BRT Bandung Raya Segera Hadir, Ini 18 Rute dan Fakta Lengkapnya

Berita Lainnya

BRT Bandung Raya: Proyek Transportasi Terbesar dalam Sejarah Bandung, Solusi Macet atau Malah Bikin Macet?

BANDUNG, infobdg.com – Setelah puluhan tahun bergantung pada kendaraan pribadi dan angkot, Bandung Raya akhirnya memasuki babak baru transportasi publik. Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah daerah di kawasan Bandung Raya tengah membangun sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya yang nantinya akan menjadi jaringan transportasi massal terbesar yang pernah dimiliki kawasan Cekungan Bandung.

Proyek ini tidak hanya menghadirkan bus baru, tetapi juga mencakup pembangunan jalur khusus, halte modern, integrasi antarkawasan, hingga transformasi sistem angkutan umum yang selama ini dinilai belum mampu menjadi pilihan utama warga.

Dari Trans Metro Pasundan Menjadi Metro Jabar Trans

Sebagian warga sebenarnya sudah mengenal layanan bus BTS (Buy The Service) yang sebelumnya beroperasi dengan nama Trans Metro Pasundan.

Mulai 1 Januari 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan rebranding layanan tersebut menjadi Metro Jabar Trans (MJT) sebagai bagian dari upaya membangun sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi di Bandung Raya. Pengelolaan operasional yang sebelumnya mendapat dukungan pemerintah pusat kini menjadi tanggung jawab Pemprov Jawa Barat.

Saat peluncuran, Metro Jabar Trans melayani enam koridor utama yang menghubungkan Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, hingga Jatinangor.

Kenapa Bandung Butuh BRT?

Kemacetan di Bandung Raya terus meningkat setiap tahun. Jumlah kendaraan tumbuh jauh lebih cepat dibanding penambahan kapasitas jalan.

Bandung juga menghadapi kondisi unik berupa kawasan metropolitan yang melibatkan lima wilayah administratif sekaligus, yaitu:

  • Kota Bandung
  • Kota Cimahi
  • Kabupaten Bandung
  • Kabupaten Bandung Barat
  • Kabupaten Sumedang

Mobilitas harian warga antarwilayah sangat tinggi, baik untuk bekerja, kuliah, sekolah maupun aktivitas ekonomi lainnya. Karena itulah pemerintah menilai transportasi massal menjadi kebutuhan mendesak.

Akan Memiliki 18 Koridor

Berdasarkan kajian terbaru yang disusun pemerintah, sistem BRT Bandung Raya akan memiliki 18 koridor utama yang menghubungkan pusat-pusat aktivitas di Bandung Raya. Operasional penuh ditargetkan bertahap hingga 2027.

Berikut rute yang direncanakan:

  1. Cibiru – Kalapa
  2. Lembang – Taman Tegalega
  3. Leuwipanjang – Dipatiukur – Dago
  4. Elang – Riau
  5. Ciroyom – Pajajaran – Antapani
  6. Dago – Leuwipanjang – Cibaduyut
  7. Padalarang – Alun-alun Bandung
  8. Cicaheum – Cimahi
  9. Ledeng – Antapani
  10. Cicaheum – Kebon Kalapa
  11. Tegalluar – Stasiun Hall
  12. Soreang – Tegalega
  13. Jatinangor – Cibeureum
  14. Majalaya – Baleendah – Leuwipanjang
  15. Banjaran – Baleendah – Bandung Electronic Center (BEC)
  16. Sarijadi – Antapani
  17. Cicaheum – Sarijadi
  18. Jatinangor – Dipatiukur via Tol Cisumdawu.

256 Halte Akan Dibangun

Agar sistem ini berjalan efektif, pemerintah menyiapkan 256 titik halte di kawasan Bandung Raya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 232 halte berada di Kota Bandung, sementara sisanya tersebar di wilayah sekitar yang menjadi bagian jaringan BRT. Halte-halte ini dirancang untuk mendukung sistem naik turun penumpang yang lebih cepat dibanding bus kota konvensional.

Salah satu pembeda utama BRT dengan bus biasa adalah keberadaan jalur khusus (dedicated lane).

Dinas Perhubungan Kota Bandung menyebut jalur khusus yang sedang disiapkan memiliki panjang sekitar 21 kilometer. Sejumlah ruas jalan utama yang masuk dalam perencanaan antara lain:

  • Asia Afrika
  • Otto Iskandardinata (Otista)
  • Sudirman
  • Dewi Sartika
  • Koridor utama pusat kota lainnya

Dengan jalur khusus tersebut, bus diharapkan tidak terjebak kemacetan seperti kendaraan umum biasa sehingga waktu tempuh lebih konsisten.

Kenapa Pembangunan BRT Menimbulkan Kemacetan Saat Ini?

Belakangan banyak warga mengeluhkan kemacetan di sejumlah ruas jalan akibat proyek pembangunan halte dan infrastruktur pendukung BRT.

Hal ini terjadi karena sebagian badan jalan digunakan untuk pekerjaan konstruksi, sementara beberapa titik mengalami penyempitan sementara selama proses pembangunan berlangsung. Pemerintah menyebut kondisi ini merupakan bagian dari tahapan konstruksi sebelum sistem beroperasi penuh.

Pro dan Kontra di Masyarakat

Di media sosial dan forum diskusi, respons warga cukup beragam.

Sebagian mendukung karena Bandung dinilai sudah terlalu lama tidak memiliki transportasi massal yang benar-benar terintegrasi. Namun sebagian lainnya khawatir pengurangan lebar jalan akibat jalur khusus justru akan memperparah kemacetan, terutama di ruas jalan yang sudah sempit.

Ada pula warga yang berharap proyek ini tidak berhenti pada pembangunan fisik saja, tetapi juga diikuti dengan peningkatan kualitas layanan, ketepatan waktu, integrasi pembayaran, serta konektivitas dengan angkot, kereta api, dan moda transportasi lainnya.

Jika Berhasil, Bandung Bisa Berubah Total

Bila seluruh koridor dapat beroperasi sesuai rencana, BRT Bandung Raya berpotensi menjadi tulang punggung transportasi publik terbesar di Jawa Barat.

Mahasiswa dari Jatinangor, pekerja dari Cimahi, hingga warga Kabupaten Bandung dapat berpindah wilayah dengan kendaraan umum yang lebih terjadwal dan terintegrasi. Pemerintah berharap kehadiran sistem ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di Bandung Raya.

 

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat