BANDUNG, infobdg.com — Pertumbuhan investor pasar modal di Jawa Barat terus menunjukkan tren positif. Hingga akhir Mei 2026, provinsi ini tercatat sebagai wilayah dengan jumlah investor terbesar di Indonesia, mencapai 5,53 juta investor, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu motor utama pengembangan pasar modal nasional.
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa Kota Bandung menyumbang 403.572 investor atau sekitar 7,3 persen dari total investor di Jawa Barat. Angka tersebut menempatkan Bandung di posisi keempat kota dan kabupaten dengan jumlah investor terbanyak di provinsi tersebut.
Informasi itu disampaikan KSEI dalam rangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal yang digelar di Bandung. Kegiatan tersebut melibatkan media, pengurus Galeri Investasi di Jawa Barat, serta perusahaan efek melalui program pelatihan khusus bagi para tenaga edukasi pasar modal.
Kepala Unit Pengelolaan Efek KSEI A.M. Anggita Maharani mengungkapkan bahwa investor di Kota Bandung masih didominasi kelompok usia muda. Sebanyak 71,99 persen investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dan rentang usia 31–40 tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut sejalan dengan tren nasional yang memperlihatkan peningkatan signifikan jumlah investor muda dalam beberapa tahun terakhir. Dari sisi profesi, mayoritas investor di Bandung berasal dari kalangan karyawan, baik pegawai swasta, aparatur sipil negara, tenaga pendidik, maupun anggota TNI dan Polri yang telah pensiun.

Secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia hingga akhir Mei 2026 telah mencapai 27,75 juta investor. Jumlah tersebut mencakup investor saham, reksa dana, surat utang, surat berharga negara, hingga instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah investor nasional meningkat sekitar 36 persen.
Untuk mengimbangi pertumbuhan investor yang terus meningkat, KSEI juga memperkuat infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung operasional pasar modal. Salah satunya melalui sistem The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) yang digunakan untuk pengelolaan efek, pembukaan Sub Rekening Efek, distribusi aksi korporasi, hingga penyelesaian transaksi.
Hingga Mei 2026, sistem tersebut mencatat total aset senilai Rp7.989,55 triliun dengan jumlah efek yang tersimpan mencapai 3.712 instrumen. Selain itu, KSEI juga mengelola Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) yang digunakan dalam administrasi reksa dana dan TAPERA melalui pengembangan platform S-MULTIVEST.
Data terbaru menunjukkan nilai Asset Under Management (AUM) yang tercatat dalam S-INVEST telah mencapai Rp988 triliun dengan jumlah produk reksa dana sebanyak 1.962 produk.
Dalam sesi bersama pengelola Galeri Investasi, KSEI turut memperkenalkan berbagai layanan yang mendukung transparansi dan perlindungan investor. Beberapa layanan tersebut antara lain Single Investor Identification (SID), Sub Rekening Efek (SRE), Investor Fund Account Unit (IFUA), fasilitas AKSes KSEI untuk memantau portofolio investasi secara daring, serta platform eASY.KSEI yang mendukung penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham secara elektronik.
KSEI juga memaparkan sejumlah program strategis berbasis teknologi yang tengah dikembangkan. Salah satunya adalah Centralized Investor Data Management System (CORES.KSEI), sebuah platform terpusat yang dirancang untuk digitalisasi dan berbagi data know your customer (KYC) sehingga proses pembukaan rekening investasi dapat berlangsung lebih efisien tanpa pengulangan dokumen.
Selain itu, KSEI memperkenalkan KSEI Cash Management System (K-CASH), sistem pengelolaan dana yang dirancang untuk transaksi reksa dana. Melalui pemanfaatan IFUA, investor dapat memantau posisi dana secara lebih transparan selama proses transaksi berlangsung.
Melalui rangkaian kegiatan edukasi di Bandung ini, KSEI berharap pemahaman masyarakat terhadap perkembangan pasar modal semakin meningkat. Informasi yang diperoleh peserta juga diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat luas sehingga mendorong partisipasi investasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.***

