BANDUNG, infobdg.com – Pemerintah Kota Bandung segera menggelar operasi pasar untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga beras. Rencananya, operasi pasar ini akan berlangsung selama 10 hari, dimulai dari tanggal 19 Februari hingga 1 Maret.
Dilansir dari halaman resmi Jabar Tribunnews, Ronny Ahmad Nurudin, Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung, menjelaskan bahwa operasi pasar akan dilakukan di 30 kecamatan secara bergiliran. Stok beras medium di Bulog aman, dengan rencana distribusi sebanyak 10 ton.
“Stok beras medium di Bulog aman dan akan didistribusikan sebanyak 10 ton. Setiap warga hanya boleh beli 10 kilogram dalam dua kemasan,” ungkap Ronny di Balai Kota, Selasa (13/2).
Operasi pasar beras ini akan dilakukan dalam dua gelombang, masing-masing selama lima hari. Gelombang pertama akan berlangsung dari tanggal 19 Februari hingga 23 Februari di 15 kecamatan, sementara gelombang kedua akan dilakukan dari tanggal 25 Februari hingga 1 Maret di kecamatan lainnya.
Harga beras yang ditawarkan dalam operasi pasar ini lebih rendah dari harga pasar, yaitu Rp10.900 per kilogram atau Rp54.500 per kemasan 5 kilogram. Menurut Ronny, jika warga membludak beli beras maka setiap warga hanya boleh membeli lima kilogram.
“Namun kendala tersebut bisa diselesaikan dengan segera oleh para petugas,” tambahnya.
Tedy Rusmawan, Ketua DPRD Kota Bandung, menyatakan bahwa operasi pasar beras ini sangat mendesak dilakukan mengingat harga beras di pasaran saat ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), bahkan mencapai Rp 17.000 per kilogram di warung. Ia berharap operasi pasar ini dapat menstabilkan harga beras dan meminta Bulog untuk segera menggelontorkan stok beras medium ke pasar ritel dan tradisional.
Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), memprediksi bahwa harga beras kemungkinan akan tetap tinggi hingga beberapa bulan ke depan karena produksi beras lokal masih terbatas.
Dia juga mengingatkan pemerintah untuk memastikan pasokan beras yang memadai agar tidak terjadi kenaikan harga yang dapat menimbulkan masalah sosial-politik. Selain itu, Khudori menyoroti pentingnya bantuan bagi kelompok masyarakat rentan yang berada di atas garis kemiskinan agar tidak terjerumus menjadi miskin baru akibat kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya.
Badan Pangan Nasional telah menugaskan Bulog untuk menggelar operasi pasar bernama SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), di mana beras SPHP ditawarkan dengan harga lebih terjangkau untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, Khudori juga menekankan perlunya pemerintah untuk meninjau kembali HET beras mengingat harga gabah di pasar yang juga melambung tinggi.


