BANDUNG, infobdg.com – Kodam III Siliwangi bersama Kepolisian Daerah Jawa Barat dan Banten menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri pada Selasa (12/1) pagi, di Graha Tirta Siliwangi, Jalan Lombok no 9 Bandung.

Rapim dihadiri oleh Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Tri Suwandono, Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Kapolda Banten, Irjen Pol Tomsi Tohir,  Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, serta segenap jajaran TNI-Polri se-Jawa Barat dan Banten.

Dalam sambutannya, Pangdam III Siliwangi, Mayjen Tri Suwandono, menegaskan agar di zaman ini TNI harus melek teknologi. Hal tersebut merupakan imbauan langsung dari Presiden Indonesia. Untuk itu, dalam sesi Rapim TNI-Polri ini, Mayjen TNI Tri Suwandono menampilkan sebuah video yang menunjukkan ancaman bagi kemanan bangsa, yakni terciptanya alat perang canggih yang dapat menembak dengan cara mendeteksi wajah manusia.

“Sekarang ini ada alat perang baru yang dapat menembak langsung dengan cara mendeteksi wajah manusia,” kata Mayjen Tri Suwandono, dalam sambutannya di acara Rapim TNI-Polri, Selasa (12/2), di Graha Tirta Siliwangi.

Mayjen Tri Suwandono menambahkan, alat perang tersebut merupakan salah satu kemajuan teknologi yang harus di antisipasi karena sangat berbahaya.

Selain itu, Mayjen Tri Suwandono pun sempat membahas sebuah teknologi yang saat ini banyak digunakan untuk kebutuhan pengambilan gambar jarak jauh, yakni drone. Menurutnya, drone ini juga cukup berbahaya apabila digunakan untuk tujuan perang. “Drone bisa menembak dengan sasaran terpilih, dengan di gerakan oleh smartphone,” ungkapnya.

Teknologi semakin canggih, banyak alat-alat yang kini bisa digunakan untuk kebutuhan perang. Mayjen Tri Suwandono menyebutkan teknologi lain yang sama berbahayanya, yakni high tech kamuflase. High tech kamuflase ini berupa kain yang dapat menyerupai alam disekitarnya, dan sudah dikembangkan di Jepang.

“Ada juga teknologi baru namanya high tech kamuflase, ini berupa kain yang bisa menyerupai alam sekitarnya, dan teknologi tersebut sudah dikembangkan di Jepang,” jelasnya.

Terakhir, Mayjen Tri Suwandono mengatakan, alat perang yang memanfaatkan teknologi canggih saat ini adalah senjata yang dapat di buat oleh 3D printing. Senjata jenis ini dapat dibuat oleh plastik yang keberadaannya tidak akan terdeteksi oleh metal detector.

Teknologi-teknologi berbahaya seperti ini harus dicegah. Mayjen Tri Suwandono menegaskan bahwa Indonesia harus berupaya melakukan strategi penangkalan. “Kita harus membuat strategi penangkalan. Kita harus bisa mengikuti, karena teknologi ini tidak bisa dicegah,” pungkasnya.

Selain teknologi dalam ranah alat perang, teknologi informasi saat ini pun bisa menjadi ancaman. Contohnya dalam hal ini adalah media sosial yang dapat menyebarkan berita-berita bohong.

“Kemudian media sosial, ini sangat menggangu kita. Kita berbuat benar-benar tapi dengan media sosial dihembuskan ketidakbenarannya atau hoaks,” kata Mayjen Tri Suwandono.

Untuk itu, Mayjen Tri Suwandono meminta kepada seluruh TNI-Polri agar bersama-sama bersinergi dalam mewaspadai kemajuan teknologi dan media sosial untuk menjaga keamanan NKRI.

Komentar

Total Komentar