BANDUNG, infobdg.com – Penulis sekaligus sutradara Kamila Andini kembali mengangkat isu perempuan melalui film terbarunya, Empat Musim Pertiwi. Mengusung konsep suspense drama, film ini memadukan unsur fantasi, magical realism, dan supernatural untuk menyampaikan cerita tentang kehidupan perempuan serta berbagai ketidakadilan yang mereka hadapi.
Kamila mengatakan, gagasan Empat Musim Pertiwi muncul pada 2017 ketika dirinya berkunjung ke kawasan Gunung Bromo. Menurutnya, lanskap Bromo memberikan rangsangan visual yang kemudian berkembang menjadi ide cerita tentang empat fase kehidupan perempuan.
“Aku merasa itu salah satu tempat di Indonesia yang kita bisa ngerasain empat musim dalam satu waktu dan satu ruang,” ujar Kamila saat menjelaskan awal mula lahirnya ide film tersebut.
Selain terinspirasi dari lanskap alam, cerita film ini juga berangkat dari kegelisahan Kamila terhadap persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan. Saat gagasan tersebut muncul, perjuangan pengesahan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) masih berlangsung.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar yang mendorong Kamila mengembangkan cerita tentang perempuan dan pengalaman mereka menghadapi ketidakadilan.
Bagi Kamila, proses membuat film bukan sekadar menghasilkan karya, melainkan juga menjadi cara untuk memahami kehidupan dan mempertanyakan berbagai hal yang ia temui sebagai perempuan.
Ia mengaku tidak sejak awal memiliki tujuan khusus untuk menjadi pembuat film yang selalu mengangkat isu perempuan. Namun, karakter perempuan kerap hadir dalam karya-karyanya karena ia merasa lebih mudah memahami pengalaman, pemikiran, serta pergulatan batin karakter tersebut.
Seiring perjalanan kreatifnya, Kamila semakin mendalami isu feminisme dan mempertanyakan bagaimana ia ingin menyuarakan perspektif perempuan melalui film.
“Bagaimana cara saya berpihak bahkan, itu juga hal-hal yang saya pertanyakan dan ingin saya temukan dengan membuat film,” tuturnya.
Dari sisi genre, Kamila menyebut Empat Musim Pertiwi sebagai suspense drama yang tidak ingin terikat pada batasan genre tertentu. Berbagai elemen cerita sengaja dipadukan untuk membangun pengalaman menonton yang penuh misteri sekaligus menghadirkan lapisan makna.
Hanna Aretha Terpilih Memerankan Raras
Dalam film ini, Hanna Aretha memerankan Raras, karakter yang memiliki keterkaitan dengan Pertiwi. Kamila menjelaskan, hubungan kedua karakter tersebut dibangun melalui pengalaman sebagai sesama penyintas, dengan koneksi yang tidak selalu disampaikan melalui dialog.
Menurut Kamila, pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang ingin ditonjolkan dalam pengembangan karakter Raras. Ia juga menilai penting untuk mengangkat pengalaman penyandang disabilitas yang masih menghadapi risiko kekerasan seksual dan persoalan yang kompleks.
Proses pemilihan Hanna bermula ketika dirinya mendapat informasi dari ketua komunitas yang diikutinya mengenai kesempatan mengikuti casting film. Hanna kemudian mengirimkan video akting sebelum dipanggil untuk menjalani audisi secara langsung.
Dalam proses tersebut, Hanna mengikuti casting bersama Mariam Sulaiman, yang berperan sebagai ibu dalam film. Setelah melalui tahapan audisi, Hanna kembali dipanggil ke kantor produksi dan akhirnya terpilih memerankan Raras.
Kamila mengaku langsung melihat potensi besar dalam diri Hanna sejak menyaksikan proses casting. Ia menilai kemampuan akting Hanna terasa natural dan memiliki karakter yang istimewa.
Selain aktif di dunia seni peran, Hanna juga memiliki pengalaman di bidang teater. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya sebelum terlibat dalam film layar lebar ini.
Empat Musim Pertiwi dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi dan melibatkan sejumlah pemain lain. Film karya Kamila Andini dengan produser Ifa Isfansyah ini merupakan hasil ko-produksi enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Film ini sebelumnya mendapat sambutan di Busan International Film Festival 2026. Putri Marino juga meraih Face of Asia Awards dari Marie Claire Korea Selatan dalam rangkaian penyelenggaraan festival tersebut dan masuk nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival 2026.
Kini, Empat Musim Pertiwi sedang tayang di bioskop Indonesia. Film ini mengajak penonton menyelami pengalaman perempuan, kekuatan yang tumbuh di tengah kerentanan, serta hubungan antarmanusia yang terbentuk melalui pengalaman hidup.***

