WRI Indonesia dan Disbudpar Bandung Luncurkan Kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” untuk Tekan Sampah Makanan

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Upaya mengurangi sampah makanan di Kota Bandung terus diperkuat. World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung resmi meluncurkan kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” di Nara Park, Sabtu (11/7/2026).

Kampanye yang dijalankan di bawah program Urban Futures milik Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) ini menargetkan perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan dan mengurangi sampah makanan dari sumbernya.

Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI Indonesia, Tomi Haryadi, mengatakan sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) masih menjadi penyumbang terbesar sampah makanan di Kota Bandung.

“Data global menunjukkan bahwa sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta rumah tangga menjadi penyumbang utama sampah makanan. Hal ini selaras dengan temuan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung yang mengungkap bahwa 63% sampah makanan berasal dari sektor horeka sementara sisanya dari rumah tangga. Melalui kampanye ini, kami berharap dapat mendorong perubahan perilaku orang muda di Kota Bandung dalam mengonsumsi makanan mereka sehingga nantinya bisa memengaruhi kelompok masyarakat yang lebih luas,” ujar Tomi.

Program Development Manager Climate Justice Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Arti Indallah, menilai perubahan kebiasaan dalam mengonsumsi makanan juga menjadi bagian dari aksi nyata menghadapi perubahan iklim.

“Perubahan iklim merupakan isu keadilan, dan orang muda akan menjadi kelompok yang sangat terdampak tetapi sekaligus berperan besar untuk memimpin solusinya. Melalui kampanye ini, Urban Futures ingin menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan secara bijak dan mengurangi sampah makanan bisa menjadi aksi iklim yang nyata. Harapannya, pendekatan dalam kampanye ini dapat direplikasi ke kota-kota lain dan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menyebut sektor kuliner menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Bandung. Namun, tingginya sampah makanan dinilai dapat mengancam keberlanjutan sektor tersebut.

“Di Kota Bandung, sektor pariwisata, dengan kafe dan restoran sebagai pusat aktivitasnya, menjadi daya tarik utama yang menghidupkan kota. Namun, tingginya timbulan sampah makanan saat ini menjadi ancaman nyata bagi sektor ini. Melalui kampanye Tong Kalap, Tong Nyesa bersama WRI Indonesia di bawah program Urban Futures, kami berkomitmen untuk mendorong para pelaku usaha kafe dan restoran agar turut berkontribusi dalam mewujudkan ekosistem konsumsi yang lebih bertanggung jawab menuju pariwisata berkelanjutan di Bandung,” ujarnya.

Sebanyak 10 kafe dan restoran di Kota Bandung turut bergabung dalam kampanye ini, yakni Nara Park, Greens & Beans, Work.unusual, Milestone Coffee, NERD Laboratory, Tedja Koffee Jalan Aceh, Pho Ngon, Hutanika, Kopitera Burangrang, serta Bagi Kopi Signature.

Pemilik Nara Park, Erick Jusuf, mengatakan pelaku usaha kuliner juga memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi pelanggan agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan.

“Sebagai pelaku usaha kuliner, kami sadar bahwa juga menjadi tanggung jawab kami untuk dapat mengedukasi pelanggan untuk bisa lebih bijak dalam mengonsumsi makanan mereka. Kami senang dapat berkolaborasi dengan WRI Indonesia dan Disbudpar karena kampanye ini menjadi media kami untuk melakukan edukasi tersebut,” katanya.

Peluncuran kampanye juga diisi dengan diskusi bertajuk Bagaimana Pelibatan Orang Muda serta Kafe/Restoran Bisa Mengatasi Sampah Makanan di Bandung? yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan. Dalam diskusi tersebut, Co-Founder dan Chief of Impact and Marketing Plastavfall Solution, Adora Beata, menilai kesadaran anak muda Bandung terhadap pengelolaan sampah makanan sudah mulai tumbuh.

“Orang muda Bandung sudah lebih sadar untuk memilah sampah makanan, tetapi semangat kolektivitas antar komunitas orang muda perlu lebih ditingkatkan,” ujarnya.

Selain menggandeng sektor kuliner, kampanye ini juga menghadirkan kompetisi “Barudak Beraksi” yang mengajak generasi muda merancang solusi pengurangan sampah makanan di lingkungan komunitasnya. WRI Indonesia juga akan menggelar pelatihan “Barudak Ngajarkeun” untuk mencetak fasilitator pengelolaan sampah makanan di tingkat rumah tangga.

Rangkaian kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” akan berlangsung hingga Oktober 2026 dengan melibatkan pemerintah, pelaku usaha, serta komunitas anak muda sebagai penggerak utama perubahan perilaku konsumsi makanan di Kota Bandung.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat