BANDUNG, infobdg.com – Kata “Julukan” menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki pengertian suatu nama atau panggilan yang didalamnya mengandung unsur keistimewaan. Tidak hanya panggilan pada orang saja, julukan juga bisa ditujukan bagi benda, ataupun kota.

Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia, memiliki beberapa julukan yang membuat Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini semakin terkenal. Berikut tiga asal-usulnya julukan yang disematkan untuk Kota Bandung.

Bandung adalah Paris Van Java

Dalam pengertian umumnya, julukan ini mengartikan bahwa Kota Bandung seperti Kota Paris, namun berada di pulau Jawa. Mengapa bisa memiliki julukan tersebut? Hingga saat ini sebenarnya tidak bisa dibuktikan 100% kebenarannya kenapa Bandung mendapatkan julukan Paris Van Java. Hanya saja beberapa sumber menyebutkan, kata Paris Van Java terucap ketika zaman penjajahan Belanda.

Dikutip dari tulisan Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, sebutan “Bandoeng Parijs van Java” mulai terkenal sejak tahun 1920-an. Ini dibuktikan dengan saat itu bahwa Bandung mulai membangun perumahan yang bergaya arsitektur Eropa. Beberapa perumahannya berlokasi di sekitaran Andir, Jl Padjajaran, Jl Riau depan Oranjeplein (Taman Pramuka), Kosambi, Jl Cihapit, dan sekitar Gedung Sate.

Di buku tersebut juga mengatakan, bahwa pada saat itu sering ada pasar malam Jaarbeurs yang menjadi tempat wisata untuk orang Eropa yang tinggal di sekitaran Bandung.
Nah di pasar malam tersebut, biasanya sering terlihat dan terdengar kata “Bandoeng Parijs van Java”. Kata-kata tersebut juga diucapkan oleh seorang pemilik toko meubel di Jl Braga, yang bernama Tuan Roth.

Lain sumber, lain juga informasi yang didapatkan. Dikutip dari website fokusjabar, seorang ahli sejarah asal Universitas Padjajaran, Prof. Dr. H. Nina Herlina Lubis memiliki informasi lain. Sejarahwan tersebut mengatakan, di masa penjajahan Belanda, Jl Braga merupakan salah satu pusat perekonomian yang terus berkembang.

Beberapa toko pakaian yang ada di Jl Braga, menjual berbagai macam pakaian yang diimpor dari kota Paris di Prancis. Hal tersebut memberikan efek pada bidang fashion, yang menjadikan Bandung sebagai kota fashion dan juga kiblat mode, seperti di Paris.
Sejak tahun 1920-1925, “Paris van Java” mulai melekat sebagai julukan dari Kota Bandung.

Bandung Kota Kembang

Secara mudahnya, hampir semua orang sudah mengetahui pengertian kembang adalah bunga atau tanaman yang cantik. Sehingga jika disimpulkan, Bandung adalah kota bunga.
Bandung bisa memiliki julukan kota kembang, karena dahulu Bandung terkenal akan rindangnya pepohonan, bunga yang tumbuh di penjuru kota, serta taman yang hijau.
Tetapi julukan tersebut hadir setelah Bandung ditetapkan sebagai kota dan ditanami berbagai jenis pohon seperti sekarang.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1896, Bandung yang masih berupa desa dan dipenuhi hutan, diusulkan sebagai tempat pertemuan dari Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (dalam bahasa Belanda, Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters).
Salah satu panitia pertemuan tersebut, Meneer Jacob, mendapat saran dari Meneer Schenk untuk memeriahkan suasana dengan mendatangkan Noni Indo-Belanda berparas cantik.Hingga akhirnya para peserta yang merupakan pengusaha perkebunan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur itu merasa ‘senang’ akan pertemuan tersebut.

Mereka kemudian mengucapkan “De Bloem der Indische Bergsteden” yang memiliki arti “Bunganya Kota Pengunungan di Hindia Belanda”. Selepas pertemuan ini, ‘Bunga’ dari Bandung semakin terkenal ke berbagai penjuru daerah. Hingga akhirnya Bandung dikenal sebagai kota kembang.

Kembali pada Haryoto Kunto, dari buku Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, ia menuliskan bahwa kata kembang pada “Bandung Kota Kembang” mengartikan kembang dayang yang juga memiliki arti pekerja seks komersial. Hal ini berkaitan dengan Bandung yang hanya akan ‘dirias’ ketika menyambut pejabat negara atau tamu kenegaraan dari luar negeri pada saat itu. Istilah yang sedikit nyeleneh ini akhirnya disebarkan oleh beberapa orang.

Bandung Lautan Api

Julukan ini muncul ketika Kota Bandung pernah ‘dibumihanguskan’ oleh warganya sendiri dengan tujuan supaya penjajah tidak bisa menduduki kawasan Bandung lagi. Peristiwa pembakaran yang dilakukan oleh kurang lebih sekitar 200.000 warga Bandung dan Tentara Republik Indonesia ini terjadi pada tanggal 23 Maret tahun 1946.

Ide ‘pembakaran’ wilayah Bandung ini didapatkan setelah diadakan musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan (MP3) di Jakarta. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion yang saat itu merupakan Komandan Divisi III TRI (Tentara Republik Indonesia) mengumumkan hasil musyawarah dan juga memerintahkan rakyat untuk mengungsi atau keluar dari Kota Bandung. Bukan tanpa alasan, instruksi pembakaran ini dikeluarkan supaya tentara sekutu tidak bisa menggunakan Kota Bandung sebagai pangkalan strategis militer.

Istilah Bandung Lautan Api pertama kali muncul dari koran Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946. Saat itu wartawan Suara Merdeka, Atje Bastaman, menulis berita dengan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Tetapi karena terbatasnya tempat untuk menulis judul tersebut, akhirnya disingkat menjadi “Bandoeng Lautan Api”.

Atje Bastaman juga saat itu menyaksikan pemandangan Kota Bandung yang terbakar dan memerah sepanjang daerah Cicadas sampai Cimindi dari bukit Gunung Leutik di Pameungpeuk, Garut.

Di luar dari tiga julukan yang terkenal tersebut, sebenarnya Kota Bandung masih banyak memiliki julukan. Seperti Bandung kota fashion, Bandung kota wisata, Bandung surganya kuliner, dan masih banyak lagi. Tetapi yang terkenal akan unsur sejarah di dalamnya, lebih kepada tiga julukan di atas.

Seperti apapun julukannya, yang terpenting untuk Wargi Bandung saat ini adalah selalu mencintai Kota Bandung setulus hati.

Komentar

Total Komentar