SUMEDANG, infobdg.com – Faperta Social Village 2026 mengenalkan pemanfaatan limbah jagung menjadi silase sebagai alternatif pakan ternak kepada masyarakat Dusun Awiluar, Desa Ciuyah, Kabupaten Sumedang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan limbah hasil program kerja garap lahan jagung seluas 200 bata yang sebelumnya telah dilaksanakan bersama masyarakat setempat dengan menerapkan sistem Integrated Farming System (IFS).
IFS merupakan sistem yang menggabungkan sektor pertanian dan peternakan dengan prinsip mengolah limbah dari satu komponen menjadi input bagi komponen lainnya. Melalui pendekatan tersebut, limbah jagung yang dihasilkan dari kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan ternak.
Optimalkan Potensi Lokal Desa
Demonstrasi pembuatan silase dilaksanakan pada 26 Juli 2026 sebagai langkah untuk mengenalkan alternatif pakan ternak yang memanfaatkan potensi lokal desa.
Dalam proses pembuatannya, sebanyak 50 kilogram limbah jagung yang telah dicacah dicampurkan dengan 10 kilogram dedak aromatik, molase, dan EM4. Dari bahan tersebut dihasilkan sekitar 160 liter silase.
Setelah proses pembuatan selesai, bahan difermentasi selama minimal tujuh hari. Selanjutnya, kematangan silase diperiksa berdasarkan indikator keberhasilan sebelum dapat diberikan kepada ternak.
Silase yang telah dibuat kemudian diaplikasikan secara langsung kepada ternak pada 16 Agustus 2026.
Selain menjadi alternatif pakan yang lebih tahan lama, silase diharapkan dapat membantu peternak menghemat waktu dan tenaga dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak setiap hari. Pemanfaatan ini juga menjadi alternatif yang berpotensi membantu peternak ketika ketersediaan hijauan berkurang pada musim kemarau.
Antusiasme Masyarakat dan Peternak
Antusiasme masyarakat terlihat selama proses demonstrasi pembuatan hingga aplikasi silase kepada ternak. Salah seorang peternak, Pak Agus, mengaku tertarik dengan penggunaan silase karena dinilai dapat membantu meringankan pekerjaannya dalam memenuhi kebutuhan pakan domba.
“Agar tidak capek untuk memberi pakan domba dan agar domba bisa cepat gemuk. Untuk memenuhi bahan seperti EM4 dan molase juga mudah ditemukan dan kesanggupan peternak untuk harga bahan juga murah,” ujar Pak Agus.

Keterjangkauan bahan serta biaya pembuatan menjadi salah satu alasan masyarakat melihat silase sebagai alternatif yang potensial untuk diterapkan.
Pemanfaatan limbah jagung menjadi silase juga menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Faperta Social Village 2026 untuk menghadirkan solusi berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat, melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

