BANDUNG, infobdg.com – Di tengah tren nama anak yang kini makin modern dan kebarat-baratan, sebuah komunitas unik bernama Paguyuban Asep Dunia terus berupaya menjaga eksistensi nama lokal Sunda agar tidak hilang ditelan zaman.
Komunitas ini rutin menggelar acara kumpul bersama yang diisi oleh orang-orang bernama Asep. Uniknya, hampir seluruh orang yang hadir, mulai dari panitia, peserta, hingga pedagang di lokasi, memiliki nama yang sama.
Fenomena tersebut muncul dari keresahan bahwa nama “Asep” kini mulai jarang digunakan oleh generasi muda. Padahal, nama Asep berasal dari kata Sunda “Kasep” yang memiliki arti tampan.
Dalam video yang diunggah kanal YouTube Liputan6, anggota Paguyuban Asep Dunia mengaku ingin menjaga identitas budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Mereka berharap nama-nama khas daerah tidak hilang hanya karena dianggap kurang modern.
Saat ini, banyak orang tua memilih nama anak yang terdengar internasional atau bernuansa religius. Akibatnya, nama lokal seperti Asep mulai dianggap kuno dan bahkan dikhawatirkan bisa menjadi bahan candaan di lingkungan sosial.
Padahal, tren pemberian nama di Indonesia memang terus berubah dari masa ke masa. Mulai dari pengaruh budaya Hindu-Buddha, tren nama Barat, hingga nama bernuansa Arab yang kini semakin populer digunakan.
Meski begitu, jumlah orang bernama Asep ternyata masih sangat banyak. Dalam video tersebut disebutkan ada sekitar 7 juta orang bernama Asep yang tersebar di berbagai wilayah dunia.
Nama Asep pun tidak hanya ditemukan di Jawa Barat atau di kalangan masyarakat Sunda saja. Ada pemilik nama Asep yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, bahkan hingga luar negeri seperti Prancis, Bosnia-Herzegovina, dan Arab Saudi.
Salah satu kisah unik datang dari seorang bernama Asep Purwani asal Jawa Tengah yang diberi nama tersebut karena lahir pada awal bulan September.
Melalui komunitas ini, Paguyuban Asep Dunia berharap generasi mendatang tetap bangga menggunakan nama lokal sebagai bagian dari identitas budaya daerah.


