BANDUNG, infobdg.com – Harga minyak goreng di Kota Bandung beberapa pekan terakhir ini tengah mengalami kenaikan.

Pantauan Infobdg di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, saat ini harga minyak goreng curah mencapai Rp20.000 per liter-nya. Sementara harga minyak goreng kemasan mencapai Rp19.000 per liter.
“Sekarang minyak curah sampai Rp20.000 per liter terakhir. Kemarin masih Rp17.000, naik lagi ke Rp18.000, sampe ke harga Rp20.000,” beber Aceng, pemilik salah satu jongko sembako di Pasar Cikaso, Bandung, pada Kamis (11/11).
Hal ini pun membuat Disdagin Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dan tidak panik saat berbelanja. Disdagin Kota Bandung memastikan pasokan minyak goreng di Kota Bandung tetap aman.
Dikatakan Kepala Bidang Distribusi dan Perdagangan Pengawasan Kemetrologian Disdagin Kota Bandung, Meiwan Kartiwa, bahwa pembelian secara panik dari masyarakat justru akan memberikan dampak lain yang bisa berpengaruh kurang baik terhadap minyak goreng di pasaran.
“Jangan panic buying terkait adanya kenikan ataupun isu kelangkaan. Insyaallah, tidak ada kelangkaan. Jangan menumpuk minyak besar-besaran, itu akan memicu dampak lain,” harap Meiwan, di Balai Kota Bandung, Kamis (11/11).
Meiwan menuturkan, kenaikan harga minyak goreng ini merupakan isu nasional, karena terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Persoalan ini sudah menjadi perhatian pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan.
Menurut informasi dari pemerintah pusat, kenaikan minyak goreng akibat naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah sebagai bahan utama minyak goreng.
“Kenaikan harga ini pemicunya adalah seperti yang dikatakan Kemendag, yaitu dipicu kenaikan harga CPO. Karena harga CPO mengikuti harga pasaran minyak dunia, dan CPO ini adalah bahan baku utama minyak goreng,” ujar dia.
“Selain itu, produksi kelapa sawit juga mengalami penurunan. Sehingga harga cenderung merangkak naik,” imbuhnya.
Meski masalah harga dipengaruhi oleh harga pasaran minyak dunia dan kewenangannya di pemerintah pusat, Meiwan menyatakan, Disdagin Kota Bandung tak lantas tinggal diam. Pihaknya terus memantau dan berkoordinasi untuk menjaga ketersediaan stok minyak goreng di pasaran.
“Kita terus memantau harga dan pasokan distribusinya. Jangan sampai pasokannya tidak ada. Hasil pemantauan di lapangan, barangnya insyaallah masih ada. Kita terus koordinasi dengan Disindag Jabar dan koordinasi dengan distributor dan Aprindo,” tandasnya.
tinggi (HET) Rp 11.000 per liter, dan rata-rata harga produsen mencapai Rp 18.167 per liter.
“Sekarang minyak curah sampai Rp20.000 per liter terakhir. Kemarin masih Rp17.000, naik lagi ke Rp18.000, sampe ke harga Rp20.000,” beber Aceng, pemilik salah satu jongko sembako di Pasar Cikaso, Bandung, pada Kamis (11/11).
Hal ini pun membuat Disdagin Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dan tidak panik saat berbelanja. Pasalnya, Disdagin Kota Bandung memastikan pasokan minyak goreng di Kota Bandung tetap aman.
Dikatakan Kepala Bidang Distribusi dan Perdagangan Pengawasan Kemetrologian Disdagin Kota Bandung, Meiwan Kartiwa, bahwa pembelian secara panik dari masyarakat justru akan memberikan dampak lain yang bisa berpengaruh kurang baik terhadap minyak goreng di pasaran.
“Jangan panic buying terkait adanya kenikan ataupun isu kelangkaan. Insyaallah, tidak ada kelangkaan. Jangan menumpuk minyak besar-besaran, itu akan memicu dampak lain,” harap Meiwan, di Balai Kota Bandung, Kamis (11/11).
Meiwan menuturkan, kenaikan harga minak goreng ini merupakan isu nasional, karena terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Persoalan ini sudah menjadi perhatian pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan.
Menurut informasi dari pemerintah pusat, kenaikan minyak goreng akibat naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah sebagai bahan utama minyak goreng.
“Kenaikan harga ini pemicunya adalah seperti yang dikatakan Kemendag, yaitu dipicu kenaikan harga CPO. Karena harga CPO mengikuti harga pasaran minyak dunia, dan CPO ini adalah bahan baku utama minyak goreng,” ujar dia.
“Selain itu, produksi kelapa sawit juga mengalami penurunan. Sehingga harga cenderung merangkak naik,” imbuhnya.
Meski masalah harga dipengaruhi oleh harga pasaran minyak dunia dan kewenangannya di pemerintah pusat, Meiwan menyatakan, Disdagin Kota Bandung tak lantas tinggal diam. Pihaknya terus memantau dan berkoordinasi untuk menjaga ketersediaan stok minyak goreng di pasaran.
“Kita terus memantau harga dan pasokan distribusinya. Jangan sampai pasokannya tidak ada. Hasil pemantauan di lapangan, barangnya insyaallah masih ada. Kita terus koordinasi dengan Disindag Jabar dan koordinasi dengan distributor dan Aprindo,” tandasnya.


