BANDUNG, infobdg.com – Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan momentum positif. Pada kuartal kedua 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,12 persen, angka tertinggi dalam beberapa triwulan terakhir. Pemerintah menilai capaian ini sebagai bukti nyata bahwa konsumsi mulai pulih, sektor usaha kembali menggeliat, dan kerja sama antar sektor mulai membuahkan hasil.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat membuka Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional ke-34 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Bandung, Selasa (5/8).
Menurut Airlangga, pertumbuhan kali ini didorong kuat oleh sektor konsumsi, pertanian, industri, serta transaksi digital, terutama dari kategori kosmetik dan makanan-minuman.
“Beberapa perusahaan ritel bahkan menunjukkan kinerja yang lebih baik dibanding semester pertama tahun lalu. Ini tanda jelas bahwa ekonomi kita sedang naik,” ujar Airlangga.

Menanggapi situasi ekonomi yang mulai membaik, pemerintah tetap berkomitmen mengejar target investasi sebesar Rp1.900 triliun tahun ini. Airlangga menyebut target tersebut tidak berlebihan, apalagi dengan berbagai insentif yang telah disiapkan, salah satunya pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga 100 persen untuk properti di bawah Rp2 miliar.
“Yang penting pengusaha tetap berani berinvestasi dan memperoleh keuntungan. Kita ingin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar bertahan,” katanya.
Di sektor perdagangan luar negeri, Indonesia juga mendapat angin segar. Ancaman tarif ekspor yang sebelumnya mencapai 32 persen berhasil ditekan menjadi 19 persen, sehingga daya saing Indonesia di pasar global kembali meningkat.
“Kalau tarif tetap 32 persen, dampaknya bisa serius, sekitar lima juta pekerja berisiko kehilangan pekerjaan. Tapi dengan 19 persen, posisi kita setara dengan Malaysia dan Thailand,” jelas Airlangga.
Berbagai stimulus konsumsi terus digulirkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. Di antaranya, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembangunan 450.000 rumah, program diskon kemerdekaan hingga 80 persen menjelang HUT ke-80 RI, hingga stimulus akhir tahun menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2026.
Airlangga memastikan program ini akan terus berlanjut sampai akhir tahun demi menjaga perputaran ekonomi di tengah masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam kesempatan yang sama menyoroti pentingnya sinergi pusat dan daerah. Ia membeberkan bahwa Jawa Barat kini menjadi provinsi dengan capaian investasi tertinggi, mencapai Rp72,5 triliun. Hal itu disebutnya sebagai hasil dari pembenahan regulasi dan pendekatan dialog dengan pelaku usaha.
“Kami tertibkan premanisme di kawasan industri dan permudah perizinan, semua dengan pendekatan komunikasi, bukan konfrontasi,” ujar Dedi.
Ia juga menyoroti perubahan arah investasi di wilayahnya. Industri padat karya kini berkembang ke timur, seperti Indramayu dan Majalengka, sementara industri padat modal tumbuh pesat di Karawang dan Subang.
Namun Dedi tak menampik masih ada tantangan. Salah satunya adalah kurangnya keterampilan dasar pada tenaga kerja lokal.
“Masih ada warga Karawang yang belum lolos seleksi kerja karena matematika dasar. Maka kami adakan pelatihan cepat agar mereka siap masuk industri,” katanya.
Baik pemerintah pusat maupun daerah sepakat bahwa kerja bersama adalah kunci menuju target jangka panjang, yakni Indonesia Emas 2045.***


