BANDUNG, infobdg.com – Hari Toleransi Internasional jatuh setiap tanggal 16 November. Untuk memperingatinya, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) bersama LBH kota Bandung dan Setara Institute menggelar acara Bandung Lautan Damai (Balad) 2018, di mana puncaknya akan diselenggarakan hari ini, Senin (10/12) di Bandung Creative Hub, Laswi, Bandung.

Sesuai informasi yang dihimpun dari koordinator Balad 2018, Wawan Gunawan, kegiatan Bandung Lautan Damai merupakan acara rutin tahunan sejak 2012 yang terealisasi berkat kolaborasi dengan jaringan-jaringan komunitas di Kota Bandung. Bahkan, sampai saat ini sudah tercatat sekitar 60 komunitas yang terlibat di koalisi Bandung Lautan Damai 2018.

Advertisement

“Waktu tahun 2012 itu, bersama Setara Institute bersama LBH Bandung ngajak semua komunitas yang ada di Bandung. Waktu masih baru ada 12 jaringan, sekarang sudah sekitar 60 jaringan yang terlibat,” pungkas Wawan.

Wawan mengatakan, peringatan Hari Toleransi Internasional ini selalu dirayakan oleh seluruh koalisi Bandung Lautan Damai sebelum dan sesudah 16 November. Untuk tahun ini, puncaknya digelar Senin (10/12) di Bandung Creative Hub. Wargi Bandung sangat dipersilakan untuk turut hadir dalam hajatan ini.

“Hari Toleransi Internasional jatuh tanggal 16 November, tapi kita merayakannya sebelum 16 November dan setelah 16 November. Saya kira ini hajatan nya teman-teman Bandung dalam rangka merayakan toleransi, karena Bandung sendirikan kota yang sangat beragam, jadi amunisi keragamannya juga harus ditambah,” jelasnya.

Wawan mengatakan, biasanya perayaan diawali dari 10 November sampai 10 Desember. Keputusan tersebut dibuat sebab banyak peristiwa kemanusiaan penting yang bisa turut diperingati, seperti Hari Pahlawan, Hari Kekerasan Terhadap Perempuan, serta tentunya Hari Toleransi Internasional.

Rangkaian acara Bandung Lautan Damai 2018 sendiri terdiri dari pameran dan diskusi komik kritis keagamaan, media gathering mengenai isu keragaman dan anti kekerasan terhadap perempuan, workshop dongeng, workshop media sosial, serta puncaknya adalah konser keragaman yang seluruhnya mengangkat tema masalah kemanusiaan, entah itu perempuan, minoritas, atau siapapun yang sebenarnya memiliki hak hidup yang sama di negara ini.

Previous articlePeringati Hari Perkebunan Nasional ke-61, Pemprov Jabar Serahkan Bantuan 2 juta Benih Kopi
Next articleTim Lab Paleontologi ITB Temukan Gading Stegodon Raksasa