BANDUNG, infobdg.com – Jawa Barat dianugerahi lanskap alam yang indah, mulai dari pegunungan sejuk nan asri, pantai, air terjun, maupun curug yang dapat memanjakan mata.

Warga Jawa Barat pun memiliki kreativitas yang melahirkan banyak potensi wisata alam, budaya, dan buatan. Tak heran hal itu membuat sektor pariwisata Jabar dikenal mampu menarik wisatawan lokal maupun asing.

Tahun ini, lonjakan wisatawan di libur Natal dan tahun baru di Indonesia bersamaan dengan datangnya musim hujan. Untuk itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar mengimbau masyarakat dan calon wisatawan untuk siaga bencana di momen libur akhir tahun.

“Seluruh wilayah Jabar secara umum sudah masuk musim hujan, merata sejak minggu lalu. Curah hujan tertinggi pada Januari-Februari, potensi bencana banjir, longsor, dan angin kencang meningkat,” kata Kepala BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya, pada acara Jabar Punya Informasi di Gedung Sate, Bandung, Jumat (27/12).

“Masyarakat bersama pemerintah harus antisipasi, di mulai dari bersihkan saluran air di dekat rumah agar air tidak meluap jadi genangan atau banjir, juga antisipasi pohon yang tumbuh miring di lereng bukit,” beber dia.

Tony pun memaparkan bahwa potensi hujan, khususnya di Kota Bandung, terjadi pada siang dan sore hari. Ia menyarankan agar kegiatan dilakukan pada pagi atau malam hari agar tidak terguyur hujan.

“Kami sarankan kepada masyarakat, cek info cuaca, potensi hujan, potensi cuaca ekstrem, agar aktivitas menyesuaikan dan lancar,” ucap Tony.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi BPBD Provinsi Jabar Adwin Singarimbun mengatakan, Jawa Barat memang rawan bencana terutama banjir, longsor, dan puting beliung setiap musim hujan.

Hal ini tentu jadi perhatian. Selain pemantauan selama 24 jam dari BPBD dan koordinasi kesiapsiagaan bersama 1.800 personel dari pemerintah, TNI/Polri, hingga relawan, Adwin pun menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi bencana.

“Kepada masyarakat, kami imbau jangan jadi objek, tapi jadi subjek berdaya. Mereka harus mampu mengurangi risiko bencana di wilayahnya, karena yang terpenting kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Adwin.

Langkah-langkah tersebut bisa menyelamatkan masyarakat dari bencana, mengingat penelitian di Jepang bahkan menyebutkan bahwa kesadaran sendiri berperan 90% terhadap keselamatan saat bencana. Jadi, masyarakat harus tahu potensi ancaman atau bencana di mana pun itu.