BANDUNG, infobdg.com – Edukasi keuangan bagi generasi muda menjadi salah satu perhatian dalam gelaran Financial Expo (FinExpo) 2026 di Bandung. Melalui kegiatan tersebut, PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) memperkenalkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG) sebagai upaya meningkatkan pemahaman Gen Z dan Milenial dalam mengelola keuangan.
Kegiatan yang berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 di Trans Studio Mall Bandung ini merupakan bagian dari puncak rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam partisipasinya, Easycash menghadirkan berbagai aktivitas edukasi untuk mengenalkan pengelolaan keuangan secara bijak, termasuk pemahaman mengenai arus kas, manajemen utang, reputasi kredit, hingga cara membedakan penyelenggara pinjaman daring (pindar) legal dan pinjaman online (pinjol) ilegal.
Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo mengatakan, MOJANG dikembangkan bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia.
Menurutnya, modul tersebut dirancang dengan pendekatan komunikatif dan inovatif agar materi literasi keuangan lebih mudah dipahami serta dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
“Melalui MOJANG, Easycash berharap dapat memberi bekal edukasi kepada lebih banyak anak muda agar mampu mengelola dan mengambil keputusan keuangan yang bijak, dan membangun masa depan yang lebih baik,” ujar Nucky di Bandung, Minggu (1/11).
Program MOJANG juga berhasil masuk dalam lima besar nominasi penjurian final Financial Literacy Award 2026 yang diselenggarakan OJK. Program tersebut masuk kategori Edukasi Pelindungan Konsumen Terinovatif untuk Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK).

Selama FinExpo 2026, Easycash menggelar sejumlah kegiatan edukasi melalui booth literasi keuangan. Selain itu, perusahaan tersebut turut mengisi sesi bincang-bincang bersama Ardan Radio pada 30 Oktober dan sesi edukasi di ministage pada 31 Oktober 2026.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan, khususnya bagi masyarakat dan generasi muda di Bandung.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia tercatat mencapai 93,61 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada di angka 69,57 persen.
Sementara di Jawa Barat, indeks inklusi keuangan mencapai 95,67 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional. Meski demikian, indeks literasi keuangannya baru menyentuh 67,14 persen.
Data tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara akses masyarakat terhadap layanan keuangan dengan pemahaman dalam menggunakannya.
OJK juga mencatat outstanding pendanaan pinjaman daring di Jawa Barat hingga Agustus 2026 mencapai Rp30,93 triliun atau sekitar 26,5 persen dari total outstanding nasional.
Nucky menilai, meningkatnya akses terhadap layanan keuangan digital harus dibarengi pemahaman mengenai manfaat, risiko, serta tanggung jawab penggunanya.
Ia menegaskan, kolaborasi antara regulator, pelaku industri jasa keuangan, asosiasi, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar perluasan inklusi keuangan berjalan seiring dengan peningkatan literasi serta pelindungan konsumen.
Melalui MOJANG, Nucky berharap semakin banyak generasi muda yang mampu memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak. Langkah tersebut juga diharapkan dapat mendukung terciptanya inklusi keuangan yang berkualitas dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.***

