BANDUNG BARAT, infobdg.com – Kematian massal ikan kembali menghantui pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebanyak 22,12 ton ikan mas dilaporkan mati dalam kurun 31 Oktober hingga 2 November 2026 akibat penurunan kualitas air yang dipicu perubahan cuaca ekstrem dan fenomena upwelling.
Peristiwa tersebut tersebar di tujuh titik keramba. Dampak terparah terjadi di Blok Ugrem, Kecamatan Cililin, dengan jumlah ikan mati mencapai 15 ton. Sementara itu, kematian juga tercatat di Blok Cikadu sebanyak tiga ton, serta Blok Bongas dan Blok Balong masing-masing dua ton.
Di wilayah lainnya, ikan mati tercatat di Blok Pakuwon, Desa Jati, sebanyak 50 kilogram; Blok Cijati, Desa Saguling, 30 kilogram; dan Blok Mariuk, Desa Girimukti, sekitar 40 kilogram. Data tersebut dihimpun dari laporan pengepul dan pembudidaya ikan. ANTARA News +2
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan kematian ikan dipengaruhi hujan yang turun terus-menerus. Limpasan air dari sungai diduga membawa material limbah menuju waduk sehingga air menjadi keruh, kualitas perairan menurun, dan kadar oksigen terlarut berkurang.
“Berdasarkan laporan yang diterima, total ada 22,12 ton ikan yang mati akibat upwelling,” kata Wiwin, dilansir dari ANTARA, Rabu (4/11).
Fenomena upwelling atau umbalan merupakan pergerakan massa air dari lapisan bawah menuju permukaan. Perubahan kondisi air tersebut dapat membawa material yang mengendap di dasar waduk sekaligus memengaruhi suhu dan ketersediaan oksigen bagi ikan.
Dampak kejadian ini juga dirasakan langsung oleh pembudidaya. Salah seorang peternak KJA, Teten Buldani Hayat, mengaku kehilangan sekitar lima ton ikan dalam beberapa kejadian kematian massal pada Oktober lalu. Kerugian tersebut diperkirakan mencapai Rp115 juta jika dihitung berdasarkan harga jual normal sekitar Rp23 ribu per kilogram.

Namun, ikan yang masih bertahan terpaksa dijual lebih cepat dengan harga jauh di bawah pasaran. Teten menyebut hasil penjualan ikan tersebut hanya sekitar Rp18 juta karena harga turun menjadi Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
“Kalau dijual dengan harga normal, nilainya bisa sekitar Rp120 juta. Kemarin justru hanya terjual Rp18 juta karena harganya jatuh,” ungkap Teten.
Untuk mengantisipasi kematian yang lebih luas, Dispernakan KBB meminta pembudidaya segera memisahkan ikan yang masih hidup dari bangkai ikan. Ikan yang masih memungkinkan untuk dipelihara dapat dipindahkan ke wadah terpisah atau segera dipanen.
Bangkai ikan juga harus segera diangkat dari area keramba agar tidak membusuk dan memperburuk pencemaran air. Ikan yang sudah tidak layak konsumsi diminta dikubur jauh dari sumber air maupun permukiman warga.
Wiwin turut mengimbau pembudidaya mengurangi kepadatan ikan melalui panen sebagian, membatasi pemberian pakan menjelang potensi umbalan, serta menghentikan pemberian pakan ketika fenomena tersebut berlangsung.
“Jika memungkinkan, dapat dilakukan pemberian aerasi tambahan di wadah pemeliharaan ikan. Kami mengimbau kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam pengelolaan budidaya ikan,” ujar Wiwin.
Sementara itu, Dispernakan KBB mengingatkan pembudidaya untuk terus memantau kondisi perairan, terutama selama masa peralihan musim. Langkah antisipasi diperlukan karena perubahan cuaca dan penurunan kadar oksigen dapat berdampak cepat terhadap ikan yang dipelihara di dalam keramba.***

