AKAR Jabar Siapkan Food Hub, Satukan Restoran Legendaris hingga Kuliner Kekinian Bandung

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Jawa Barat menyiapkan sejumlah program dalam kepengurusan periode kedua, salah satunya menghadirkan destinasi kuliner baru berupa Food Hub yang akan mengumpulkan restoran-restoran legendaris dan ikon kuliner Kota Bandung dalam satu kawasan. Ketua AKAR Jawa Barat periode 2026–2031, Arif Maulana, mengatakan Food Hub tersebut dirancang bukan sekadar sebagai pusat kuliner, tetapi juga menjadi destinasi wisata baru yang mempertemukan pelaku usaha kuliner, wisatawan, komunitas, hingga masyarakat.

Menurut Arif, Food Hub akan memiliki komposisi restoran yang beragam. Sekitar 50 persen diisi restoran legendaris, 25 persen restoran yang menjadi ikon Kota Bandung, dan 25 persen sisanya merupakan restoran kekinian. Konsep tersebut diharapkan dapat menghadirkan pengalaman kuliner yang lengkap sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Bandung kepada wisatawan.

Selain area kuliner, Food Hub juga direncanakan memiliki amphitheater yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan budaya maupun aktivitas komunitas Bandung. Kawasan tersebut juga akan dilengkapi kantong parkir dengan kapasitas yang memadai, termasuk untuk bus wisata, sehingga diharapkan dapat mendukung kunjungan wisatawan dalam jumlah besar.

Program tersebut menjadi salah satu fokus AKAR Jawa Barat dalam periode kepengurusan 2026–2031. Arif menilai industri restoran dan kafe tidak hanya perlu berkembang dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki peran dalam memperkuat ekosistem pariwisata Jawa Barat.

Bandara Husein Dibuka Kembali, Jadi Angin Segar bagi Industri Kuliner

Kembali beroperasinya Bandara Husein Sastranegara juga dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap industri restoran dan perhotelan di Bandung. Arif optimistis akses penerbangan yang semakin terbuka akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung dan Jawa Barat.

Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut diyakini akan turut berdampak terhadap pendapatan pelaku usaha restoran, kafe, maupun hotel, khususnya bisnis yang memiliki positioning sebagai bagian dari destinasi pariwisata atau berada di jalur dan kawasan wisata.

Menurutnya, keberadaan akses transportasi yang lebih mudah akan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya tarik Bandung sebagai destinasi wisata, termasuk wisata kuliner.

Industri Restoran Terus Beradaptasi Pascapandemi

Sementara itu, kondisi industri restoran setelah pandemi Covid-19 dinilai menunjukkan perkembangan yang beragam. Arif menyebut pandemi menjadi pemicu perubahan besar dalam industri kuliner, terutama dalam hal kemampuan pelaku usaha beradaptasi dengan kondisi new normal.

Sebagian restoran tidak mampu bertahan menghadapi perubahan perilaku konsumen dan kondisi bisnis setelah pandemi. Namun, di sisi lain, banyak pula restoran dan kafe yang berhasil beradaptasi, bahkan melakukan ekspansi.

Menariknya, sejumlah restoran dan kafe yang baru lahir setelah pandemi juga mampu berkembang dan menemukan pasar masing-masing. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri kuliner terus mengalami perubahan dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha yang mampu membaca kebutuhan konsumen.

Dorong Wisata Kuliner yang Muslim Friendly

Selain pengembangan destinasi kuliner, AKAR Jawa Barat juga melihat potensi besar Bandung dan Jawa Barat dalam mengembangkan konsep Muslim-friendly tourism, khususnya wisata kuliner. Karakter masyarakat Jawa Barat yang mayoritas Muslim menjadi salah satu modal utama dalam pengembangan segmen tersebut.

Dari sisi fasilitas ibadah, akses masyarakat maupun wisatawan terhadap masjid dan mushala di Bandung relatif mudah. Bahkan, sejumlah restoran telah menyediakan mushala sebagai salah satu fasilitas untuk pengunjung. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai tidak hanya menjadi bentuk pelayanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi restoran dalam memberikan kenyamanan kepada konsumen.

Meski demikian, Arif menilai masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki, terutama terkait kepastian informasi mengenai makanan nonhalal. Ia mendorong agar pemerintah dapat segera memperjelas pelabelan restoran maupun pedagang kaki lima yang menyediakan produk nonhalal.

Menurutnya, masih terdapat sejumlah tempat makan yang menyediakan makanan nonhalal, tetapi informasi tersebut belum selalu dikomunikasikan secara jelas kepada pengunjung. Pelabelan yang transparan dinilai penting untuk memberikan kepastian dan rasa aman bagi wisatawan Muslim ketika memilih tempat makan.

Di sisi lain, pengembangan wisata halal di Bandung dan Jawa Barat dinilai tidak menghadapi kendala besar karena mayoritas penduduknya beragama Islam dan fasilitas ibadah relatif mudah ditemukan. Tantangan justru terdapat pada ketersediaan fasilitas yang proporsional di sejumlah pusat keramaian.

Arif mencontohkan beberapa pusat perbelanjaan yang memiliki kapasitas mushala terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah pengunjung. Karena itu, ia menilai diperlukan intervensi kebijakan pemerintah untuk memastikan fasilitas ibadah di ruang-ruang publik mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dengan berbagai program tersebut, AKAR Jawa Barat berharap industri restoran dan kafe tidak hanya menjadi bagian dari sektor ekonomi kreatif, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem pariwisata Jawa Barat. Rencana Food Hub, optimalisasi akses wisatawan melalui Bandara Husein Sastranegara, hingga penguatan konsep kuliner Muslim-friendly menjadi bagian dari upaya mendorong Bandung sebagai destinasi kuliner yang semakin kuat dan kompetitif.

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat