JAKARTA, infobdg.com — Menjelang 2026, pemulihan kepercayaan publik menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi pertumbuhan domestik. Transisi pemerintahan yang berlangsung sepanjang 2025 dinilai membawa harapan baru terhadap kebijakan ekonomi yang lebih konsisten, inklusif, dan pro-pertumbuhan.
Dalam konteks tersebut, Allianz Indonesia menggelar Media Workshop bertema Peran Media dan Industri Asuransi dalam Membentuk Kepercayaan Publik dan Optimisme terhadap Masa Depan Ekonomi Indonesia 2026. Forum ini mempertemukan pengamat ekonomi, pelaku industri asuransi, dan media untuk membahas tantangan serta peluang ekonomi ke depan.
Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menilai ketidakpastian global masih akan membayangi perekonomian dunia. Ia menyoroti tingginya tensi geopolitik, rivalitas ekonomi negara besar, serta dampak pemilu di puluhan negara terhadap stabilitas global.
“Kepastian ke depan adalah ketidakpastian itu sendiri. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha harus lebih agile dengan penguatan governance, risk, and compliance,” ujar Aviliani.
Meski demikian, ia mencatat adanya sinyal positif dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF serta momentum pemulihan kepercayaan domestik sejak Oktober 2025.
“Momentum meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” kata Aviliani.
Penempatan dana pemerintah dan stimulus fiskal dinilai turut menurunkan biaya dana, mendorong konsumsi, serta memperkuat sentimen pasar, tercermin dari rekor tertinggi IHSG sepanjang 2025.
Dari sisi industri keuangan, sektor asuransi dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat rasa aman masyarakat. Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia, Hasinah Jusuf, menegaskan bahwa industri asuransi tetap menunjukkan ketahanan meski berada di tengah tekanan ekonomi.
“Ketahanan industri asuransi tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada persepsi masyarakat. Karena itu, sinergi antara pemerintah, industri, dan media sangat penting untuk membangun narasi positif mengenai peran asuransi bagi stabilitas finansial keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai regulasi baru yang akan diterapkan pada 2026 diharapkan memperkuat fondasi industri agar lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan. Hingga kuartal III 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah mencatat pendapatan premi Rp15,2 triliun, sekaligus terus memperluas program literasi keuangan yang telah menjangkau lebih dari satu juta penerima manfaat.
Sementara itu, Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara, Irfan Junaidi, menekankan peran krusial media dalam menjaga kepercayaan publik di era post-truth.
“Kepercayaan publik adalah fondasi pemulihan ekonomi. Media harus menjadi jembatan komunikasi yang objektif, empatik, dan konsisten agar publik tidak terjebak disinformasi,” kata Irfan.
Ia menilai jurnalisme beretika, akurat, dan berintegritas menjadi benteng utama di tengah derasnya arus misinformasi. Senada, Photojournalist & Editor Jawapos.com, Hendra Eka, menyebut visual jurnalistik yang autentik juga berperan besar dalam membangun optimisme publik.
“Foto jurnalistik yang berkualitas mampu mencerminkan realitas sosial secara objektif sekaligus menumbuhkan harapan terhadap masa depan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara industri asuransi, media, dan pemerintah, Allianz Indonesia optimistis kepercayaan publik dapat terus diperkuat sebagai modal utama menuju pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan pada 2026.***




