BANDUNG, infobdg.com – Nostalgia musik era 2000-an terasa begitu kuat dalam gelaran Timeless Project Live Preanger Edition yang berlangsung di Laswi Heritage, Kota Bandung, Sabtu (19/9/2026).
Bukan hanya menjadi panggung bagi musisi lintas genre, acara tersebut juga menjadi ruang bagi para penonton untuk kembali menikmati lagu-lagu yang pernah menemani perjalanan mereka, sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam satu suasana.
Sejumlah musisi yang punya cerita panjang dengan skena musik Bandung tampil bergantian, di antaranya The Changcuters, Mocca, The Milo, Bottlesmoker, The Panturas, Teenage Death Star, La Luna, White Chorus, Karaokeset, Sarasvati, Pure Saturday hingga Doel Sumbang.
Bagi Ai (38), kehadiran Doel Sumbang menjadi salah satu alasan dirinya antusias datang ke Timeless Project Live Preanger Edition.
Menariknya, nama Ai juga sama dengan judul lagu Doel Sumbang yang belakangan kembali viral. Hal tersebut membuat momen menyaksikan lagu tersebut secara langsung terasa semakin spesial baginya.
Ai mengaku sangat menikmati suasana konser, terlebih ketika Doel Sumbang membawakan lagu tersebut di hadapan penonton.
“Senang banget bisa datang ke sini, apalagi ada Doel Sumbang. Ada lagu ‘Ai’ juga yang sekarang lagi ramai, dan kebetulan nama saya juga Ai. Jadi pas dengar langsung di panggung rasanya puas dan seru banget,” ujar Ai.
Menurutnya, Timeless Project Live berhasil menghadirkan suasana yang membuat penonton seperti kembali ke masa ketika lagu-lagu tersebut begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tak hanya penonton, sejumlah musisi yang tampil juga merasakan atmosfer nostalgia sekaligus reuni dalam gelaran tersebut.
Vokalis Mocca, Arina, mengaku senang bisa kembali tampil di Bandung dan bertemu dengan sejumlah musisi yang sudah lama dikenalnya.
“Rasanya seru banget karena banyak teman lama yang hadir, baik dari kalangan musisi maupun yang datang menonton. Jadi seperti reuni dan akhirnya bisa kembali bertemu setelah cukup lama,” kata Arina.
Menurut Arina, keseruan acara juga terlihat dari hadirnya penggemar Mocca dari berbagai generasi. Sebagian penonton yang dulu menikmati Mocca saat masih remaja kini bahkan datang bersama anak-anak mereka.
“Menariknya sekarang ada regenerasi. Dulu mereka datang masih remaja, sekarang sudah punya anak dan ikut membawa anaknya untuk menonton Mocca. Ada juga yang dulu masih TK dan sekarang sudah bisa menikmati Mocca secara langsung,” ujarnya.
Hal senada dirasakan vokalis The Milo, Aji Gergaji. Ia menyebut Preanger Edition terasa istimewa karena mempertemukan kembali musisi-musisi yang pernah tumbuh dan berkarya bersama di Bandung.
Menurut Aji, tampil dalam satu panggung dengan teman-teman lama menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangkitkan kembali cerita perjalanan mereka di skena musik Bandung.
“Yang bikin menyenangkan karena teman-teman dari Bandung bisa kumpul lagi. Kami juga bisa bermain bersama band-band yang dulu sering berkumpul dan bermain bareng. Jadi suasananya memang terasa seru,” ucap Aji.
Sementara itu, Doel Sumbang menilai kekuatan Timeless Project Live Preanger Edition terletak pada keberaniannya mempertemukan musisi dengan karakter musik yang berbeda.

Dalam satu panggung, penonton bisa menikmati karya dari Doel Sumbang, The Changcuters hingga Mocca yang masing-masing memiliki warna dan perjalanan musik berbeda.
Menurut Doel, konsep tersebut menjadi gambaran dari perjalanan musik Bandung yang memang tidak hanya lahir dari satu genre.
“Saya tertarik karena sejak awal ada upaya untuk mengakomodasi banyak genre musik. Ada saya, The Changcuters, Mocca dan lainnya. Buat saya, keberagaman seperti ini yang menarik,” tutur Doel.
Ia juga melihat konsep nostalgia yang diusung Timeless Project Live dapat membuat karya-karya lama kembali menemukan pendengarnya, termasuk dari kalangan generasi yang lebih muda.
“Memang ada niat untuk bernostalgia. Karya-karya lama yang dulu pernah populer kembali disuguhkan dan didengarkan oleh orang sekarang,” katanya.
Perwakilan RESONINE selaku promotor Timeless Project Live, Rijal Asikin, mengatakan Bandung dipilih sebagai lokasi Preanger Edition karena kota ini memiliki sejarah panjang sekaligus karakter yang kuat dalam perkembangan musik Indonesia.
Menurutnya, perjalanan sebuah generasi tidak hanya dibentuk oleh satu jenis musik. Ada banyak lagu, musisi, cerita dan momen yang menjadi bagian dari perjalanan seseorang di berbagai fase kehidupan.
“Bandung punya sejarah dan karakter musik yang sangat kuat. Karena itu, ketika kami menyiapkan Preanger Edition, kami ingin lineup-nya juga merefleksikan keberagaman cerita dan pengalaman musik yang dimiliki kota ini,” ungkap Rijal.
Ia mengatakan, Timeless Project Live tidak hanya ingin menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga memberikan pengalaman yang dapat dikenang oleh penonton setelah acara selesai.
“Harapannya, audiens pulang bukan hanya membawa dokumentasi acara, tetapi juga energi baru dan apresiasi terhadap perjalanan yang sudah mereka lalui,” pungkasnya.***

