BANDUNG, infobdg.com – Perkembangan teknologi medis turut membawa perubahan dalam penanganan masalah tulang belakang. Salah satunya melalui penggunaan robotic navigation yang membantu dokter meningkatkan ketepatan dalam melakukan tindakan bedah.
Teknologi tersebut diperkenalkan RS Premier Bintaro dalam Media Gathering bertajuk “Penanganan Terkini Problem Tulang Belakang dengan Navigasi Robotic” di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung, Kamis (17/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Orthopaedic Spine Surgeon RS Premier Bintaro, dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine), menjelaskan bahwa tulang belakang merupakan struktur kompleks yang terdiri atas tulang, sendi, diskus, ligamen, serta struktur saraf.
Berbagai kondisi dapat memengaruhi fungsi tulang belakang, mulai dari penyakit degeneratif, deformitas, hingga trauma.

Seiring bertambahnya usia, gangguan tulang belakang dapat ditandai dengan keluhan seperti nyeri punggung yang berulang hingga nyeri kronis yang dapat menjalar. Pada kondisi tertentu, pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk tindakan operasi.
Menurut Asrafi, perkembangan teknik operasi tulang belakang kini mengarah pada pendekatan minimal invasive spine surgery atau bedah tulang belakang minimal invasif.
Berbeda dengan operasi konvensional, pendekatan minimal invasif berupaya meminimalkan kerusakan jaringan selama prosedur. Hal tersebut dapat membantu proses pemulihan pasien sekaligus mendukung ketepatan dalam pemasangan implan.
Namun, semakin kompleks kondisi tulang belakang yang ditangani, semakin besar pula kebutuhan terhadap perencanaan dan ketepatan selama operasi.
Untuk itu, teknologi navigasi robotik dapat digunakan sebagai alat bantu dokter, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan tindakan.
RS Premier Bintaro menggunakan sistem Globus Excelsius GPS dalam sejumlah prosedur bedah tulang belakang.

Menurut Asrafi, sistem tersebut dapat membantu dokter dalam pre-operative planning atau perencanaan sebelum operasi serta memberikan panduan selama tindakan berlangsung melalui intraoperative guidance.
Teknologi ini juga dapat digunakan dalam penanganan kasus dengan anatomi tulang belakang yang kompleks, termasuk skoliosis dan kondisi dengan bentuk pedikel yang tidak normal.
Salah satu bagian penting dalam operasi tulang belakang adalah pemasangan pedicle screw, yakni implan yang ditempatkan pada bagian tertentu dari tulang belakang untuk membantu stabilisasi.
Pada pasien dengan deformitas tulang belakang, proses penempatan implan membutuhkan tingkat ketepatan yang tinggi. Posisi implan yang tidak sesuai dapat berisiko masuk ke kanal tulang belakang atau keluar dari struktur tulang yang seharusnya.
Karena itu, perencanaan dan panduan selama operasi menjadi bagian penting dalam prosedur tersebut.
Asrafi menekankan bahwa teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter. Teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan akurasi dan membantu dokter menghadapi kondisi anatomi yang lebih kompleks.
Selain membantu dokter dalam melakukan tindakan, penerapan teknologi dalam bedah tulang belakang juga diharapkan dapat mendukung proses pemulihan pasien.
Dalam pemaparan media gathering tersebut disebutkan bahwa penggunaan teknologi robotik dalam operasi tulang belakang dapat membantu mengurangi rasa nyeri, mempercepat proses pemulihan, serta mempersingkat masa rawat inap.
Sementara itu, Manager Marketing RS Premier Bintaro Chintami Handayani Passat mengatakan, kegiatan media gathering di Bandung menjadi bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan layanan dan teknologi kesehatan kepada masyarakat.
“Kami berharap kehadiran di Bandung dapat semakin mendekatkan akses informasi mengenai layanan kesehatan yang tersedia di RS Premier Bintaro, khususnya untuk masyarakat yang membutuhkan penanganan masalah tulang belakang,” ujar Chintami.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari edukasi mengenai perkembangan teknologi medis dan pilihan penanganan masalah tulang belakang kepada masyarakat di Bandung dan sekitarnya.***

