BANDUNG, infobdg.com – Bandung kembali jadi ruang tumbuh ide kreatif. JNE menghadirkan “Creative Workshop JNE Content Competition 2026” di Universitas Padjadjaran pada 19 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian kompetisi yang berlangsung hingga 15 Juni mendatang.
Mengangkat tema “Think Creative: Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita”, workshop ini dirancang untuk membekali peserta dalam mengolah ide menjadi karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga punya pesan yang kuat.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah juri nasional turut hadir berbagi insight, di antaranya Maman Suherman, Muklay, Tri Joko Her Riadi, dan Raisan Al Farisi.
Tak hanya menyasar mahasiswa, JNE menegaskan bahwa JNE Content Competition 2026 terbuka luas untuk berbagai kalangan. Mulai dari jurnalis, masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, hingga karyawan JNE dapat ikut berpartisipasi dalam berbagai kategori, seperti penulisan, desain, fotografi, dan videografi.
Senior Vice President of Marketing JNE, Eri Palgunadi, menyampaikan bahwa kompetisi ini menjadi wadah kolaboratif bagi siapa saja yang ingin bercerita melalui karya.
“Kompetisi ini tidak hanya untuk mahasiswa, tapi terbuka untuk siapa saja, mulai dari jurnalis, masyarakat umum, pelajar, hingga karyawan JNE. Kami ingin semakin banyak cerita inspiratif yang bisa dibagikan,” ujar Eri, saat Media Gathering JNE di Bandung, Kamis (23/4).
Ia juga menegaskan bahwa melalui berbagai program kreatif, JNE ingin terus berperan lebih dari sekadar perusahaan logistik.
“Kami ingin terus menjadi penghubung kebahagiaan, sekaligus mendukung generasi muda dan masyarakat luas untuk terus berkarya,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Nindi Aristi, mengapresiasi kolaborasi ini sebagai langkah positif dalam mendorong kreativitas mahasiswa.
“Kegiatan seperti ini sangat penting sebagai wadah untuk mengasah ide dan kreativitas mahasiswa agar bisa menjadi karya yang berdampak,” ungkapnya.
Salah satu juri, Maman Suherman, yang akrab disapa Kang Maman juga menekankan pentingnya ketelitian dalam menghasilkan karya, khususnya di bidang jurnalistik.
“Dalam dunia jurnalistik tidak ada istilah salah tulis, terlebih soal nama seseorang atau suatu daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan, kesalahan sekecil apa pun dapat berakibat fatal dalam penilaian.
“Saya memang sangat membaca detail. Dalam menilai suatu karya, lima salah saja di 5W+1H, salah ketik dan lainnya, itu lewat saja. Jadi saya tidak pernah toleransi pada ini salah ketik, nggak berani saya,” bebernya saat halal bihalal dan media gathering di Bandung.
Sebagai Juri Writing Competition Nasional, Kang Maman juga membagikan pengalamannya saat menemukan karya yang sebenarnya berpotensi menjadi juara, namun harus didiskualifikasi karena kesalahan penulisan.
“Karya salah seorang jurnalis di Sumatera, setelah saya amati sangat bagus. Namun di akhir kalimat tertulis Padang-Sumut, akhirnya saya batalkan jadi juara,” ungkapnya.
Mengusung tema “Bergerak Bersama, Beragam Cerita!”, kompetisi ini mengajak peserta mengangkat kisah nyata yang terhubung dengan JNE, mulai dari perjalanan usaha, mimpi yang terwujud, hingga cerita sederhana yang penuh makna.
Dengan hadiah ratusan juta rupiah serta kesempatan berangkat Umrah atau Holy Land, JNE optimistis antusiasme peserta khususnya dari Bandung, akan kembali tinggi seperti tahun sebelumnya.***


