Dijelaskan dr. Zee, kanker kolorektal biasanya bermula dari benjolan (polip) usus, atau jaringan yang tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum. Namun, tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker. Ada pula polip yang jinak, tapi tetap harus diwaspadai.

“Awalnya memang terdapat polip di lapisan dinding usus besar sampai ke lubang anus. Polip ada yang jinak, ada juga yang ganas. Kalau ada polip saya sarankan untuk segera diangkat sesuai prosedur kalonoskopi,” bebernya.

Karena gejalanya yang tak banyak dirasakan, kanker kolorektal memang sulit dideteksi pada tahap dini. Di awal perkembangannya, kanker ini mungkin tak menyebabkan gejala apapun. Namun begitu, harus diketahui bahwa gejala umum kanker kolorektal adalah munculnya darah dalam tinja, kebiasaan buang air besar yang berubah-ubah, rasa sakit yang terus-menerus di perut, kembung, kram, perasaan buang air besar tidak dikosongkan sepenuhnya, dan berat badan yang turun drastis.

Sementara untuk penanganannya, kanker kolorektal dapat terdeteksi melalui skrining dengan pemeriksaan tinja ataupun kolonoskopi. Namun, proses ini hanya dapat dilakukan apabila jaringan polip masih berada di dinding usus.

“Pemeriksaannya melibatkan penggunaan tabung tipis dan fleksibel yang dikenal dengan nama kolonoskop. Alat itu dimasukkan melalui dubur sehingga memungkinkan dokter untuk memeriksa lapisan dalam usus besar,” jelas dr. Zee.

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan dengan sedasi ringan. Proses kolonoskopi hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk bisa menghilangkan polip jinak.