Ratusan Pemuda Deklarasikan 7 Aksi Nyata untuk Gaza dari Gedung Merdeka Bandung

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com — Gedung Merdeka kembali menjadi saksi sejarah. Bukan lagi soal kemerdekaan bangsa Asia-Afrika seperti tujuh dekade lalu, tetapi tentang suara lantang ratusan pemuda Indonesia untuk rakyat Palestina. Pada Sabtu (12/7), sebanyak 162 organisasi pemuda dari berbagai penjuru negeri berkumpul dalam Konferensi Pemuda Indonesia untuk Gaza.

Acara ini bukan sekadar seremoni. Di tengah suasana hangat dan penuh semangat, para peserta menyuarakan satu tekad yakni memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan langkah nyata. Konferensi ini diprakarsai oleh para aktivis muda dan didukung Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Wakaf Salman ITB, serta berbagai lembaga kemanusiaan.

“Kami tidak ingin berhenti pada retorika. Konferensi ini adalah titik tolak dari aksi nyata. Dari 117 ide yang dikumpulkan, lahirlah tujuh solusi konkret untuk Gaza,” ungkap Ketua Pelaksana Konferensi, Luthfie Maula Alfianto.

Tujuh solusi tersebut dirancang sebagai wujud kontribusi pemuda Indonesia untuk rakyat Gaza, di antaranya:
1. Patungan Asuh Anak Yatim Gaza
2. GazaOne: Platform Pusat Informasi dan Koordinasi Bantuan
3. Boikot Next Level: Gaya Hidup Bebas Afiliasi dengan Produk Pendukung Penjajahan
4. Kurikulum Pelajaran Palestina untuk Semua
5. Palestine Corner: 1.000 Mural Palestina
6. Palestine Research Center
7. One Minute Palestine: Aksi Digital Harian

Deklarasi bersama pun diteken sebagai bentuk komitmen kolektif untuk menjalankan agenda ini secara berkelanjutan.

Ketua BKSAP DPR RI, Dr. Mardani Ali Sera, menegaskan bahwa DPR akan mengawal isu Palestina dalam tiga jalur utama yakni legislasi, diplomasi internasional, dan kolaborasi lintas elemen masyarakat. Ia menyebut DPR tengah mematangkan RUU Divestasi, Boikot, dan Sanksi (RUU DBS) sebagai upaya konkret untuk memperkuat posisi Indonesia dalam aksi boikot terhadap entitas yang terlibat dalam penjajahan.

“Ini hutang sejarah kita. Palestina hadir di Gedung Merdeka 70 tahun lalu mendukung kemerdekaan Indonesia. Kini giliran kita berdiri untuk mereka,” ujar Mardani penuh semangat.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia menambahkan bahwa perdamaian harus dibangun dengan realisme politik yang tetap memegang prinsip keadilan. Ia menyebut pendekatan two-state solution sebagai opsi yang masih layak dipertimbangkan.

Sementara itu, Wakaf Salman ITB, yang selama ini aktif mengirim bantuan ke Gaza, melihat konferensi ini sebagai langkah penting dalam memperkuat solidaritas lintas generasi.

“Kami sudah lama bergerak di Gaza, dari pembangunan sumur, ambulans, hingga distribusi makanan. Kehadiran anak-anak muda seperti ini akan memperluas dan memperkuat gerakan kemanusiaan ke depan,” ujar Ryan Faisal, dari Wakaf Salman.

Dukungan juga datang dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Keduanya memandang konferensi ini sebagai perpanjangan dari semangat Konferensi Asia-Afrika, sekaligus pengingat bahwa Palestina adalah satu-satunya bangsa yang belum merdeka hingga hari ini.

Meski acara ini telah usai, perjuangan belum berhenti. Justru dari sinilah langkah dimulai. Pemuda-pemuda Indonesia yang berkumpul di Gedung Merdeka kini membawa semangat baru, dengan komitmen yang tak hanya terdengar, tetapi akan terus terasa dampaknya.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat