KULINER, infobdg.com – Brand kuliner lokal Spill & Bites resmi membuka gerai keduanya di Jalan Purnawarman, Kota Bandung. Setelah sukses dengan cabang pertama di Gegerkalong, kini resto dengan slogan “Tahta Tertinggi Fried Chicken” ini siap menjangkau lebih banyak penikmat ayam goreng khasnya.
PR dan Marketing Spill & Bites, Muhammad Fiqih Aulianto, mengatakan pembukaan cabang ini merupakan langkah ekspansi untuk memperkuat eksistensi brand di kalangan anak muda dan keluarga muda.
“Setelah Gegerkalong, kami buka di Purnawarman, dan cabang ketiga sedang kami siapkan di Tasikmalaya, tepat di sebelah Universitas Siliwangi,” ujar Fiqih saat grand opening, Sabtu (10/5/2025).
Gerai baru ini hadir dengan kapasitas hingga 200 orang dan dirancang multifungsi. Tak sekadar tempat makan, lantai dua resto dilengkapi area panggung, ruang VIP, hingga stasiun radio sebagai wadah aktivitas komunitas.
“Kami ingin tempat ini jadi pusat kegiatan anak muda, bukan cuma buat makan,” katanya.
Salah satu keunggulan Spill & Bites terletak pada sistem produksi yang terintegrasi. Mereka memiliki peternakan sendiri hingga proses pemotongan ayam secara mandiri, untuk memastikan kualitas bahan tetap terjaga.

Menu andalannya, ayam goreng dengan Still Sauce, jadi favorit pelanggan karena kombinasi rasa pedas dan manis yang khas. Selain itu, mereka juga menyajikan burger ayam dan sapi, aneka pastry, hingga minuman unik seperti Still Blue, susu vanila berwarna biru dari bunga telang.
“Kami desain konsepnya agar cocok buat semua umur, terutama kalangan muda dan keluarga. Harganya juga terjangkau, mulai dari Rp17 ribu,” tambah Fiqih.
Untuk penggemar makanan penutup, tersedia pilihan dessert seperti Sour Blue dan kue cokelat Belgia. Bahkan, pengunjung bisa memesan kue ulang tahun dengan harga mulai Rp22 ribu.
Satu menu yang cukup mencuri perhatian adalah Chicken Splash, ayam goreng yang disuntik saus ke dalam daging, menciptakan sensasi rasa yang berbeda.
Ke depan, Spill & Bites menargetkan ekspansi ke kota-kota lain di Indonesia dengan pendekatan berbasis komunitas dan kualitas lokal.
“Kami berasal dari industri peternakan, dan ingin membawa kualitas lokal ini ke industri fast food yang lebih kreatif,” pungkas Fiqih.***

