BANDUNG, infobdgcom – Mabes Polri hari ini secara serentak mengadakan “Festival Mural Bhayangkara 2021”, kegiatan ini diadakan di jajaran tingkat Mabes Polri, maupun Polda seluruh Indonesia. Seiring dengan itu, Polda Jawa Barat pun menggelar kegiatan yang sama.
Usai pembukaan kegiatan, di Kiara Artha Park, Bandung, Sabtu 30 Oktober 2021, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Ahmad Dofiri, M.Si. menjelaskan perihal kegiatan tersebut.
“Baru saja tadi kita bersama-sama untuk mengikuti acara lomba Bhayangkara Mural Festival tahun 2021 yang secara resmi langsung dilakukan Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui virtual, intinya Bhayangkara Festival itu dilakukan dalam rangka untuk mewadahi aspirasi ekspresi bagi seluruh warga masyarakat, khususnya para seniman untuk berekpresi melalui karya-karya seni terbaiknya dan kita fasilitasi melalui kegiatan ini.” jelas Kapolda, kepada awak media setelah kegiatan pembukaan Festival Bhayangkara Mural 2021 tingkat Polda Jabar.
Kapolda Jabar melanjutkan, peserta yang mengikuti festival ini sebanyak 31 orang, dan telah melalui seleksi dari masing-masing tingkatan Polres.
“Jadi peserta, kemudian ada beberapa 5 ( lima ) karya sketsanya sudah kita kirimkan ke Mabes Polri dan dari 5 (lima), 1 ( satu ) yang dilombakan,” ujar Kapolda Jabar.
“Bebas asal positif” merupakan tema dari lomba itu sendiri menurut Kapolda.
“Temanya semua bebas untuk mengekspresikan tetapi sekali lagi mural adalah seni. Nah seni itu keindahan jadi kalau jadi kalau sifatnya universal. Sifat seni dan keindahan tentunya apa yang diekspresikan harus jauh dari kebencian, intimidasi, provokasi, kritik-kritik yang membangun dan cara melukis dan juga tentunya dilakukan pada tempat yang tepat,” ujarnya.
Seni mural ini bisa menjadi satu karya yang bagus dan indah, asalkan terarah dan bernilai positif.
“Saya menilai bedanya mural dengan vandalime pada dasarnya sama saja coretan dinding atau tembok namun ada bedanya kalo vandalisme coretan yang tidak bertanggung jawab, karena tembok orang dicoret dan digambar fasilitas umum yang semestinya tidak boleh dicoret-coret dan di gambar, tapi sekali lagi mural itu harus tepat pada tempat yang tepat sarananya juga tetap memenuhi kaidah keindahan itu sendiri,” ucapnya.
Selanjutnya Dofiri berharap, semoga kedepannya akan terus dilaksanakan dalam hari Bhayangkara atau momen-momen tertentu.
“Kami sepakat bagaimana memfasilitasi para muralis di tempat-tempat umum, layak dan tentunya bisa untuk juga mengekpresikan karya-karyanya itu ditorehkan di situ, seperti di kolong jembatan layang yang masih kosong kemudian di tembok-tembok stadion yang masih kosong akan menjadi lebih indah kalau di lukis mural tadi bukan hanya di Bandung saja, harapan kita wilayah- wilayah lainnya di kabupaten maupun kota yang ada di Jawa Barat mudah-mudahan ekpresi tadi terwadahi, kriri nya juga tersampaikan tetapi norma-norma seninya tetap harus diperhatikan juga jadi tidak jadi tidal liar bukan Vandalisme,” tandasnya.


