Kata Badan Geologi Soal Amblesnya Tanah di Cekungan Bandung

241

BANDUNG, infobdg.com – Baru-baru ini, masyarakat tengah dikejutkan dengan isu amblasnya permukaan tanah di wilayah cekungan Bandung. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah land subsidence.

Hasil kajian yang dilakukan oleh tim Geodesi ITB menyebutkan bahwa amblesan tanah yang terjadi di kawasan Bandung Raya ini sebagai yang tercepat dan terluas di dunia, mencapai 20 cm per tahun, di mana faktor utama penyebabnya adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan.

Menanggapi hal tersebut, Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral membenarkan bahwa cekungan Bandung mengalami penurunan muka tanah, namun eksploitasi air yang berlebihan bukanlah satu-satunya faktor penyebabnya.

“Kalau kami lihat penurunan tanah di Bandung itu memang terjadi secara alami, secara kondisi geografis nya itu memungkinkan. Tapi faktornya bukan hanya pengerukan air tanah saja,” ungkap Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Ir. Andiani, Jumat (13/12), di Bandung.

Terdapat beberapa kawasan di wilayah dataran Bandung yang merupakan daerah endapan danau purba, dibuktikan dengan nama-nama desa yang memakai istilah “Ranca” yang berarti rawa. Kawasan danau purba ini meluas mulai dari barat Cicalengka, Rancaekek, utara Majalaya, Ciparay, dan Dayeuhkolot yang endapannya didominasi oleh lempung hitam. Sedangkan Dayeuhkolot ke barat sampai Katapang endapannya dipengaruhi oleh material vulkanik. Sifat dari lempung hitam ini sangat lunak dan mempunyai kompresibilitas yang sangat tinggi, sehingga secara alami dengan beban ketebalan lapisan lempungnya sendiri lempung ini akan mengalami penurunan.

Kawasan yang mempunyai endapan lempung hitam paling tebal berada di antara Dayeuhkolot dan Ciparay, serta antara Rancaekek-Solokan Jeruk-Cicalengka. Pada Kawasan ini pula banyak dijumpai pemukiman warga yang padat dan kawasan industri yang berpotensi menimbulkan beban yang akan menekan pada lapisan lempung hitam yang ada di bawahnya. Namun juga terdapat beberapa area kosong berupa pesawahan yang terindikasikan mengalami penurunan muka tanah.

Melihat kondisi tersebut, Andiani menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi amblesnya tanah, terutama di kawasan Bandung Raya.

Kami lihat sebenarnya ada tiga hal, kalau daerah industri kan ada beban bangunan juga di sana, disamping pengambilan air, beban bangunan, kondisi geologinya juga secara alami merupakan lempung yang mudah mengalami penurunan. Baru dilihat faktor mana yang dominan, nah ini perlu dilakukan kajian lebih lanjut,” beber Andiani.

Andiani mengatakan bahwa pihaknya sudah sejak lama menjadikan cekungan Bandung sebagai bahan kajian. Secara geologi pun, ada endapan di cekungan Bandung yang akan mengalami penurunan secara alami. Sehingga menurutnya hal tersebut bukanlah hal baru.

“Sebenarnya kami tidak terlalu kaget degan isu tersebut, hanya saja kami kurang setuju dengan pernyataan jika dikatakan penurunan tanah Bandung tercepat dan terluas di dunia,” tandasnya.