Farhan Ingin Sopir Angkot Bandung Digaji, Tak Lagi Kejar Setoran

Berita Lainnya

BANDUNG, infobdg.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan ingin menghapus sistem setoran harian bagi sopir angkot. Ia mendorong skema penggajian tetap agar pengemudi tak lagi harus berebut penumpang demi memenuhi target pendapatan.

Rencana tersebut menjadi bagian dari pembenahan transportasi publik melalui pengembangan sistem integrasi angkot bersama Institut Teknologi Bandung (ITB). Program ini mulai diuji coba untuk meningkatkan kemudahan akses masyarakat sekaligus menghubungkan angkot dengan transportasi massal.

Farhan mengatakan, pengembangan sistem tersebut diarahkan untuk menjadikan angkot sebagai transportasi pengumpan (feeder) bagi moda transportasi massal. Selain itu, angkot diharapkan menjadi alternatif transportasi bagi anak-anak, khususnya pelajar yang hendak berangkat ke sekolah.

Menurutnya, pembenahan angkot tidak cukup hanya dengan mengatur rute dan meningkatkan layanan. Pemerintah juga perlu mengubah model bisnis yang selama ini membuat pengemudi harus mengejar setoran setiap hari.

“Bisnis model yang ideal adalah sopir angkotnya tidak mengejar setoran. Sopir angkotnya harus kita gaji. Ini yang kelihatannya masih belum ditemukan,” kata Farhan saat memberikan sambutan dan melepas program prioritas Angkot to School di Balai Kota Bandung, Jumat (6/11).

Farhan menjelaskan, sistem integrasi angkot bersama ITB saat ini masih dalam tahap beta atau uji coba. Melalui tahap tersebut, Pemkot Bandung ingin mengetahui berbagai kekurangan sebelum sistem diterapkan secara lebih luas.

Ia menargetkan pembenahan sistem angkot dapat diselesaikan sebelum Bus Rapid Transit (BRT) beroperasi di Kota Bandung. Uji coba harus dimanfaatkan untuk memastikan kedua moda transportasi tersebut nantinya bisa terintegrasi dengan baik.

“Jangan sampai BRT sudah jadi dan beroperasi, tetapi sistem ini masih percobaan. Mumpung BRT belum operasional kita manfaatkan waktu untuk memperbaiki sistemnya,” jelasnya.

Pemkot Bandung juga berencana mengintegrasikan informasi perjalanan angkot dengan Google Maps. Nantinya, masyarakat bisa mengetahui pilihan angkot menuju lokasi tujuan hingga perkiraan waktu kedatangan kendaraan.

Untuk mendukung sistem tersebut, setiap sopir angkot diharapkan menggunakan aplikasi yang terhubung dengan sistem informasi perjalanan. Dengan begitu, posisi kendaraan dapat diketahui secara langsung oleh calon penumpang.

“Kalau bisnis modelnya benar, semua aplikasi ini akan terhubung dengan Google. Setiap sopir angkot memegang aplikasinya. Jadi, ketika masyarakat membuka Google Maps dan memilih tujuan akan terlihat angkot yang tersedia serta perkiraan waktu kedatangannya,” ungkap Farhan.

Selain mengubah sistem operasional, Pemkot Bandung juga menyoroti persoalan keamanan angkot. Farhan menyebut pemerintah harus memastikan transportasi publik aman digunakan, terutama oleh anak-anak, perempuan, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.

Ia mengakui, kekhawatiran orang tua terhadap keamanan anak saat menggunakan angkot masih menjadi salah satu kendala. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua memilih mengantar anak menggunakan kendaraan pribadi yang turut menambah kepadatan lalu lintas.

“Pemerintah harus memastikan rasa aman itu hadir. Kalau masyarakat masih meragukan keamanannya, tugas kami adalah meningkatkan keamanan agar orang tua tidak lagi ragu membolehkan anak-anaknya naik angkot,” tuturnya.

Melalui perubahan sistem pengelolaan, integrasi informasi perjalanan, dan peningkatan keamanan, Pemkot Bandung berharap angkot dapat kembali menjadi pilihan transportasi masyarakat sekaligus mendukung pengoperasian BRT di Kota Bandung.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat