Dari Doel Sumbang hingga Nining Meida, ‘Lestari Tradisi: Bandung 1990’ Rayakan Kejayaan Seni Sunda

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Pagelaran Lestari Tradisi: Bandung 1990 menghadirkan perpaduan kesenian tradisional Sunda dan budaya populer di Bumi Sangkuriang, Bandung, Sabtu (17/10). Kegiatan yang digelar Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation ini menjadi upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.

Acara tersebut melibatkan seniman lokal dan berbagai sanggar kesenian melalui pertunjukan seni, lomba kesenian, serta bazar kuliner dan kerajinan khas Sunda.

Bandung dipilih karena memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia. Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, kota ini menjadi salah satu pusat perkembangan Pop Sunda, yang memadukan kesenian tradisional dengan budaya populer.

Perkembangan tersebut ditandai dengan populernya Tari Jaipong karya Gugum Gumbira serta lagu-lagu berbahasa Sunda yang mendapat tempat di tengah masyarakat.

Pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, Happy Salma, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat kembali mengenali identitas budayanya.

“Kadang-kadang kebenaran atau sesuatu yang bagus itu dianggap penting dan eksis berdasarkan dari dia viral atau tidak. Tetapi kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana,” ujar Happy.

Ia menambahkan, Lestari Tradisi menjadi bentuk apresiasi terhadap para seniman yang terus menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional.

“Acara ini menjadi ruang pengingat untuk menoleh kembali pada kompas kehidupan kita, dari mana kita berasal, agar kita tidak gagap dalam melangkah menghadapi masa depan,” katanya.

Press Conference Lestari Tradisi: Bandung 1990 di Bumi Sangkuriang, Sabtu (17/10)

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan pelestarian budaya perlu dilakukan dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati tradisi secara langsung.

Menurut dia, kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional menyimpan cerita serta nilai yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui Lestari Tradisi: Bandung 1990, penyelenggara berharap masyarakat dapat berkumpul, menikmati beragam pertunjukan, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Pesta Rakyat yang menghadirkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Bandung dan sekitarnya. Pengunjung dapat menemukan sejumlah kuliner khas Sunda, seperti kupat tahu, surabi, mi kocok, cuanki, dan es campur.

Bazar tersebut juga menghadirkan berbagai produk kerajinan dan fesyen, mulai dari batik, kain tenun, pernak-pernik bertema angklung, hingga aromaterapi dan jamu tradisional.

Selain bazar, pengunjung disuguhi penampilan dari seniman dan sanggar lokal. Panggung utama pada malam hari menghadirkan sejumlah nama, antara lain Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, Candil, Dewi Gita, Yukie Pas Band, Ebith Beat A, Dira Sugandi, Ujang Darso, dan Rehan Darso.

Sejumlah kelompok seni juga turut tampil, di antaranya Saung Angklung Udjo, Jugala Jaipongan, SambaSunda, dan Studio Tari Indrawati Lukman.

Pertunjukan tersebut menampilkan berbagai bentuk kesenian Sunda, termasuk Tari Topeng Tarung oleh Dewi Gita bersama Riyana Rosilawati serta Jaipongan Tari Alas Grombyang oleh Sanggar Jugala dengan iringan SambaSunda.

Lagu-lagu karya Darso juga dibawakan secara medley oleh Candil, Yukie Pas Band, Ujang Darso, dan Rehan Darso. Rangkaian acara dilengkapi lomba kesenian yang melibatkan sejumlah sanggar, dengan penilaian dari praktisi dan pelaku seni, termasuk Renitasari Adrian, Happy Salma, Denny Chandra, Ismet Ruchimat, dan Indrawati Lukman.

Di luar pagelaran tersebut, Happy Salma juga menggarap serial dokumenter berjudul Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya) bersama rumah produksi Puri Aksara, dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Serial yang terdiri dari tiga episode dengan durasi maksimal 15 menit itu mengangkat kisah para penjaga tradisi di wilayah Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ceritanya menelusuri keterampilan menenun kain Futus, membuat perhiasan tradisional, hingga memainkan dan mewariskan musik tradisi.

Serial tersebut melibatkan Felix K. Nesi sebagai penulis skenario sekaligus produser dan Ony W. Pahlevi sebagai produser. Dokumenter ini dijadwalkan tayang melalui kanal YouTube Indonesia Kaya mulai Senin (19/10).

Masyarakat yang ingin menyaksikan Lestari Tradisi: Bandung 1990 dapat membeli tiket seharga Rp 200.000 melalui situs tiket.titimangsa.com. Pengunjung juga dianjurkan mengenakan pakaian atau aksesori bernuansa tradisional sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Sunda.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat