BANDUNG, infobdg.com – Ada yang baru di Jalan Sumedang No. 6, Bandung. Sebuah bangunan lama yang sempat tertidur selama dua dekade kini kembali hidup dengan aroma kopi yang hangat dan suasana yang mengundang senyum. Namanya Kopi Romantis Laswi, cabang kedua dari Kopi Romantis yang lebih dulu hadir di kawasan Cihapit sejak November 2024.
Hanya berjarak sekitar 10 menit dari Cihapit, tempat baru ini hadir bukan tanpa alasan. Semenjak Kopi Romantis pertama kali membuka pintu di Cihapit, antusiasme warga begitu tinggi. Bahkan tak jarang, kursi-kursi di sana selalu terisi penuh. Maka, lahirlah ide untuk menghadirkan ruang yang lebih luas namun tetap mempertahankan rasa dan nuansa yang sama.
Dibandingkan dengan yang di Cihapit, Kopi Romantis Laswi ini punya tiga kali lipat ruang lebih besar. Kapasitasnya mencapai 250 kursi, membuat siapa pun tak perlu khawatir kehabisan tempat duduk. Tapi jangan bayangkan tempat ini seperti kafe modern berkilau. Justru daya tariknya ada pada konsep rustic yang hangat dan sederhana. Bangunan yang digunakan dibiarkan dalam gaya semi-industrial, dinding unfinish, sentuhan kayu, dan detail yang mengingatkan kita pada rumah nenek. Hangat, familiar, dan apa adanya.

Kang Andru, sang pemilik, merancang konsep ini untuk bisa dekat dengan anak muda, khususnya generasi Z. Di sini, kopi bukan sekadar minuman, tapi cara untuk merangkul, menghubungkan, dan membuka ruang. Biji kopi pilihan langsung dari petani lokal, dengan berbagai proses seperti natural, honey, fullwash hingga semiwash. Mayoritas datang dari Manglayang, ditambah sentuhan robusta dari Temanggung dan arabika lokal lainnya. Semuanya 100% kopi Nusantara. Dan ke depannya, mereka bahkan ingin mencoba rasa kopi dari Yaman, sekadar bermain di ranah rasa yang lebih luas.

Uniknya lagi, Kopi Romantis bukan hanya soal minuman. Ini adalah ruang belajar dan tumbuh. Sekitar 80% kru yang bekerja di sini sebelumnya belum pernah terjun ke dunia food and beverage. Tapi itu bukan halangan.
“Asal ada kemauan, kita latih dari awal,” ujar Kang Andru.
“Mulai dari cara menyapa pelanggan, mengoperasikan mesin kopi, hingga mengelola dapur, semua diajarkan dengan sabar. Visi besarnya adalah membuka lapangan kerja seluas-luasnya, dan menjadikan tempat ini bukan sekadar tempat kerja, tapi tempat berkembang,” lanjut dia.
Di Kopi Romantis Laswi, Wargi juga bisa menemukan suasana yang lebih hidup dengan kehadiran live music reguler. Bahkan ada rencana untuk mengadakan audisi bagi band dari sekolah dan universitas, agar mereka punya ruang untuk tampil di depan publik. Tak hanya untuk musisi muda, tempat ini juga terbuka bagi musisi senior untuk kembali mengisi panggung.

Soal menu, Kopi Romantis Laswi membawa sedikit sentuhan berbeda. Jika Kopi Romantis Cihapit dikenal dengan cita rasa lokal seperti nasi goreng cikur yang jadi favorit, di sini ada variasi semi-western seperti fried chicken dengan racikan chef berpengalaman dari dunia perhotelan. Meski berbeda, rasa tetap jadi perhatian utama, dengan bahan baku yang terjaga kualitasnya.
Jam operasional? Dari pagi jam 7 sampai malam jam 11. Tapi siapa tahu, kalau antusiasmenya tinggi, bisa saja tempat ini tetap buka lebih lama. Karena Kopi Romantis percaya, kehangatan tak boleh dibatasi oleh waktu.
Kalau penasaran seperti apa rasanya ngopi di rumah nenek dengan suasana anak muda, datang saja ke Kopi Romantis Laswi. Tapi hati-hati, bisa-bisa Wargi betah dan tak ingin pulang.***

