BANDUNG, infobdg.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengecam keras insiden penyerangan terhadap rombongan Akademi Persib di rest area wilayah Batang, Jawa Tengah. Farhan memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akan berkoordinasi dengan kepolisian dan manajemen Persib untuk mengusut kasus tersebut sekaligus menyiapkan mekanisme perlindungan khusus bagi para pemain muda.
Farhan mengaku sangat marah mendengar insiden yang menimpa para pemain akademi Persib tersebut. Ia menegaskan memiliki ikatan emosional dengan pembinaan sepak bola usia muda di Persib karena turut menginisiasi berdirinya Diklat Persib sejak 2013, yang kemudian berkembang menjadi Akademi Persib.
“Saya betul-betul sangat marah mendengar hal ini. Saya akan pastikan bahwa kepolisian di Jawa Tengah melakukan pengusutan bersama dengan manajemen Persib. Kami akan pastikan ada pengusutan pelanggaran pidana terhadap hal ini,” ujar Farhan.
Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap rombongan akademi tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Pemerintah daerah, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan warga, termasuk para atlet muda yang sedang menjalani proses pembinaan dan membawa nama Kota Bandung dalam kompetisi sepak bola.
Farhan menegaskan, Pemkot Bandung juga akan memberikan perlindungan khusus kepada talenta-talenta sepak bola muda di Kota Bandung. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah berkomunikasi langsung dengan para orang tua pemain untuk membahas aspek keselamatan selama mengikuti pertandingan di luar kota.
“Saya akan menemui para orang tua untuk memastikan bahwa Pemerintah Kota Bandung memiliki kewajiban untuk melindungi seluruh warga Bandung dari tindakan kekerasan, apalagi ancaman dan intimidasi,” katanya.
Pemkot Bandung Siapkan Mekanisme Pengamanan
Selain mendorong proses hukum, Farhan menyoroti perlunya mekanisme perlindungan yang lebih terstruktur bagi tim akademi Persib ketika menjalani pertandingan tandang.
Ia menyebut tim profesional atau tim utama Persib telah memiliki mekanisme tersendiri dalam menjalani pertandingan di luar kota. Namun, sistem perlindungan serupa dinilai perlu dibangun secara khusus untuk tim akademi yang diperkuat para pemain usia muda.
“Nanti kami akan berkomunikasi dengan Persib untuk mengetahui jadwal pertandingan ke luar kota, khusus untuk akademi. Kalau tim A, tim profesional, tim inti, sudah punya mekanisme sendiri. Kalau ini memang kelihatannya belum ada mekanisme, kita akan bangun sebuah mekanisme untuk perlindungan,” tutur Farhan.
Koordinasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat aspek keamanan perjalanan, pendampingan, dan perlindungan para pemain muda saat mengikuti kompetisi di luar daerah.
Pandu Persada Ceritakan Detik-Detik Penganiayaan
Sementara itu, Pandu Persada, ofisial yang menjadi korban penganiayaan dalam insiden tersebut, menceritakan situasi yang dialaminya ketika rombongan berada di rest area.
Pandu menuturkan, dirinya sempat diminta melepas baju yang dikenakannya. Ia mengaku berusaha menuruti permintaan tersebut, meskipun mengalami kesulitan saat mencoba melepaskan pakaian.
“‘Buka baju.’ Oh, berarti mereka enggak suka ada orang yang pakai baju ini. Oke, ya sudah, saya coba lepas, cuma agak sulit ditarik,” ujar Pandu dalam kesaksiannya.
Ia juga mengaku mengalami luka berupa benjolan di salah satu bagian kepala setelah diduga dipukul menggunakan tangan. Menurut Pandu, kejadian itu berlangsung di area samping bus.
“Ada luka benjolan sebelah sini. Itu dipukul kayaknya sama tangan,” tuturnya.
Pandu turut mengingat percakapan dengan orang-orang yang menghampiri rombongan. Ia mengatakan sempat ditanya dengan nada konfrontatif, kemudian menjelaskan bahwa bus tersebut membawa anak-anak.
“Ada dialog, ‘Lo apa, Bang? Lo apa, Bang?’ gitu. Saya jawab, ‘Ini anak-anak kecil.’ Tapi mereka sudah bodo amat, sudah enggak suka aja gitu, sambil ditarik-tarik,” kata Pandu.
Sejumlah Orang Disebut Sudah Berada di Lokasi
Dalam kesaksiannya, Pandu juga menjelaskan bahwa sejumlah orang yang diduga terlibat sudah berada di bawah ketika rombongan turun dari bus. Menurut dia, orang-orang tersebut bukan baru turun setelah melihat para pemain dan ofisial keluar dari kendaraan.
Terkait identitas kelompok yang berada di lokasi, Pandu menyebut dirinya sempat melihat seseorang mengenakan kaus putih dengan tulisan yang, menurut informasi yang ia ingat dari pelatih, bertuliskan “Jakartans”. Namun, ia mengaku tidak dapat membaca tulisan pada kaus tersebut dengan jelas.
“Pinjam kata pelatih, pakai kaus putih sama tulisannya ada Jakartans. Saya lihat baju putihnya, tapi tulisannya saya enggak terlalu jelas,” ungkapnya.
Kesaksian tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu didalami dalam proses penyelidikan. Identitas individu maupun kelompok yang terlibat tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan saksi dan bukti pendukung oleh aparat penegak hukum.

