BANDUNG, infobdg.com – Bagi warga Desa Bojongmalaka, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, eceng gondok bukan sekadar tanaman air yang tumbuh di permukaan sungai. Keberadaannya justru menjadi persoalan yang berulang, terutama ketika tanaman tersebut menumpuk dan menyumbat aliran sungai hingga mengganggu pasokan air menuju lahan pertanian.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Padjadjaran melalui program Agradarma 2026 menghadirkan sebuah upaya untuk mengubah permasalahan lingkungan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pada 12 Juli 2026, mereka memperkenalkan GONDORESIK, singkatan dari Pemanfaatan Eceng Gondok untuk Remediasi dan Kompos Organik.
Melalui program ini, eceng gondok yang sebelumnya dianggap sebagai sumber masalah tidak hanya dibersihkan dan dibuang. Tim Agradarma 2026 melihat adanya potensi untuk mengolah tanaman air tersebut menjadi kompos organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat, khususnya untuk mendukung kegiatan pertanian.
Mengubah Masalah Menjadi Manfaat
Gagasan utama GONDORESIK berangkat dari pemanfaatan eceng gondok yang melimpah di sungai. Tanaman tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku kompos organik yang kaya akan unsur hara dan asam humat.
Dengan pendekatan tersebut, eceng gondok tidak lagi hanya dipandang sebagai tanaman yang menghambat aliran sungai. Sebaliknya, tanaman yang sebelumnya menjadi sumber persoalan diarahkan untuk menjadi bagian dari solusi bagi kebutuhan masyarakat.
Program GONDORESIK dimulai dengan kegiatan pembersihan sungai yang dilakukan bersama warga. Mahasiswa dan masyarakat turun langsung untuk mengangkat eceng gondok yang memenuhi aliran sungai, kemudian mencacah tanaman tersebut sebagai persiapan untuk proses pengolahan selanjutnya.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi langsung antara tim Agradarma 2026 dan masyarakat Desa Bojongmalaka. Selain membantu membersihkan sungai, warga juga dilibatkan dalam pengumpulan bahan yang nantinya akan diolah menjadi kompos.
Belajar Membuat Kompos dari Eceng Gondok
Setelah proses pengumpulan dan pencacahan eceng gondok, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi serta demonstrasi pembuatan kompos organik.
Dalam sesi tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai potensi dan manfaat eceng gondok sebagai bahan kompos. Warga juga diajak untuk melihat sekaligus mencoba langsung proses pembuatannya.
Keterlibatan langsung masyarakat menjadi bagian penting dari program ini. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai informasi selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat terus diterapkan secara mandiri oleh warga setelah program Agradarma 2026 selesai.
Monitoring hingga Kompos Siap Digunakan
Proses GONDORESIK tidak berhenti setelah bahan kompos dibuat. Tim Agradarma 2026 juga melakukan monitoring terhadap perkembangan kompos dari waktu ke waktu.
Monitoring dilakukan melalui pembalikan kompos secara berkala serta pemantauan kualitasnya. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan proses pengomposan berjalan dengan baik dan kompos yang dihasilkan benar-benar matang serta siap dimanfaatkan.
Dengan adanya pendampingan tersebut, proses pengolahan eceng gondok tidak hanya berakhir menjadi tumpukan tanaman yang membusuk, tetapi diarahkan hingga menghasilkan kompos organik yang dapat digunakan.
Dari Sungai Bersih untuk Pertanian yang Berkelanjutan
Melalui GONDORESIK, masyarakat Desa Bojongmalaka mendapatkan manfaat lebih dari sekadar lingkungan sungai yang lebih bersih. Program ini juga membuka peluang bagi warga untuk memperoleh keterampilan baru dalam mengolah eceng gondok menjadi kompos organik.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat, bahkan setelah rangkaian program pengabdian selesai.
GONDORESIK menjadi gambaran bagaimana persoalan lingkungan dapat didekati melalui pemanfaatan potensi yang ada di sekitar masyarakat. Eceng gondok yang sebelumnya menyumbat sungai dan mengganggu aktivitas pertanian kini diarahkan menjadi sumber daya yang dapat memberikan manfaat kembali.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, program Agradarma 2026 mencoba menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus datang dari sesuatu yang baru. Terkadang, potensi untuk menyelesaikan persoalan justru dapat ditemukan dari masalah yang selama ini ada di sekitar.

