BANDUNG, infobdg.com – Program Citarum Harum kini mulai memperlihatkan hasil positif. Persoalan-persoalan yang terjadi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum berangsur membaik.

Hal tersebut dipastikan oleh Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Safri Burhanuddin, saat meninjau sejumlah titik DAS Citarum mulai dari hulu sungai sampai command center Citarum Harum.

“Kita akan lihat hasilnya. Setelah kita bekerja dua tahun ini, kita pertama melihat apakah sungainya sudah semakin bersih apa tidak. Kedua, bantaran sungainya makin bagus apa tidak. Apakah banjir yang ada itu makin parah atau tidak. Alhamdulillah semuanya positif,” kata Safri, Kamis (9/1).

Safri tak memungkiri bahwa masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, salah satunya adalah penghijauan lahan kritis terutama di DAS Citarum hulu.

Lahan kritis sendiri merupakan lahan di dalam/luar kawasan hutan yang mengalami kerusakan sehingga hilang atau fungsinya berkurang. Terdapat 77.037 hektar lahan kritis di DAS Citarum hulu, di mana 61.681 hektar lahan kritisnya adalah milik masyarakat. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Yang masih perlu kita benahi adalah masalah proses penghijauan di atas. Dari 77 ribu hektare lahan kritis, 61 ribu hektare lahan kritis milik masyarakat. Itu tentu pendekatannya berbeda dengan milik negara,” bebernya.

Selain pembenahan Citarum, fokus utama di tahun 2020 adalah penghijauan secara masif untuk semua program di kementerian maupun CSR. Safri pun menginstruksikan agar Citarum Harum membuka pintu selebar mungkin dan mengajak berbagai pihak untuk ikut terlibat.

“Instruksi sekarang lebih cenderung kita mengajak sebanyak mungkin stakeholder, bukan cuma pemerintah, tetapi juga non-pemerintah terlibat,” kata dia.

Safri merespons positif penerapan sejumlah teknologi dalam pengawasan, seperti Satgas Citarum Harum yang menyimpan CCTV dan sensor di beberapa titik untuk melihat tingkat pencemaran dari limbah industri maupun domestik.

“Tidak mungkin atau setiap saat menggunakan mata ke lapangan. Kita membutuhkan alat. Alat yang dipasang kita itu akan membantu dan mempercepat kita melihat daerah mana yang mengalami pencemaran, sehingga kita bisa identifikasi pencemarannya ada di mana,” tandasnya.