BANDUNG, infobdg.com – Industri film horor Indonesia memang sedang panas-panasnya. Tapi di tengah deretan teror yang bikin jantung copot, hadir satu film yang justru mengajak penonton menjerit… lalu tertawa bareng. Judulnya unik, nyelekit, dan sangat relevan dengan kehidupan masa kini: Setannya Cuan.
Film produksi Radepa Black dan Atlas Pixel ini resmi mengumumkan transformasi judul dari “Djoerig Salawe” menjadi “Setannya Cuan”. Perubahan ini bukan sekadar ganti nama agar terdengar lebih kekinian, tapi jadi penegasan arah cerita horor yang dekat dengan keseharian, dibalut komedi khas Indonesia.
“Dulu Djoerig Salawe (Setan Dua Lima), sekarang Setannya Cuan. Karena di dunia ini, yang lebih menakutkan dari setan cuma satu, nggak punya cuan,” celetuk tim produksi, menggambarkan benang merah cerita yang begitu relate dengan realita.

Menurut Produser Eksekutif sekaligus penggagas cerita, dr. Robby Hilman Maulana, ide film ini lahir dari fenomena nyata di masyarakat. Obsesi terhadap angka keberuntungan, praktik klenik, hingga jalan pintas demi memperbaiki nasib ekonomi menjadi inspirasi utama. Ia menegaskan, di balik komedinya, film ini menyimpan potret sosial yang jujur.
“Kami ingin memotret bahwa di balik keriuhan komedinya, ada potret bagaimana ‘cuan’ bisa mengubah perilaku manusia hingga berurusan dengan dunia gaib,” ujarnya.
Disutradarai oleh Sahrul Gibran bersama Jay Sukmo, film ini membawa kembali sensasi horor-komedi yang guyub. Penonton bisa teriak bareng saat adegan seram, lalu pecah tawa di detik berikutnya. Produser Avesina Soebli menyebut film ini sebagai “surat cinta” bagi penonton yang rindu hiburan jujur, dekat dengan keseharian, dan sangat Indonesia.
Yang bikin makin spesial, Bandung jadi kota penting bagi perjalanan film ini. Setelah lebih dulu diputar dalam nobar khusus di Karawang, Cikampek, dan Subang dengan respons penuh tawa dan antusiasme, kini Bandung menjadi barometer berikutnya. Bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai salah satu kota dengan penonton film paling kritis dan ekspresif, kisah film ini juga berakar dari cerita kampung di Cicalengka era 1980-an yang disebut sebagai bagian dari pengalaman nyata sang produser.
Secara cerita, “Setannya Cuan” mengikuti persaingan dua jawara kampung, Adang dan Asep, yang berebut kursi lurah sekaligus hati janda muda bernama Mince. Kemenangan Adang justru berujung nestapa: bangkrut dan ditinggal istri. Sebaliknya, Asep mendadak tajir melintir dan selalu menang togel. Rahasianya? Bantuan dukun sakti bernama Rojan. Namun syaratnya tak main-main: pembunuhan dan ritual mistis yang memicu kegemparan sekampung.
Dari situ, warga mulai latah. Pesugihan jadi tren. Pocong, tuyul, hingga babi ngepet seolah jadi “solusi ekonomi”. Horor berubah jadi satire sosial yang menggelitik sekaligus menyentil.
Film ini dibintangi deretan nama populer seperti Nadine Alexandra, Joe P Project, Fico Fachriza, Dimas Andrean, Anyun Cadel, Candil, Ben Kasyafani, Mongol Stres, Aming, hingga Budi Dalton. Film ini juga menjadi kenangan mendalam bagi almarhum Babe Cabita, yang turut terlibat dalam proses produksinya.
Dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 5 Maret 2026, “Setannya Cuan” hadir sebagai alternatif tontonan di bulan puasa. Bukan sekadar film horor, tapi hiburan yang mengajak tertawa berjamaah di dalam bioskop karena kadang, yang paling horor memang bukan rumah angker, tapi isi dompet yang kosong.
Bandung, siap-siap ketawa sambil merinding.***

