BANDUNG, infobdg.com – Mempertahankan usaha kuliner selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah, terlebih di tengah menjamurnya tempat makan dengan beragam konsep. Namun, Warung Imah Babaturan tetap bertahan dengan identitasnya sebagai tempat makan yang menyajikan masakan rumahan di Kota Bandung.
Memasuki tahun ke-11 pada 2026, Imah Babaturan terus mengandalkan sajian yang akrab dengan keseharian masyarakat. Bukan sekadar menawarkan makanan, warung ini juga berupaya menghadirkan suasana hangat seperti ketika menyantap hidangan di rumah sendiri.
Perjalanan usaha tersebut menjadi bagian dari perbincangan dalam kegiatan media gathering bersama sejumlah awak media di Imah Babaturan cabang Tamansari, Bandung, Selasa (13/10). Dalam kesempatan itu, pemilik Imah Babaturan, Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta, berbagi cerita mengenai perjalanan usaha kuliner yang mereka bangun sejak 2015.
Nama Imah Babaturan berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah teman. Filosofi tersebut mencerminkan konsep yang diusung sejak awal, yakni tempat makan dengan suasana akrab dan sajian yang mengingatkan pelanggan pada masakan rumahan.
Di tengah tren kuliner yang terus berkembang, konsep sederhana itu menjadi identitas yang dipertahankan Imah Babaturan. Menu-menu yang dekat dengan keseharian menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman makan yang tidak terasa asing bagi pelanggan.
Perjalanan selama 11 tahun tentu tidak selalu berjalan mulus. Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pengelola, terutama untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi, harga jual, dan kualitas makanan.

Mohammad Nurul Hudha atau yang akrab disapa Uyul mengungkapkan, kenaikan harga bahan pangan turut menekan keuntungan usaha. Salah satu contohnya adalah harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram, kini mencapai Rp48.000 per kilogram.
Tekanan tersebut membuat pengelola perlu memperhitungkan kembali biaya yang dikeluarkan untuk setiap sajian. Di satu sisi, harga makanan perlu dijaga agar tetap terjangkau. Di sisi lain, kenaikan bahan baku membuat keuntungan semakin terbatas.
“Ya, mau gimana lagi. Margin semakin menipis. Kapaksa kita merugi dalam setiap porsi menu ayam yang disajikan,” ujar Uyul.
Tantangan lain datang dari perubahan jumlah pesanan. Uyul menyebut penjualan menu cumi sambal hijau yang sebelumnya mencapai sekitar 30 porsi per hari kini turun menjadi 20 porsi.

Meski demikian, keberlangsungan usaha tidak hanya berkaitan dengan penjualan makanan. Imah Babaturan juga menjadi tempat bergantung bagi para pekerjanya. Berdasarkan pemberitaan media, usaha ini memiliki sekitar 80 pekerja yang tersebar di dua cabang.
Hal tersebut membuat keberlanjutan bisnis menjadi bagian penting dari perjalanan Imah Babaturan. Menjaga usaha tetap berjalan berarti turut mempertahankan pekerjaan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Selama lebih dari satu dekade, Imah Babaturan menunjukkan bahwa eksistensi sebuah usaha kuliner tidak selalu harus dibangun melalui perubahan konsep atau mengikuti setiap tren yang muncul. Mempertahankan karakter, menjaga konsistensi sajian, dan membangun kedekatan dengan pelanggan juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah bisnis.
Memasuki usia ke-11, tantangan Imah Babaturan adalah menjaga agar pengalaman menikmati masakan rumahan tetap bisa dirasakan pelanggan di tengah perubahan biaya dan kondisi pasar. Identitas sebagai rumah makan dengan suasana akrab menjadi karakter yang terus dibawa dalam perjalanan usahanya di Bandung.
Sebelas tahun bukan sekadar penanda usia bisnis, melainkan perjalanan untuk terus menjaga tempat bagi masakan rumahan agar tetap memiliki ruang di tengah beragam pilihan kuliner yang semakin berkembang.***

