BANDUNG, infobdg.com – Masyarakat Bandung Raya nampaknya masih bingung lantaran suhu di malam hari cukup dingin, padahal sudah memasuki musim kemarau. Namun ternyata, hal ini merupakan fenomena yang wajar.

Dikatakan oleh Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jawa Barat, Muhamad Iid Mujtahiddin, bahwa suhu dingin di malam hari masih merupakan bagian dari tanda-tanda datangnya periode musim kemarau.

Foto ilustrasi : bandungekspose.blogspot.com

“Iya, ini (suhu dingin) masih normal, tanda sudah masuk musim kemarau,” pungkas Iid, Jumat (12/8).

Pada saat musim kemarau, angin yang bertiup melewati Jawa Barat merupakan angin pasat tenggara (angin timuran) dari arah Benua Australia. Pada bulan Juli-September ini, Australia sedang mengalami puncak musim dingin sehingga suhunya relatif lebih dingin dibandingkan musim hujan.

Iid menjelaskan, fenomena suhu dingin yang terjadi saat ini di Bandung Raya pun dipengaruhi oleh masih adanya kelembaban pada ketinggian hingga 1,5 km di atas permukaan laut, sehingga pada sore hari adanya pembentukan awan masih terlihat. Namun, pada ketinggian 3 km di atas permukaan laut relatif kering sehingga potensi awan yang terbentuk untuk terjadi hujan lebih kecil. Dampaknya, kondisi kelembaban pada malam hingga pagi hari menambah kondisi suhu udara menjadi dingin.

Pantauan alat pengukur suhu udara selama bulan Juni 2019 mencatat, suhu udara terendah di Bandung Raya mencapai 16,6 derajat celcius per 12 Juli 2019. Puncak musim kemarau di Bandung Raya akan terjadi pada bulan Agustus-September, dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering.

Karena karakteristik cuaca yang seperti ini, BMKG Jawa Barat mengimbau kepada Wargi Bandung untuk tetap menjaga kondisi badan, salah satunya dengan mengenakan baju hangat setiap bepergian ke luar rumah serta mengonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Komentar

Total Komentar