BANDUNG, INFOBDG.com – Pelatih kiper PERSIB, Mario Jozic, memastikan Teja Paku Alam dan Fitrul Dwi Rustapa berada dalam kondisi siap untuk menghadapi Manila Digger pada laga play-off AFC Champions League (ACL) Two 2026/2027.
PERSIB masih memiliki waktu sekitar 10 hari untuk mempersiapkan pertandingan yang akan berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin, 31 Agustus 2026.
Mario Jozic menilai waktu persiapan tersebut cukup untuk membuat Teja dan Fitrul berada dalam kondisi terbaik. Ia mengaku tidak memiliki kekhawatiran terhadap performa kedua penjaga gawang tersebut.
“Saya rasa Teja dan Fitrul akan siap untuk pertandingan ini. Saya tidak merasa khawatir sedikit pun tentang pertandingan atau performa mereka. Saya tenang, dan saya ingin mereka berdua juga tenang serta memberikan yang terbaik untuk tim,” ujar Mario Jozic.
Mario Jozic Soroti Perkembangan Fitrah Maulana
Selain kondisi Teja dan Fitrul, Mario Jozic turut memberikan pandangannya mengenai perkembangan Fitrah Maulana.
Kiper muda PERSIB tersebut mendapat kesempatan tampil sebagai starter pada pertandingan terakhir. Menurut Jozic, kesempatan tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan seorang penjaga gawang muda.
Jozic menilai Fitrah memiliki prospek yang sangat baik. Namun, sebagai pemain muda, ia masih harus menghadapi berbagai situasi dan belajar dari setiap pengalaman yang didapatkan.
“Dia masih muda, dia adalah kiper muda yang sangat berprospek. Jadi, ketika masih muda, wajar jika mengalami naik-turun performa,” ujar Jozic.
Jozic juga mengingatkan Fitrah agar mampu menjaga fokus dan tidak mudah terdistraksi oleh berbagai hal di luar lapangan, termasuk media sosial.
Menurutnya, karier seorang pesepak bola berlangsung singkat. Karena itu, pemain harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk terus berkembang.
Jozic menekankan bahwa tanggung jawab seorang pemain tidak berhenti ketika sesi latihan atau pertandingan selesai. Seorang penjaga gawang harus melakukan evaluasi terhadap penampilannya.
“Kalau kamu bisa fokus saat latihan, satu setengah atau dua jam, dan saat pertandingan, itu tidaklah berat. Tapi ketika latihan dan pertandingan selesai, tugasmu belum selesai. Kamu harus berpikir tentang apa yang sudah kamu lakukan dengan baik dan buruk saat latihan, begitu juga saat pertandingan,” katanya.
Minta Fitrah Tetap Stabil
Mario Jozic juga menjelaskan bahwa perkembangan seorang kiper berlangsung melalui beberapa tahapan. Saat masih muda, pemain harus mempelajari dasar-dasar permainan sebelum kemudian berkembang dan menggabungkan seluruh pengalaman tersebut ketika memasuki level senior.
Menurut Jozic, naik-turun performa merupakan sesuatu yang normal dalam perjalanan karier seorang penjaga gawang.
“Normal jika ada pasang-surut, hal baik dan hal buruk. Tapi jika sikapmu stabil seperti ini—tidak melambung tinggi lalu anjlok—itu yang terpenting,” tuturnya.
Jozic berharap Fitrah mampu menjaga kestabilan dalam setiap situasi, baik ketika PERSIB meraih kemenangan maupun saat mengalami kekalahan.
Menurutnya, kemampuan menjaga sikap dan performa tetap stabil akan menjadi modal penting bagi Fitrah untuk berkembang, sekaligus memberikan dampak positif bagi penjaga gawang PERSIB lainnya.
“Kalau kamu tetap stabil, baik saat menang maupun kalah, itu sangat bagus untuk dia dan untuk para kiper lainnya,” pungkas Mario Jozic.
Mario Jozic Buka Peluang PERSIB Tambah Kiper
Mario Jozic juga ditanya mengenai kemungkinan PERSIB menambah penjaga gawang baru untuk menghadapi padatnya kompetisi musim 2026/2027.
Ia tidak menutup kemungkinan tersebut. Namun, Jozic menegaskan keputusan terkait perekrutan pemain bukan berada di tangannya.
“Mungkin ya, mungkin tidak, tapi itu bukan tugas saya,” kata Jozic sambil tertawa.
Meski demikian, Jozic mengakui PERSIB secara umum bisa membutuhkan tambahan kiper. Hal tersebut berkaitan dengan banyaknya kompetisi yang harus dijalani serta potensi masalah yang dapat muncul sepanjang musim.
Jika menghitung Piala Presiden, PERSIB akan menghadapi sedikitnya lima kompetisi. Selain jadwal pertandingan yang padat, perjalanan jauh juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan.
“Kalau memperhitungkan Piala Presiden, ini ada lima kompetisi. Termasuk perjalanan jauh ini, dan Indonesia juga negara yang sangat besar, banyak perjalanan, banyak pertandingan, mungkin ada cedera, kartu merah, kartu kuning. Ya, ini alasannya mengapa kita mungkin membutuhkan kiper baru,” tuturnya.

