KABUPATEN BANDUNG, infobdg.com – Perbaikan Jembatan Munjul 2 di Jalan Raya Laswi, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, memicu kemacetan yang mengganggu aktivitas masyarakat. Untuk mengurai antrean kendaraan, Satlantas Polresta Bandung bersama Dinas Perhubungan menerapkan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup.
Pekerjaan jembatan menyebabkan penyempitan jalan sehingga kendaraan dari kedua arah harus melintas secara bergantian. Kondisi tersebut membuat pengendara harus mengantre, bahkan sebagian warga mengaku terjebak kemacetan hingga berjam-jam.
Wakil Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Bandung, AKP Agus Budi, mengatakan pengaturan arus dilakukan dengan menyesuaikan pola mobilitas masyarakat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja maupun sekolah.
“Pada pagi hari kami adakan percepatan dari desa menuju ke kota yang akan berangkat kerja dan berangkat sekolah. Di saat sore, tentunya kami akan kebalikannya,” ujar Agus, dilansir dari ANTARA News Jawa Barat, Rabu (14/10).
Menurut Agus, petugas juga telah mengarahkan pengendara untuk menggunakan jalur alternatif. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mengurangi kepadatan karena akses pengalihan melewati kawasan permukiman dengan kondisi jalan yang relatif sempit.
“Jalur alternatif sudah kami arahkan ke sana. Tetapi memang alternatif itu melewati kampung. Sehingga pihak pengendara merasa sempit juga, jadi lebih memilih baik menunggu di jalur utama,” kata Agus.

Dalam skema yang diterapkan, kendaraan dari arah desa menuju kota diprioritaskan pada pagi hari untuk mendukung mobilitas warga yang bekerja dan bersekolah. Sementara pada sore hari, prioritas diberikan kepada kendaraan dari arah kota menuju desa.
Agus meminta pengendara roda dua maupun roda empat tetap bersabar dan mengikuti arahan petugas selama proses perbaikan berlangsung. Ia menilai pembangunan tersebut diperlukan untuk kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.
“Memang pada saat dibangun akan menjadikan permasalahan, tetapi kalau sudah selesai akan menjadi kebaikan semuanya,” ujar Agus.
Kemacetan di sekitar Jembatan Munjul 2 sebelumnya memicu aksi protes dari warga dan pelajar yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat (GEMA) Kabupaten Bandung pada Senin (12/10).
Koordinator aksi GEMA Kabupaten Bandung, Abi Muhamad Rafli, mengatakan kemacetan telah menghambat aktivitas masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Kami anak muda asli Kabupaten Bandung merasa resah dengan kondisi kemacetan yang terjadi karena perbaikan Jembatan Munjul 2. Kami sering terlambat ke kampus, sekolah, maupun tempat kerja,” kata Abi, dilansir dari Jabar Ekspres, Senin (12/10).
Abi menyebut pekerjaan perbaikan yang telah berlangsung lebih dari dua bulan tetapi belum rampung menambah keresahan warga. Ia mengaku pernah terjebak kemacetan hingga dua jam sebelum tiba di rumah.
Dalam aksi tersebut, GEMA menyampaikan tiga tuntutan. Pertama, mendesak kontraktor mempercepat penyelesaian perbaikan jembatan. Kedua, meminta Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jawa Barat melakukan pengawasan serta audit terhadap kontraktor pelaksana. Ketiga, menuntut keterbukaan dokumen publik terkait pengerjaan proyek.
Keluhan serupa juga disampaikan salah satu warga, Chandra (30), yang mengaku beberapa hari terlambat masuk kerja akibat kepadatan lalu lintas.
“Ya, harus berangkat dua jam lebih awal dari biasanya, padahal perjalanan ke tempat kerja normalnya hanya 30 menit,” keluh Shania.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak perbaikan jembatan tidak hanya dirasakan pengguna jalan yang melintas, tetapi juga warga yang bergantung pada kelancaran akses untuk bekerja.
Warga berharap pengerjaan Jembatan Munjul 2 segera dituntaskan. Selain percepatan proyek, pengaturan lalu lintas yang konsisten selama pekerjaan berlangsung juga dinilai penting agar kemacetan tidak terus menghambat aktivitas masyarakat di kawasan Baleendah dan sekitarnya.***

