BANDUNG, infobdg.com — Dalam momentum Hari Buruh Internasional atau May Day, brand kecantikan lokal D’Moshe meluncurkan program afiliasi yang bertujuan memberdayakan perempuan Indonesia melalui peluang ekonomi digital. Melalui sistem komisi hingga 40 persen, program ini memberi ruang bagi perempuan untuk berperan sebagai pelaku usaha, bukan sekadar konsumen.
Hingga April 2025, tercatat lebih dari 3.500 perempuan telah bergabung dalam program Affiliator Brand ini, mayoritas merupakan ibu rumah tangga dan perempuan usia produktif yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Dengan pendampingan dan pelatihan rutin di bidang pemasaran digital dan pengembangan diri, para affiliator bisa mendapatkan penghasilan tambahan antara Rp1,2 juta hingga Rp5 juta per bulan, tergantung pada aktivitas dan jaringan yang dibangun.
“Bisnis yang baik bukanlah yang hanya menguntungkan satu pihak. Kami ingin tumbuh bersama, memberi ruang agar para perempuan bisa mengambil peran sebagai pelaku ekonomi digital, bukan sekadar target pasar,” kata Founder D’Moshe, melalui pernyataan yang disampaikan Icha Laraswati selaku Public Relation, Rabu (1/5).
Program ini dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, sebanyak 54 persen perempuan usia kerja di Indonesia belum aktif di sektor ekonomi formal. Inisiatif seperti yang dilakukan D’Moshe menjadi salah satu solusi inklusif untuk menjembatani kesenjangan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.

Selain peluncuran program afiliasi, D’Moshe juga menggandeng komunitas ibu kreatif asal Bandung, Senimom, untuk berkolaborasi menciptakan enam desain produk eksklusif yang sarat makna. Kolaborasi ini menjadi bagian dari semangat brand untuk mendorong perempuan agar “lebih berkarya, berdaya, dan bermakna”.
“May Day bukan hanya soal menuntut upah layak, tapi juga memperjuangkan ruang kerja yang setara dan manusiawi. Program ini kami hadirkan agar perempuan punya akses ke peluang ekonomi tanpa harus meninggalkan perannya di rumah atau komunitas,” ujar Icha.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan teknologi, D’Moshe menegaskan bahwa bisnis dapat menjadi medium pemberdayaan yang berkelanjutan bagi perempuan dan masyarakat luas.***


